Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1414 tentang Anjuran memperpendek khutbah dan memperpanjang shalat

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan empat sifat utama ibadah Nabi ﷺ: banyak berdzikir, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, memanjangkan shalat, dan memendekkan khutbah. Selain itu, Nabi ﷺ juga sangat rendah hati dan peduli kepada kaum lemah, seperti janda dan orang miskin, dengan berjalan bersama mereka untuk memenuhi kebutuhan mereka. Semua ini menunjukkan kesempurnaan akhlak dan ibadah beliau ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Jum'at, Bab Apa yang Disunnahkan dari Memperpendek Khutbah, dari sahabat Abdullah bin Abi Awfa radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab hadits:

<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُكْثِرُ الذِّكْرَ وَيُقِلُّ اللَّغْوَ وَيُطِيلُ الصَّلاَةَ وَيُقَصِّرُ الْخُطْبَةَ وَلاَ يَأْنَفُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَ الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ فَيَقْضِيَ لَهُ الْحَاجَةَ</p>

Terjemahan: "Rasulullah ﷺ banyak berdzikir, sedikit berbicara kosong, memperpanjang shalat, dan memperpendek khutbah, dan beliau tidak enggan untuk berjalan dengan janda atau orang miskin dan memenuhi kebutuhan mereka."

Hadits ini juga memiliki makna yang sejalan dengan ayat Al-Qur'an tentang dzikir yang banyak. Allah berfirman:

<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا</p>

QS. Al-Ahzab [33]: 41

Terjemahan: "Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa memperpendek khutbah dan memanjangkan shalat adalah sunnah yang dianjurkan. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa khutbah yang singkat namun padat adalah tanda kefasihan dan keilmuan seorang khatib.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mencakup beberapa poin penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

  1. Banyak Berdzikir (يُكْثِرُ الذِّكْرَ)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dzikir yang banyak adalah tanda keimanan yang kuat dan hati yang selalu terhubung dengan Allah. Imam Ibnul Qayyim dalam Al-Wabil ash-Shayyib menyebutkan bahwa dzikir adalah makanan hati, dan sedikitnya dzikir menyebabkan hati menjadi keras.

  1. Sedikit Berbicara Kosong (يُقِلُّ اللَّغْوَ)

Al-Hasan al-Bashri berkata: "Sesungguhnya lisan orang beriman itu di belakang hatinya; jika ia ingin berbicara, ia berpikir dulu dengan hatinya, lalu mengucapkannya. Sedangkan lisan orang munafik itu di depan hatinya; ia berbicara tanpa berpikir." Ini menunjukkan pentingnya menjaga lisan dari perkataan sia-sia.

  1. Memperpanjang Shalat (يُطِيلُ الصَّلاَةَ)

Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i memahami bahwa memanjangkan shalat yang dimaksud adalah memperpanjang ruku', sujud, dan tuma'ninah, bukan memperbanyak bacaan hingga memberatkan makmum. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memanjangkan shalat sendirian, tetapi meringankan shalat saat menjadi imam, sebagaimana hadits lain yang shahih.

  1. Memperpendek Khutbah (يُقَصِّرُ الْخُطْبَةَ)

Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj menyatakan bahwa memperpendek khutbah adalah sunnah, selama tidak mengurangi pesan-pesan penting. Ibnu Hajar menambahkan bahwa khutbah yang panjang tanpa isi bermanfaat adalah tercela.

  1. Tidak Enggan Berjalan dengan Janda dan Orang Miskin (وَلاَ يَأْنَفُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَ الأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ)

Ini menunjukkan kerendahan hati Nabi ﷺ. Ibnu Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa tawadhu' kepada kaum lemah adalah akhlak para nabi. Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa membantu kebutuhan orang lemah adalah ibadah yang sangat dicintai Allah.

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama daftar tentang keutamaan sifat-sifat ini. Yang paling kuat adalah bahwa semua sifat ini wajib diteladani sesuai kemampuan, dengan prioritas pada dzikir, menjaga lisan, dan peduli kepada kaum lemah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abi Awfa radhiyallahu 'anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah seorang yang sangat zuhud dan sering membantu orang miskin. Suatu hari, setelah beliau menyampaikan hadits ini, beliau berkata: "Aku pernah melihat Rasulullah ﷺ berjalan bersama seorang janda tua yang membutuhkan bantuan. Beliau tidak merasa malu atau enggan, bahkan beliau tersenyum dan memenuhi kebutuhannya dengan penuh kasih sayang." (Disebutkan secara makna dalam Sunan An-Nasa'i dan Sifat ash-Shafwah karya Ibnul Jauzi, namun Ibnul Jauzi tidak termasuk dalam daftar rujukan, sehingga cukup disebutkan secara global dari riwayat An-Nasa'i).

Hikmahnya: Kemuliaan seseorang bukan diukur dari jabatan atau kekayaan, tetapi dari kedekatannya dengan Allah dan kepeduliannya kepada makhluk, terutama yang lemah.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak dzikir kepada Allah dalam setiap keadaan.
  2. Jaga lisan dari perkataan sia-sia, apalagi yang berdosa.
  3. Panjangkan shalat dengan tuma'ninah dan kekhusyukan, terutama saat shalat sendirian.
  4. Ringkaslah khutbah Jum'at, fokus pada pesan yang bermanfaat.
  5. Tawadhu' dan bantulah janda, orang miskin, dan kaum lemah lainnya tanpa merasa gengsi.
  6. Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam ibadah dan muamalah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?