Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1350 tentang Jumlah tasbih tahmid takbir setelah shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa dzikir setelah shalat (tasbih, tahmid, takbir) pada awalnya berjumlah 33, 33, dan 34. Lalu seorang sahabat Ansar bermimpi diperintahkan mengubahnya menjadi masing-masing 25 kali dengan menambahkan tahlil, dan Nabi ﷺ menyetujuinya. Ini menunjukkan bahwa dzikir setelah shalat memiliki beberapa bentuk yang sah, dan syariat tidak menyempitkan cara berdzikir.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Kesalahan (As-Sahw), Bab Jenis Lain dari Jumlah Tasbih, dari jalur Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu.

Sanad: Musa bin Hizam At-Tirmidzi → Yahya bin Adam → Ibnu Idris → Hisyam bin Hassan → Muhammad bin Sirin → Katsir bin Aflah → Zaid bin Tsabit.

Perlu dicatat: Muhammad bin Sirin (wafat 110 H) termasuk tabi'in yang tercantum dalam daftar rujukan, dan beliau meriwayatkan hadits ini secara mursal dari Zaid bin Tsabit — sebagian ulama menilai hadits ini memiliki kelemahan dari sisi sanad karena Katsir bin Aflah diperbincangkan, namun maknanya didukung hadits-hadits shahih lain tentang dzikir setelah shalat.

Dalil Al-Qur'an yang relevan tentang dzikir setelah shalat:

QS. Al-Ahzab [33]: 41

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya."

Dan QS. An-Nisa [4]: 103:

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ

"Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), berdzikirlah kepada Allah di waktu berdiri, di waktu duduk, dan di waktu berbaring."

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan memperbanyak dzikir kepada Allah dalam segala keadaan, termasuk setelah shalat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menyebutkan bahwa para sahabat diperintahkan berdzikir setelah shalat dengan:

  • Tasbih (سُبْحَانَ اللَّهِ) 33 kali
  • Tahmid (الْحَمْدُ لِلَّهِ) 33 kali
  • Takbir (اللَّهُ أَكْبَرُ) 34 kali

Kemudian seorang sahabat Ansar bermimpi, dan dalam mimpi itu dikatakan agar menjadikannya 25 kali masing-masing, dengan menyertakan tahlil (لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ). Setelah menceritakannya kepada Nabi ﷺ, beliau menyetujui: "Lakukanlah demikian."

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang jumlah dzikir setelah shalat. Sebagian meriwayatkan 33-33-34, sebagian 25-25-25 dengan tahlil, dan sebagian lagi 10-10-10. Beliau menyimpulkan bahwa semua bentuk ini boleh diamalkan, dan tidak ada pertentangan hakiki karena Nabi ﷺ mengajarkan berbagai bentuk untuk memberi kelonggaran kepada umat.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits Zaid bin Tsabit ini menunjukkan bolehnya beramal dengan mimpi yang disetujui Nabi ﷺ, namun mimpi tersebut tidak bisa dijadikan dalil syariat secara mandiri — keabsahannya karena disetujui Nabi ﷺ, bukan karena mimpinya.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah dan kitab-kitabnya tentang dzikir menilai hadits ini memiliki kelemahan dari sisi sanad (Katsir bin Aflah), namun maknanya didukung oleh hadits-hadits shahih tentang dzikir setelah shalat, seperti hadits Abu Hurairah dalam Shahih Muslim tentang 33-33-34.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa dzikir setelah shalat adalah sunnah yang sangat dianjurkan, dan bentuk yang paling shahih adalah 33 tasbih, 33 tahmid, 34 takbir, lalu ditutup dengan tahlil sekali untuk menyempurnakan seratus. Adapun bentuk 25-25-25 dengan tahlil, beliau menyebutkan bahwa itu adalah riwayat yang lemah namun tidak mengapa diamalkan sebagai variasi selama tidak diyakini sebagai satu-satunya bentuk.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menekankan bahwa dzikir setelah shalat adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah dan menyempurnakan kekurangan dalam shalat.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat mulia yang termasuk penulis wahyu Nabi ﷺ, menyampaikan peristiwa ini. Beliau menceritakan bagaimana para sahabat Ansar sangat memperhatikan urusan dzikir dan ibadah, sampai-sampai seorang di antara mereka diberi kabar dalam mimpi tentang perubahan jumlah dzikir. Ketika hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau tidak menolaknya, tetapi menyetujui dengan sabdanya: "Lakukanlah demikian."

Muhammad bin Sirin (wafat 110 H), seorang tabi'in yang terkenal dengan ketelitiannya dalam meriwayatkan hadits dan kezuhudannya, meriwayatkan kisah ini. Beliau dikenal sebagai ulama yang sangat berhati-hati dalam menerima riwayat, dan beliau menyampaikan hadits ini sebagai bagian dari penjelasan tentang keluasan syariat dalam berdzikir.

Hikmahnya: syariat Islam tidak menyempitkan cara berdzikir. Selama ada dalil dan tidak menyelisihi prinsip, variasi dalam berdzikir adalah bentuk kelonggaran dari Allah untuk hamba-Nya.

Kesimpulan Praktis

  1. Dzikir setelah shalat adalah sunnah yang sangat dianjurkan — jangan ditinggalkan, karena ia menyempurnakan shalat dan mendekatkan diri kepada Allah.
  2. Bentuk yang paling shahih dan utama adalah tasbih 33, tahmid 33, takbir 34, lalu ditutup tahlil sekali — sebagaimana hadits shahih dari Abu Hurairah dalam Shahih Muslim.
  3. Bentuk 25-25-25 dengan tahlil disebutkan dalam hadits ini, namun sanadnya diperbincangkan. Boleh diamalkan sebagai variasi, tetapi jangan diyakini sebagai satu-satunya bentuk yang sah.
  4. Jangan berlebihan (ghuluw) dalam masalah jumlah dzikir — yang penting adalah kekhusyukan, keikhlasan, dan kesesuaian dengan tuntunan Nabi ﷺ.
  5. Rujuklah kepada ulama terpercaya jika menemukan perbedaan pendapat, dan jangan saling menyalahkan dalam masalah cabang ibadah seperti ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?