Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1512 tentang Mengangkat tangan saat berdoa minta hujan

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan salah satu adab penting dalam shalat Istisqa (meminta hujan), yaitu imam menghadap kiblat, membalikkan jubah (rida'), dan mengangkat kedua tangan ketika berdoa. Tiga amalan ini dilakukan Rasulullah ﷺ sebagai bentuk kerendahan hati, pengharapan penuh kepada Allah, dan simbol perubahan keadaan. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa amalan ini disunnahkan dan menjadi bagian dari tata cara Istisqa.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 55

وَدْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

Terjemahan: "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i (no. 1512) dari jalur 'Abbad bin Tamim dari pamannya (yaitu 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim al-Anshari, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama hadits seperti Ibnu Hajar dalam Fathul Bari). Hadits serupa juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang lebih lengkap, menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengangkat tangan, menghadap kiblat, dan membalikkan jubah.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa membalikkan jubah saat Istisqa adalah sunnah yang disepakati, dan hikmahnya adalah simbol perubahan keadaan (dari kekeringan menuju hujan).
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa mengangkat tangan saat Istisqa termasuk amalan yang dianjurkan, dan beliau mengutip pendapat Imam asy-Syafi'i bahwa imam mengangkat tangan setinggi mungkin saat berdoa.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengangkat tangan dalam Istisqa, dan ini menunjukkan besarnya kebutuhan hamba kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung tiga amalan utama yang dilakukan Rasulullah ﷺ dalam shalat Istisqa:

1. Menghadap Kiblat (اسْتَقْبَلَ الْقِبْلَةَ)

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa menghadap kiblat saat berdoa Istisqa adalah sunnah, karena kiblat adalah arah terbaik dalam berdoa. Ibnu Hajar menambahkan bahwa ini menunjukkan adab seorang hamba di hadapan Allah, yaitu menghadap ke arah yang paling mulia.

2. Membalikkan Jubah (وَقَلَبَ الرِّدَاءَ)

Membalikkan jubah (rida') adalah amalan khusus dalam Istisqa. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa hikmahnya:

  • Sebagai simbol perubahan keadaan: dari kekeringan menjadi hujan, dari kesulitan menjadi kemudahan.
  • Sebagai bentuk tawadhu' dan pengharapan kepada Allah agar mengubah kondisi kaum Muslimin.
  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa membalikkan jubah dilakukan oleh imam, dan makmum juga mengikuti.

3. Mengangkat Tangan (وَرَفَعَ يَدَيْهِ)

Mengangkat tangan saat berdoa adalah sunnah yang banyak disebutkan dalam hadits-hadits lain. Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa mengangkat tangan adalah salah satu sebab terkabulnya doa, sebagaimana sabda Nabi ﷺ tentang seorang musafir yang mengangkat tangannya ke langit.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

  • Sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa mengangkat tangan dalam Istisqa dilakukan, tetapi tidak terlalu tinggi.
  • Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa mengangkat tangan dilakukan dengan sungguh-sungguh, bahkan hingga terlihat ketiak.
  • Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama dari daftar: asy-Syafi'i, Ahmad, an-Nawawi, Ibnu Hajar) bahwa mengangkat tangan adalah sunnah yang dianjurkan, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang shahih.

Catatan tentang sanad:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i melalui jalur Hisyam bin Abdul Malik, dari Baqiyyah, dari Syu'aib, dari Az-Zuhri, dari 'Abbad bin Tamim, dari pamannya. Para ulama hadits seperti Ibnu Hajar dan Adz-Dzahabi menilai hadits ini hasan, dan memiliki syawahid (penguat) dari riwayat Al-Bukhari dan Muslim.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika, kaum Muslimin di Madinah mengalami musim kemarau yang panjang. Tanah menjadi kering, tanaman mati, dan air semakin sedikit. Mereka datang kepada Rasulullah ﷺ mengadukan keadaan mereka.

Maka Rasulullah ﷺ pun keluar untuk shalat Istisqa. Beliau mengenakan pakaian yang sederhana, berjalan dengan penuh kekhusyukan, lalu shalat dua rakaat. Setelah itu, beliau menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya yang mulia ke langit, dan berdoa dengan penuh kerendahan hati. Beliau juga membalikkan jubahnya, sebagai isyarat bahwa keadaan sedang berubah, dari kering menjadi basah, dari susah menjadi senang.

Tidak lama setelah itu, awan pun datang, dan hujan turun membasahi bumi Madinah. Kaum Muslimin bersyukur kepada Allah atas rahmat-Nya.

(Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa Istisqa bukan sekadar ritual, tetapi sarana untuk kembali kepada Allah dengan penuh tawadhu' dan pengharapan. Sumber: Shahih Al-Bukhari dan Muslim, serta penjelasan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.)

Kesimpulan Praktis

  1. Menghadap kiblat saat berdoa Istisqa adalah sunnah yang dianjurkan.
  2. Membalikkan jubah dilakukan oleh imam dan makmum sebagai simbol perubahan keadaan dan tawadhu' kepada Allah.
  3. Mengangkat kedua tangan saat berdoa adalah sunnah yang memiliki dalil kuat, dan termasuk adab dalam berdoa.
  4. Istisqa adalah ibadah yang menggabungkan shalat, doa, dan adab lahiriah, semuanya ditujukan untuk merendahkan diri di hadapan Allah.
  5. Hendaknya kita meneladani Rasulullah ﷺ dalam berdoa dengan penuh kekhusyukan, bukan hanya dalam Istisqa, tetapi juga dalam doa-doa sehari-hari.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi