Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1508 tentang Shalat istisqa dua rakaat seperti shalat id

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tata cara shalat istisqa (meminta hujan) yang dicontohkan Nabi ﷺ: beliau keluar dengan penampilan sederhana, penuh kerendahan diri, dan merendahkan hati kepada Allah. Beliau duduk di mimbar, lalu berdoa, bertadharru' (merendahkan diri), dan bertakbir tanpa khutbah seperti khutbah Jumat, kemudian shalat dua rakaat seperti shalat Id. Intinya: istisqa adalah ibadah yang sarat ketundukan, doa, dan pengagungan kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam an-Nasa'i dalam Sunan an-Nasa'i, Kitab Istisqa, Bab Duduknya Imam di Atas Mimbar untuk Meminta Hujan (no. 1508), dari jalur Hisham bin Ishaq bin Abdullah bin Kinanah, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas رضي الله عنهما.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan adab meminta hujan dan merendahkan diri kepada Allah:

QS. Al-A'raf [7]: 55

﴿ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ﴾

Terjemahan: "Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas."

QS. Al-An'am [6]: 42

﴿وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُم بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ﴾

Terjemahan: "Dan sungguh, Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri."

Kaitan dengan ulama: Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat ini menunjukkan bahwa musibah seperti kekeringan dan paceklik ditimpakan agar manusia kembali kepada Allah dengan tadharru' (kerendahan diri), taubat, dan doa. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad membahas secara panjang lebar tata cara shalat istisqa Nabi ﷺ dan menyimpulkan bahwa inti ibadah ini adalah tadharru', doa, dan takbir, bukan sekadar ritual formal.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Keluar dengan penampilan bersahaja (mutabadzdzilan).

Ibnu Abbas menyebut Nabi ﷺ keluar dalam keadaan mutabadzdzilan — yakni tidak berhias, tidak memakai pakaian mewah, sederhana. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa makna ini mencakup tidak memakai wangi-wangian dan tidak berdandan, sebagai bentuk perendahan diri di hadapan Allah pada saat memohon sesuatu yang sangat dibutuhkan. Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj (syarah Shahih Muslim) juga menyebutkan bahwa disunnahkan keluar untuk istisqa dengan penampilan sederhana, khusyuk, dan tidak berlebihan.

2. Mutawadhi'an dan mutadharri'an (merendahkan diri dan merendahkan hati kepada Allah).

Ini adalah ruh ibadah istisqa. Ibnu Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ menggabungkan tiga hal: kerendahan penampilan, kerendahan hati, dan doa yang penuh harap. As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tadharru' adalah inti dari doa yang diterima, karena ia menunjukkan kelemahan hamba dan kekuasaan Allah.

3. Duduk di mimbar dan berdoa tanpa khutbah seperti khutbah Jumat.

Ibnu Abbas secara tegas menyatakan: "Beliau tidak menyampaikan khutbah seperti khutbah kalian ini." Ini menunjukkan bahwa istisqa bukanlah Jumat atau Id yang memiliki khutbah dengan dua bagian. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tetap duduk di mimbar, namun isinya adalah doa, tadharru', dan takbir yang berulang-ulang. Sebagian ulama seperti Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa khutbah istisqa tetap ada, namun bukan seperti khutbah Jumat, dan boleh dilakukan sebelum atau sesudah shalat. Imam Abu Hanifah berpendapat khutbah istisqa dilakukan setelah shalat, seperti khutbah Id. Perbedaan ini adalah perbedaan dalam tata cara, bukan dalam pokok ibadah.

4. Shalat dua rakaat seperti shalat Id.

Ini menunjukkan bahwa shalat istisqa adalah shalat dua rakaat dengan takbir, sebagaimana shalat Id. Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa shalat istisqa dilakukan berjamaah, dua rakaat, dan disunnahkan takbir di dalamnya. Ibnu Qayyim menambahkan bahwa Nabi ﷺ shalat dua rakaat lalu berdoa, dan ini adalah sunnah yang tetap.

5. Takbir yang berulang.

Nabi ﷺ terus bertakbir dalam doa istisqa. Ini menunjukkan pengagungan kepada Allah di tengah permohonan. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa takbir dalam istisqa mengingatkan bahwa Allah Maha Besar, dan hamba yang mengakui kebesaran-Nya akan lebih mudah dikabulkan doanya.

Kesimpulan fiqih dari para ulama daftar:

  • Shalat istisqa adalah sunnah muakkadah ketika terjadi kekeringan.
  • Dilakukan dua rakaat berjamaah, seperti shalat Id.
  • Imam duduk di mimbar atau tempat tinggi, lalu berdoa, bertadharru', dan bertakbir.
  • Khutbah istisqa bukan seperti khutbah Jumat; isinya doa dan tadharru'.
  • Disunnahkan keluar dengan penampilan sederhana, tidak berhias, dan penuh kekhusyukan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khattab رضي الله عنه pernah keluar untuk meminta hujan. Ia tidak berlebihan dalam berdoa, tetapi ia mengambil al-Abbas bin Abdul Muththalib رضي الله عنه dan berkata: "Ya Allah, kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu, maka Engkau menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami bertawassul kepada-Mu dengan paman Nabi-Mu, maka turunkanlah hujan kepada kami." Maka Allah pun menurunkan hujan kepada mereka. (Disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari dan Ibnu Katsir dalam kitab sejarahnya.)

Hikmahnya: istisqa bukanlah tentang siapa yang paling tinggi derajatnya, tetapi tentang siapa yang paling merendahkan diri dan paling dekat hatinya kepada Allah. Umar رضي الله عنه menunjukkan adab bahwa dalam meminta hujan, kita mencari perantara yang paling dicintai Allah, bukan yang paling banyak bicara.

Kesimpulan Praktis

  1. Ketika terjadi kekeringan, hendaknya kaum muslimin keluar untuk shalat istisqa dengan penampilan sederhana, tidak berhias, dan penuh kekhusyukan.
  2. Shalat istisqa dilakukan dua rakaat berjamaah, seperti shalat Id, dengan takbir.
  3. Imam duduk di mimbar atau tempat tinggi, lalu berdoa, bertadharru', dan bertakbir — bukan menyampaikan khutbah panjang seperti khutbah Jumat.
  4. Perbanyak tadharru' dan istighfar, karena kekeringan adalah musibah yang mengajak kita kembali kepada Allah.
  5. Jangan berlebihan dalam berhias saat memohon hujan; tunjukkan kerendahan diri di hadapan Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi