Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ ketika terjadi gerhana matahari, beliau shalat gerhana dengan dua raka'at, dan di dalam dua raka'at tersebut beliau melakukan empat kali rukuk (dua rukuk di setiap raka'at) dan empat kali sujud (dua sujud di setiap raka'at, sebagaimana shalat biasa). Ini adalah salah satu bentuk/cara shalat gerhana yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma. Para ulama menjelaskan bahwa shalat gerhana yang paling sempurna adalah dengan dua raka'at, dan di setiap raka'atnya ada dua kali rukuk dan dua kali sujud.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat An-Nasa'i:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Gerhana, Bab "Jenis Lain dari Shalat Gerhana menurut Ibnu Abbas" (no. 1469). Dalam sanadnya terdapat periwayatan dari Az-Zuhri dari Katsir bin Abbas dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma.
Dalil Pendukung dari Hadits Lain:
Hadits ini juga memiliki penguat dari riwayat lain, di antaranya:
- Hadits Aisyah radhiyallahu 'anha dalam Shahih al-Bukhari (no. 1046) dan Shahih Muslim (no. 901), bahwa Nabi ﷺ shalat gerhana dengan dua raka'at, dan di setiap raka'atnya beliau melakukan dua kali rukuk dan dua kali sujud. Dalam riwayat Aisyah disebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca dengan suara keras (jahr) dalam shalat gerhana.
- Hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma dalam Shahih al-Bukhari (no. 1052) dan Shahih Muslim (no. 907), bahwa Nabi ﷺ shalat gerhana dengan dua raka'at, di setiap raka'atnya dua kali rukuk.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait dengan Perintah Shalat dan Mengingat Allah:
Allah Ta'ala berfirman:
فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ الْغُرُوبِ
"Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya)."
(QS. Qaf [50]: 39)
Ayat ini menunjukkan perintah untuk bertasbih dan beribadah kepada Allah pada waktu-waktu yang berkaitan dengan matahari, dan shalat gerhana termasuk ibadah yang dianjurkan ketika terjadi perubahan pada matahari dan bulan.
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (6/190) menjelaskan bahwa shalat gerhana yang paling sempurna adalah dua raka'at dengan dua kali rukuk di setiap raka'atnya. Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Syafi'iyah, Malikiyah, dan Hanabilah.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (2/533) menyebutkan bahwa hadits Ibnu Abbas ini menunjukkan bolehnya shalat gerhana dengan dua rukuk di setiap raka'at, dan ini adalah bentuk yang paling utama.
- Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Umm menjelaskan bahwa shalat gerhana dilakukan dua raka'at, di setiap raka'atnya dua kali rukuk, dan ini berdasarkan hadits-hadits shahih dari Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Para ulama berbeda pendapat tentang tata cara shalat gerhana, namun pendapat yang paling kuat dan didukung oleh banyak hadits shahih adalah:
Pendapat Jumhur Ulama (Syafi'iyah, Malikiyah, Hanabilah):
Shalat gerhana dilakukan dua raka'at, dan di setiap raka'atnya terdapat dua kali rukuk dan dua kali sujud. Rinciannya:
- Takbiratul ihram
- Membaca Al-Fatihah dan surat (dengan suara keras menurut jumhur)
- Rukuk pertama (lama, seperti lamanya membaca surat)
- I'tidal (berdiri kembali)
- Membaca Al-Fatihah dan surat lagi (lebih pendek dari sebelumnya)
- Rukuk kedua (lebih pendek dari rukuk pertama)
- I'tidal
- Sujud dua kali (seperti shalat biasa, dengan thuma'ninah)
- Berdiri untuk raka'at kedua, dan melakukan hal yang sama seperti raka'at pertama
- Tasyahhud dan salam
Ini berdasarkan hadits Aisyah radhiyallahu 'anha yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, serta hadits Ibnu Abbas yang sedang kita bahas ini.
Pendapat Imam Abu Hanifah:
Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan seperti shalat sunnah biasa, yaitu dua raka'at dengan satu rukuk di setiap raka'atnya, tanpa dua rukuk. Namun pendapat ini lemah karena bertentangan dengan hadits-hadits shahih yang menjelaskan dua rukuk di setiap raka'at.
Syaikhul Islam Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' Fatawa (24/257) menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang shalat gerhana yang shahih semuanya menunjukkan dua rukuk di setiap raka'at, dan tidak ada satupun hadits shahih yang menyelisihi hal ini. Beliau menguatkan pendapat jumhur.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Asy-Syarh al-Mumti' (5/181) menjelaskan bahwa shalat gerhana yang sesuai sunnah adalah dua raka'at dengan dua rukuk di setiap raka'at, dan ini adalah pendapat yang benar berdasarkan dalil-dalil yang shahih.
Hikmah dari dua rukuk dalam setiap raka'at:
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad (1/448) menjelaskan bahwa shalat gerhana yang dilakukan Nabi ﷺ dengan dua rukuk di setiap raka'at adalah untuk memperpanjang shalat sebagai bentuk pengagungan kepada Allah ketika terjadi tanda-tanda kebesaran-Nya. Gerhana adalah peristiwa yang menakutkan, sehingga shalatnya diperpanjang dengan rukuk yang banyak.
- Imam Asy-Syafi'i menjelaskan bahwa rukuk kedua di setiap raka'at adalah untuk memperbanyak rukuk sebagai bentuk ibadah yang lebih sempurna ketika terjadi gerhana.
Story Telling
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa pada masa Nabi ﷺ terjadi gerhana matahari. Beliau ﷺ keluar ke masjid, lalu shalat dengan dua raka'at dan di setiap raka'atnya dua kali rukuk. Setelah selesai shalat, beliau ﷺ bersabda:
"إنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ"
"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahiran seseorang. Jika kalian melihat gerhana, maka bersegeralah menuju shalat."
(HR. Al-Bukhari no. 1046 dan Muslim no. 901)
Hikmah dari kisah ini:
- Gerhana bukanlah fenomena alam biasa, tetapi tanda kebesaran Allah yang harus disikapi dengan ibadah, bukan dengan takhayul atau mitos.
- Nabi ﷺ mengajarkan umatnya untuk segera kembali kepada Allah ketika terjadi hal-hal yang menakutkan atau di luar kebiasaan.
- Shalat gerhana adalah ibadah yang disyariatkan dan memiliki tata cara khusus yang diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Kesimpulan Praktis
- Shalat gerhana adalah sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan) yang dilakukan ketika terjadi gerhana matahari atau bulan.
- Tata caranya: dua raka'at, di setiap raka'atnya dua kali rukuk dan dua kali sujud, dengan bacaan yang panjang dan suara yang dikeraskan (menurut jumhur ulama).
- Setelah shalat, disunnahkan untuk berkhutbah/ceramah yang mengingatkan tentang kebesaran Allah, sebagaimana dilakukan oleh Nabi ﷺ.
- Selain shalat, disunnahkan juga untuk memperbanyak doa, istighfar, dzikir, dan sedekah ketika terjadi gerhana, berdasarkan hadits Nabi ﷺ: "Maka jika kalian melihat hal itu, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
- Hindari keyakinan-keyakinan mitos tentang gerhana (seperti gerhana karena ada orang penting yang meninggal), karena Nabi ﷺ telah meluruskan keyakinan ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.