Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1461 tentang Anjuran shalat saat terjadi gerhana matahari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita bahwa gerhana matahari dan bulan bukanlah peristiwa yang terjadi karena sebab kematian atau kelahiran seseorang, melainkan merupakan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah ﷻ. Ketika kita menyaksikan gerhana, kita diperintahkan untuk segera melaksanakan shalat, berdoa, dan mengingat Allah, sebagai bentuk rasa takut dan tunduk kepada-Nya. Ini adalah momen untuk memperbanyak ibadah, bukan untuk dikaitkan dengan mitos atau takhayul.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1461) dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab shahih mereka, dengan lafaz yang semakna.

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

"Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kamu bersujud kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja beribadah." (QS. Fussilat [41]: 37)

Ayat ini menegaskan bahwa matahari dan bulan adalah makhluk ciptaan Allah yang tunduk kepada perintah-Nya. Mereka bukanlah sesembahan, dan peristiwa gerhana adalah salah satu bentuk kekuasaan Allah yang harus disikapi dengan ibadah kepada-Nya, bukan dengan takhayul.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, menempatkan hadits ini dalam bab khusus tentang shalat gerhana. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil utama bahwa shalat gerhana adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) dan merupakan bentuk ibadah yang disyariatkan saat terjadi gerhana.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin juga menjelaskan bahwa hadits ini membantah keyakinan jahiliyah yang mengaitkan gerhana dengan kematian atau kelahiran seseorang, dan mengajarkan sikap yang benar yaitu kembali kepada Allah dengan shalat dan doa.

Penjelasan Rinci

Hadits ini datang dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, yang meriwayatkan sabda Nabi ﷺ:

"إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ تَعَالَى فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا"

"Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi keduanya adalah tanda-tanda dari Allah ﷻ. Maka apabila kalian melihat keduanya (gerhana), maka shalatlah."

Pertama: Latar Belakang Historis

Peristiwa ini terjadi ketika putra Nabi ﷺ, yaitu Ibrahim, wafat pada hari terjadinya gerhana matahari. Sebagian orang saat itu berkata bahwa matahari gerhana karena bersedih atas wafatnya putra Rasulullah ﷺ. Maka Nabi ﷺ segera meluruskan keyakinan ini dengan sabdanya di atas. Beliau menegaskan bahwa gerhana bukanlah karena sebab kematian atau kelahiran siapa pun, tetapi murni tanda kekuasaan Allah.

Kedua: Makna "Ayatain min Ayatillah"

Frasa ini berarti bahwa gerhana adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang menunjukkan kekuasaan-Nya dalam mengatur alam semesta. Imam Ibnul Qayyim dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa Allah menjadikan gerhana sebagai peringatan bagi hamba-hamba-Nya agar mereka kembali kepada-Nya, merenungkan kebesaran-Nya, dan memperbanyak ibadah.

Ketiga: Hukum Shalat Gerhana

Para ulama sepakat bahwa shalat gerhana adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan). Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan dengan dua rakaat, di mana setiap rakaatnya memiliki dua kali ruku' dan dua kali berdiri. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha tentang tata cara shalat gerhana Nabi ﷺ.

Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa shalat gerhana dilakukan seperti shalat sunnah biasa, yaitu dua rakaat dengan satu ruku' di setiap rakaatnya. Namun, pendapat yang lebih kuat dan lebih sesuai dengan dalil adalah pendapat jumhur ulama (mayoritas), yaitu dua ruku' dalam setiap rakaat, karena hal ini sesuai dengan praktik Nabi ﷺ yang diriwayatkan secara rinci.

Keempat: Amalan Saat Gerhana

Selain shalat, Nabi ﷺ juga menganjurkan untuk memperbanyak doa, dzikir, istighfar, dan sedekah. Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, Nabi ﷺ bersabda:

"فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللَّهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا"

"Apabila kalian melihat hal itu (gerhana), maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah."

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa amalan-amalan ini adalah bentuk penghambaan diri kepada Allah dan pengakuan atas kebesaran-Nya, serta menghilangkan rasa takut yang wajar muncul saat melihat fenomena alam yang luar biasa.

Story Telling

Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha, beliau berkata:

"Pada masa Rasulullah ﷺ terjadi gerhana matahari. Maka Rasulullah ﷺ mengutus seseorang untuk menyeru: 'Ash-shalatu jami'ah' (Shalat berjamaah). Lalu beliau maju dan shalat. Beliau berdiri lama, kemudian ruku' lama, kemudian berdiri lagi lama, kemudian ruku' lagi lama, kemudian sujud, kemudian berdiri lagi dan ruku' lama, kemudian ruku' lagi lama, kemudian sujud, lalu selesai. Setelah itu beliau bersabda: 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, maka berdzikirlah kepada Allah, berdoalah, dan shalatlah.'" (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat serius dalam menghadapi fenomena gerhana. Beliau tidak menganggapnya sebagai peristiwa biasa, tetapi sebagai momen untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan ibadah yang khusyuk dan lama. Ini adalah pelajaran bagi kita untuk tidak menyia-nyiakan momen gerhana dengan hal-hal yang sia-sia, tetapi mengisinya dengan ibadah dan doa.

Kesimpulan Praktis

  1. Luruskan keyakinan: Jangan pernah mengaitkan gerhana dengan kematian, kelahiran, atau peristiwa tertentu. Ini adalah keyakinan jahiliyah yang dibantah oleh Nabi ﷺ.
  2. Segera shalat: Saat melihat gerhana, segeralah melaksanakan shalat gerhana secara berjamaah di masjid, dengan tata cara yang sesuai sunnah (dua rakaat, dua ruku' di setiap rakaat).
  3. Perbanyak doa dan dzikir: Isi waktu gerhana dengan doa, istighfar, takbir, dan sedekah.
  4. Jadikan momen refleksi: Gunakan gerhana sebagai pengingat akan kebesaran Allah dan kecilnya diri kita di hadapan-Nya.
  5. Jangan lupa berjamaah: Shalat gerhana disunnahkan dilakukan secara berjamaah di masjid, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?