Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah kabar dari sahabat Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu tentang dzikir yang dibaca Nabi ﷺ setelah shalat. Dzikir ini berisi pujian kepada Allah, pengakuan keesaan-Nya, dan pengakuan bahwa segala kekuasaan serta kebaikan hanya dari Allah semata. Ini adalah dzikir yang agung dan dianjurkan untuk diamalkan setelah shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1341), juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari (no. 844) dan Imam Muslim (no. 593) dari jalur Warrad, penulis Al-Mughirah bin Syu'bah.
Teks hadits yang Anda sebutkan sudah lengkap dan benar. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang semakna.
Kaitan dengan ulama dalam daftar:
- Imam An-Nasa'i (w. 303 H) memuat hadits ini dalam kitab Sunan-nya pada bab dzikir setelah shalat.
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) memuatnya dalam Shahih-nya pada Kitab Adzan, Bab Dzikir Setelah Shalat.
- Imam Muslim (w. 261 H) memuatnya dalam Shahih-nya pada Kitab Masjid, Bab Dzikir Setelah Shalat.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) menjelaskan hadits ini dalam Fathul Bari (2/329-330) dan menyebutkan faedah-faedahnya.
- Imam An-Nawawi (w. 676 H) menjelaskan dalam Syarah Shahih Muslim (5/84-85) tentang makna dzikir ini.
Penjelasan Rinci
Latar Belakang Hadits
Hadits ini berawal dari surat yang ditulis oleh Mu'awiyah bin Abi Sufyan (saat itu menjabat sebagai gubernur Syam) kepada Al-Mughirah bin Syu'bah yang saat itu menjadi gubernur Kufah. Mu'awiyah meminta Al-Mughirah untuk menceritakan sesuatu yang pernah didengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ. Maka Al-Mughirah menyampaikan hadits ini.
Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias untuk saling berbagi ilmu dan hadits Nabi ﷺ, bahkan antar gubernur sekalipun.
Makna Dzikir dalam Hadits
1. "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ"
Artinya: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya."
Ini adalah kalimat tauhid yang menegaskan keesaan Allah dalam ibadah. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali (w. 795 H) menjelaskan bahwa kalimat ini adalah inti dakwah para rasul, dan merupakan kalimat yang paling utama. Dengan mengucapkannya, seorang hamba mengakui bahwa hanya Allah yang berhak disembah.
2. "لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ"
Artinya: "Milik-Nya lah kerajaan dan bagi-Nya lah segala pujian."
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa penggabungan antara al-mulku (kerajaan) dan al-hamdu (pujian) menunjukkan bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu dan Dia layak dipuji atas semua yang Dia lakukan. Imam As-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi, dan semua pujian hanya layak untuk-Nya.
3. "وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ"
Artinya: "Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu."
Ini adalah pengakuan atas kekuasaan Allah yang mutlak. Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat-ayat yang menyebutkan kekuasaan Allah ini bertujuan untuk menanamkan keyakinan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah.
4. "اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ"
Artinya: "Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau tahan."
Ini adalah pengakuan bahwa segala pemberian dan pencegahan hanya dari Allah. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kalimat ini mengajarkan kepada hamba untuk berserah diri sepenuhnya kepada takdir Allah, baik yang menyenangkan maupun yang tidak.
5. "وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ"
Artinya: "Dan tidak ada yang dapat memberi manfaat bagi orang yang memiliki kekayaan/kedudukan, kecuali dari-Mu datangnya segala kekayaan."
Kata al-jaddu di sini bermakna kekayaan, kedudukan, atau keagungan duniawi. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa maknanya adalah: seseorang yang memiliki kekayaan atau kedudukan tinggi di dunia, maka kekayaan dan kedudukannya itu tidak akan menyelamatkannya dari azab Allah. Yang bermanfaat hanyalah amal shalih dan keimanan.
Keutamaan Dzikir Ini
Imam Al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya dan menempatkannya dalam bab dzikir setelah shalat. Imam Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya membaca dzikir ini setelah shalat, dan beliau menukil perkataan para ulama bahwa dzikir ini mengandung tauhid, pujian, dan pengakuan atas kekuasaan Allah.
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa dzikir ini termasuk dzikir yang dianjurkan setelah shalat, dan beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang keutamaannya.
Pelajaran dari Hadits
- Keutamaan dzikir setelah shalat - Nabi ﷺ rutin membaca dzikir ini setelah shalat, menunjukkan pentingnya menjaga lisan dengan dzikir.
- Pengakuan tauhid - Dzikir ini menegaskan keesaan Allah dan menolak segala bentuk kesyirikan.
- Tawakal kepada Allah - Kalimat "tidak ada yang menghalangi apa yang Engkau berikan" mengajarkan kita untuk berserah diri kepada Allah.
- Rendah hati - Kalimat "tidak bermanfaat kekayaan" mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan harta atau kedudukan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Warrad - penulis Al-Mughirah bin Syu'bah - adalah seorang yang dipercaya oleh Al-Mughirah untuk menulis surat-suratnya. Ketika Mu'awiyah meminta Al-Mughirah untuk menceritakan hadits yang didengarnya dari Nabi ﷺ, Al-Mughirah tidak menceritakan hal-hal yang bersifat duniawi atau politik, melainkan langsung menyampaikan dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ.
Ini menunjukkan bahwa para sahabat memahami bahwa ilmu yang paling berharga untuk dibagikan adalah ilmu tentang dzikir dan ibadah, bukan urusan dunia. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa para salaf sangat perhatian untuk menyebarkan hadits-hadits tentang dzikir dan ibadah, karena itu adalah warisan terbaik dari Nabi ﷺ.
Kisah ini juga menunjukkan adab para sahabat dalam bertanya dan menjawab. Mu'awiyah bertanya dengan sopan, dan Al-Mughirah menjawab dengan hadits yang bermanfaat. Ini adalah teladan bagi kita dalam menuntut ilmu dan berbagi ilmu.
Kesimpulan Praktis
- Baca dzikir ini setelah shalat - Hendaknya kita mengamalkan dzikir ini setelah shalat fardhu, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ.
- Renungkan maknanya - Jangan hanya membaca tanpa memahami. Renungkan bahwa Allah Maha Esa, Pemilik kerajaan, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
- Perbanyak dzikir - Dzikir adalah amalan yang ringan namun berat timbangannya di sisi Allah.
- Jangan sombong dengan harta - Kekayaan dan kedudukan tidak akan menyelamatkan kita di akhirat. Yang menyelamatkan hanyalah iman dan amal shalih.
- Teladani para sahabat - Mereka sangat antusias dalam berbagi ilmu dan hadits Nabi ﷺ. Kita pun hendaknya demikian.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.