Penjelasan Hadits Nasa'i No. 145 tentang Wudhu menyempurnakan penghapus dosa antar shalat lima waktu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan keutamaan besar menyempurnakan wudhu sesuai perintah Allah. Bila seseorang berwudhu dengan sempurna, maka shalat lima waktu menjadi penghapus dosa-dosa kecil yang terjadi di antara waktu-waktu shalat tersebut. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah kepada hamba-Nya melalui ibadah yang tampak sederhana namun bernilai besar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Thaharah, Bab Pahala Siapa yang Berwudhu Seperti yang Diperintahkan, nomor 145, dari jalur Jami' bin Shaddad dari Humran bin Aban dari Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits:

مَنْ أَتَمَّ الْوُضُوءَ كَمَا أَمَرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فَالصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ

Terjemah: "Siapa pun yang menyempurnakan wudhu seperti yang diperintahkan Allah 'Azza wa Jalla, maka shalat lima waktu akan menjadi penghapus dosa bagi apa yang terjadi di antara keduanya."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar makna hadits ini:

QS. Al-Ma'idah [5]: 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

Terjemah: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian hendak mendirikan shalat, maka basuhlah wajah kalian dan tangan kalian sampai ke siku, dan usaplah kepala kalian, dan (basuhlah) kaki kalian sampai ke kedua mata kaki."

Dalil lain tentang penghapusan dosa dengan shalat lima waktu:

QS. Hud [11]: 114

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Terjemah: "Dan dirikanlah shalat pada kedua ujung siang dan pada bagian-bagian awal malam. Sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu menghapuskan keburukan-keburukan."

Hadits pendukung dari Shahih Muslim, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا لَمْ تُغْشَ الْكَبَائِرُ

Terjemah: "Shalat lima waktu, dan Jumat ke Jumat berikutnya, menjadi penghapus dosa di antara keduanya, selama tidak dikerjakan dosa-dosa besar."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyimpan beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Makna "menyempurnakan wudhu seperti yang diperintahkan Allah".

Imam An-Nawawi dalam kitabnya Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah menunaikan wudhu dengan memenuhi rukun-rukunnya, syarat-syaratnya, sunnah-sunnahnya, serta adab-adabnya, tanpa mengurangi atau melalaikan bagian manapun. Termasuk di dalamnya membasuh anggota wudhu dengan sempurna, tidak hanya sekadar menyentuh air, serta memperhatikan tertib dan muwalah (berkesinambungan).

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa penyempurnaan wudhu mencakup dua hal: (1) menyempurnakan batas-batas anggota yang wajib dibasuh, dan (2) menyempurnakan sifat dan tata caranya sesuai sunnah, seperti mendahulukan kanan atas kiri, membasuh tiga kali, dan berdoa setelahnya.

Kedua: Makna "shalat lima waktu menjadi penghapus dosa".

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil (ash-shagha'ir), bukan dosa-dosa besar (al-kaba'ir). Hal ini dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah di atas yang menyebut syarat "selama tidak dikerjakan dosa-dosa besar". Dosa besar hanya dapat dihapus dengan taubat khusus, sebagaimana dijelaskan Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarijus Salikin.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menyebutkan bahwa rahasia penghapusan ini adalah karena wudhu dan shalat merupakan bentuk penghambaan yang menghadirkan hati kepada Allah, sehingga mendatangkan ampunan dan pembersihan jiwa.

Ketiga: Keterkaitan wudhu dengan shalat.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Karimir Rahman menjelaskan bahwa wudhu adalah pintu masuk menuju shalat, dan shalat adalah inti ibadah. Maka siapa yang menyempurnakan pintunya, ia akan masuk ke dalam ibadah dengan keadaan suci lahir dan batin, sehingga ampunan pun menyertainya.

Keempat: Perbedaan pendapat ulama tentang cakupan penghapusan.

Sebagian ulama seperti Atha' bin Abi Rabah dan Al-Hasan al-Bashri menyebutkan bahwa penghapusan berlaku umum bagi dosa kecil, sedangkan Qatadah bin Di'amah menekankan bahwa syaratnya adalah shalat dikerjakan dengan khusyuk dan ikhlas. Namun pendapat yang paling kuat, sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan An-Nawawi, adalah bahwa shalat lima waktu menghapus dosa kecil secara umum, dengan syarat tidak ada dosa besar yang belum ditaubati.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu ketika menjadi khalifah, beliau sangat memperhatikan masalah wudhu. Dalam riwayat Shahih Muslim dari Humran bin Aban, Utsman pernah meminta air untuk berwudhu di depan para sahabat, lalu beliau membasuh anggota wudhunya satu per satu dengan sangat teliti, kemudian beliau berkata: "Aku melihat Rasulullah ﷺ berwudhu seperti wudhuku ini, lalu beliau bersabda: 'Siapa yang berwudhu seperti ini, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.'"

Al-Hasan al-Bashri pernah berkata: "Wudhu yang sempurna adalah cermin dari hati yang bersih. Barangsiapa memperbaiki lahirnya dengan wudhu, Allah akan memperbaiki batinnya dengan ampunan." (dinukil secara makna dari Tafsir Al-Hasan al-Bashri).

Hikmahnya: Utsman radhiyallahu 'anhu mengajarkan kepada kita bahwa ibadah yang tampak kecil seperti wudhu, jika dikerjakan dengan penuh kesungguhan dan sesuai tuntunan, akan menjadi sebab datangnya ampunan Allah yang sangat luas.

Kesimpulan Praktis

  1. Sempurnakan wudhu dengan memenuhi rukun, sunnah, dan adab-adabnya, karena itu adalah syarat datangnya ampunan melalui shalat lima waktu.
  2. Jaga shalat lima waktu tepat pada waktunya, karena ia adalah penghapus dosa kecil di antara waktu-waktu tersebut.
  3. Hindari dosa besar, karena dosa besar memerlukan taubat khusus dan tidak cukup hanya dengan shalat.
  4. Hadirkan hati saat berwudhu dan shalat, karena ampunan yang sempurna berkaitan dengan kekhusyukan dan keikhlasan.
  5. Jangan meremehkan ibadah kecil, karena bisa jadi ia menjadi sebab ampunan besar dari Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?