Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa gerhana matahari dan bulan adalah tanda kekuasaan Allah untuk mengingatkan hamba-Nya, bukan pertanda kematian atau kelahiran seseorang. Ketika gerhana terjadi, Rasulullah ﷺ segera menuju masjid, shalat dua rakaat bersama jamaah, dan memerintahkan umatnya shalat hingga gerhana berakhir. Peristiwa ini terjadi saat putra beliau, Ibrahim, meninggal, sehingga sebagian orang mengaitkan gerhana dengan kematiannya — dan Nabi ﷺ membantah anggapan itu.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Fushshilat [41]: 37
وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Terjemahan: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu benar-benar hanya kepada-Nya beribadah."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Bakrah (Nufai' bin al-Harits, radhiyallahu 'anhu) dalam Sunan An-Nasa'i no. 1491, Kitab Gerhana. Hadits serupa juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari beberapa sahabat seperti Abu Musa al-Asy'ari dan 'Aisyah radhiyallahu 'anhuma.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya shalat gerhana dan bahwa gerhana bukan sebab kematian seseorang.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa perintah shalat saat gerhana adalah ijma' (kesepakatan) ulama.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa gerhana adalah momen untuk kembali kepada Allah dengan dzikir, doa, dan istighfar.
Penjelasan Rinci
1. Makna umum hadits
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran utama:
- Gerhana adalah tanda kekuasaan Allah. Matahari dan bulan adalah makhluk yang tunduk kepada Allah. Gerhana bukan fenomena yang terjadi karena kelahiran atau kematian seseorang, melainkan tanda agar manusia takut kepada Allah dan kembali kepada-Nya.
- Perintah shalat gerhana. Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk shalat ketika melihat gerhana, hingga gerhana berakhir. Ini menunjukkan betapa pentingnya momen ini sebagai waktu ibadah.
- Bantahan terhadap keyakinan jahiliyah. Orang-orang pada masa itu mengaitkan gerhana dengan peristiwa besar seperti kematian tokoh penting. Nabi ﷺ membantah hal ini secara tegas.
2. Bagaimana ulama memahami hadits ini
- Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa shalat gerhana disyariatkan baik gerhana matahari maupun bulan, dan dilakukan secara berjamaah. Beliau juga menyebutkan bahwa disunnahkan memperbanyak dzikir, doa, takbir, dan sedekah saat gerhana.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menukil bahwa sebagian ulama berbeda pendapat tentang jumlah rakaat dan ruku' dalam shalat gerhana. Namun pendapat yang paling kuat adalah yang sesuai dengan hadits 'Aisyah dalam Shahihain, yaitu dua rakaat dengan dua kali ruku' pada setiap rakaat (empat ruku' total), sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa hikmah gerhana adalah untuk menakut-nakuti hamba agar sadar dari kelalaian, dan bahwa shalat gerhana adalah sunnah muakkadah.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa gerhana mengingatkan manusia akan kelemahan mereka dan kebutuhan mereka kepada Allah, karena benda-benda langit yang tampak besar pun bisa berubah atas perintah Allah.
3. Perbedaan pendapat di kalangan ulama daftar
- Tentang jumlah ruku' dalam setiap rakaat: Imam Malik dan Imam asy-Syafi'i berpendapat dua ruku' per rakaat berdasarkan hadits 'Aisyah. Imam Abu Hanifah berpendapat satu ruku' per rakaat seperti shalat biasa. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah pendapat jumhur (dua ruku' per rakaat) karena hadits 'Aisyah dalam Shahihain lebih shahih dan tegas.
- Tentang khutbah setelah shalat gerhana: Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat ada khutbah, berdasarkan hadits ini dan hadits lainnya. Imam Malik berpendapat tidak ada khutbah. Pendapat yang kuat adalah adanya khutbah karena Nabi ﷺ berkhutbah setelah shalat gerhana sebagaimana disebutkan dalam hadits 'Aisyah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika putra Nabi ﷺ, Ibrahim, meninggal, matahari pun terjadi gerhana pada hari itu. Orang-orang pun berkata, "Gerhana ini terjadi karena kematian Ibrahim." Mendengar hal itu, Nabi ﷺ segera membantah dan menegaskan bahwa matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Beliau justru memerintahkan umatnya untuk shalat, berdoa, dan berdzikir hingga gerhana berakhir.
Dalam riwayat lain dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha (Shahih al-Bukhari), Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
Terjemahan: "Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang. Maka jika kalian melihat itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah."
Hikmahnya: seorang mukmin tidak boleh mengaitkan fenomena alam dengan takhayul atau kepercayaan yang tidak berdasar. Sebaliknya, ia harus menjadikannya sebagai momen untuk mendekat kepada Allah.
Kesimpulan Praktis
- Shalat gerhana adalah sunnah muakkadah yang dilakukan saat gerhana matahari atau bulan, baik sendiri maupun berjamaah.
- Perbanyak ibadah saat gerhana: shalat, doa, dzikir, takbir, istighfar, dan sedekah.
- Jangan mengaitkan gerhana dengan kematian atau kelahiran seseorang — ini keyakinan jahiliyah yang dibantah Nabi ﷺ.
- Segera menuju masjid dan shalat berjamaah ketika gerhana terjadi, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
- Gerhana adalah momen muhasabah — mengingatkan kita akan kelemahan diri dan kebutuhan kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.