Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1396 tentang Rintihan batang kurma saat Nabi berkhutbah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ dahulu berkhutbah dengan bersandar pada sebatang pohon kurma (tiang masjid). Ketika dibuatkan mimbar dan beliau berpindah ke mimbar, tiang itu menangis/merintih seperti erangan unta karena rindu kepada beliau, sampai didengar oleh para sahabat. Nabi ﷺ lalu turun dan memeluknya hingga tiang itu tenang. Ini menunjukkan kemuliaan Nabi ﷺ dan bahwa benda mati pun dapat merasakan serta bersaksi atas kebenaran beliau, sebagai tanda kekuasaan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits pokok (riwayat Jabir bin 'Abdullah):

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari (dalam Kitab al-Jumu'ah, bab tentang mimbar) dan Muslim (dalam Kitab al-Jumu'ah), juga oleh An-Nasa'i (sebagaimana disebutkan, no. 1396). Perawi sahabat: Jabir bin 'Abdullah. Lafaz dalam riwayat Al-Bukhari antara lain:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَخْطُبُ إِلَى جِذْعٍ، فَلَمَّا صُنِعَ لَهُ الْمِنْبَرُ سَمِعْنَا لِلْجِذْعِ صَوْتًا كَصَوْتِ الْعِشَارِ حَتَّى وَضَعَ النَّبِيُّ ﷺ يَدَهُ عَلَيْهِ

"Dari Jabir bin 'Abdullah radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Nabi ﷺ dahulu berkhutbah (bersandar) pada sebatang pohon kurma. Ketika dibuatkan mimbar untuk beliau, kami mendengar suara dari batang pohon itu seperti suara unta yang sedang bunting (menderu), hingga Nabi ﷺ meletakkan tangannya padanya." (HR. Al-Bukhari)

Ayat yang relevan — QS. Al-Isra' [17]: 44:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya. Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun."

Kaitan dengan ulama: Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan segala sesuatu — termasuk benda mati — bertasbih kepada Allah dengan cara yang Allah ketahui, meskipun manusia tidak memahami caranya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) membahas hadits jiz' (batang kurma) ini dan menyebutnya sebagai salah satu mukjizat Nabi ﷺ, serta menjelaskan bahwa Allah menciptakan pada benda itu kemampuan merasakan dan bersuara sebagai tanda kenabian. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim juga memasukkan hadits ini dalam bab mukjizat dan menyebutnya sebagai bukti nyata yang disaksikan banyak sahabat.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits. Sebelum dibuat mimbar, Nabi ﷺ berkhutbah dengan berdiri bersandar pada sebatang pohon kurma yang menjadi salah satu tiang masjid. Ketika seorang sahabat (dalam riwayat lain disebutkan atas usul seorang wanita Anshar, dan Nabi ﷺ memerintahkan pembuatannya) dibuatkan mimbar, beliau berpindah ke mimbar. Maka batang pohon itu "berdiri" dan mengeluarkan suara seperti erangan/ratapan unta yang rindu, sampai terdengar oleh para sahabat di masjid. Nabi ﷺ lalu turun, memeluknya, dan tiang itu pun tenang.

Bagaimana ulama memahami hadits ini:

  1. Sebagai mukjizat (tanda kenabian). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menegaskan bahwa peristiwa ini termasuk tanda-tanda kenabian yang jelas, karena terjadi di hadapan banyak sahabat dan diriwayatkan secara mutawatir maknawi (banyak jalur). Beliau juga menyebut bahwa sebagian ulama memahami "ratapan" itu sebagai bentuk tasbih dan kerinduan makhluk kepada Nabi ﷺ.
  2. Benda mati dapat merasakan dan bersaksi. Ibnu Katsir dalam tafsir QS. Al-Isra' [17]: 44 menjelaskan bahwa segala sesuatu bertasbih kepada Allah dengan cara yang tidak difahami manusia. Hadits ini menjadi contoh nyata bahwa benda mati pun memiliki "kehidupan" dalam makna yang Allah kehendaki — ia merasakan, bersuara, dan bersaksi. Ini menegaskan kekuasaan Allah dan kemuliaan Nabi ﷺ.
  3. Pelajaran tentang khutbah dan mimbar. Hadits ini juga menjadi dalil bagi para ulama — termasuk Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — tentang disyariatkannya mimbar dalam khutbah Jumat dan bahwa imam berdiri/duduk di tempat yang tinggi agar terlihat dan didengar jamaah. An-Nasa'i meletakkannya dalam bab "Maqam Imam dalam Khutbah" (kedudukan imam saat berkhutbah), menunjukkan bahwa hadits ini dipakai untuk menjelaskan posisi imam di mimbar.
  4. Tidak ada perbedaan pendapat yang mendasar di antara ulama daftar tentang makna hadits ini: semuanya menerimanya sebagai mukjizat dan bukti kemuliaan Nabi ﷺ. Yang berbeda hanyalah pada rincian lafaz riwayat (misalnya "seperti erangan unta" atau "seperti suara unta bunting"), namun maknanya sama.

Catatan penting: Kita tidak boleh berlebihan (ghuluw) hingga menganggap benda mati memiliki ruh seperti manusia secara hakiki, atau menjadikannya objek pemujaan/keberkahan dengan cara yang tidak diajarkan. Yang benar: ini adalah mukjizat khusus yang Allah tampakkan untuk menguatkan kenabian, dan kita cukup beriman serta mengambil pelajarannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika mimbar selesai dibuat dan Nabi ﷺ naik ke atasnya, tiba-tiba terdengar suara tangis dari batang kurma itu — seperti erangan unta yang kehilangan anaknya. Para sahabat yang hadir di masjid mendengarnya dengan jelas. Nabi ﷺ pun turun dari mimbar, mendekati batang itu, dan memeluknya. Batang itu pun diam tenang. Dalam sebagian riwayat, Nabi ﷺ bersabda bahwa batang itu menangis karena rindu kepada beliau dan kepada dzikir yang biasa beliau lakukan di sisinya.

Hikmah: Betapa agungnya Nabi ﷺ, sampai benda mati pun merindukannya. Dan betapa besar kasih sayang beliau, sampai beliau turun dari mimbar untuk menenangkan sebatang pohon. Ini mengajarkan kita: (1) kemuliaan Nabi ﷺ melampaui makhluk lain; (2) kasih sayang beliau kepada semua makhluk; (3) pentingnya majelis ilmu dan dzikir — tempat yang biasa dipakai untuk mengingat Allah akan "merindukan" amal itu. (Sumber: riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Jabir bin 'Abdullah, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari dan an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.)

Kesimpulan Praktis

  • Iman kepada mukjizat Nabi ﷺ: Terima hadits ini sebagai bukti kenabian dan kekuasaan Allah yang menghidupkan benda mati untuk bersaksi.
  • Menghidupkan majelis ilmu dan dzikir: Tempat dan waktu yang biasa kita gunakan untuk mengingat Allah akan menjadi saksi kebaikan kita; jangan sia-siakan.
  • Meneladani kasih sayang Nabi ﷺ: Lembut kepada semua makhluk, termasuk yang tampak "tidak bernyawa".
  • Menjaga adab dalam khutbah: Hadits ini dipakai ulama (seperti an-Nawawi dan Ibnu Hajar) untuk menjelaskan sunnahnya mimbar dan posisi imam agar didengar jamaah — ikutilah sunnah ini dengan penuh adab.
  • Hindari ghuluw: Jangan berlebihan terhadap benda/tiang tertentu; cukup beriman pada mukjizat dan mengambil pelajaran.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?