Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan dzikir yang dibaca setelah shalat, yang diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu. Beliau mengajarkan bahwa Rasulullah ﷺ biasa membaca kalimat tahlil yang agung setelah shalat, yang berisi pengakuan keesaan Allah, pujian kepada-Nya, dan ikhlas dalam beragama. Ini adalah salah satu bentuk dzikir yang dianjurkan untuk diamalkan setelah shalat, sebagai penutup ibadah yang indah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1340), dari Abu Az-Zubair, dari Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu. Lafadz dzikir tersebut adalah:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Terjemahan: "Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, dan kami tidak beribadah kecuali kepada-Nya. Milik-Nya nikmat, milik-Nya keutamaan, dan milik-Nya pujian yang baik. Tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, dengan memurnikan agama untuk-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 594) dengan lafadz yang semakna.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa dzikir setelah shalat adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa dzikir setelah shalat termasuk amalan yang dituntunkan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Beliau juga menjelaskan bahwa dzikir-dzikir ini memiliki keutamaan besar, di antaranya menghapus dosa-dosa kecil dan menjadi sebab ketenangan hati.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa dzikir setelah shalat adalah bentuk syukur kepada Allah atas nikmat shalat yang telah ditunaikan. Beliau juga menekankan bahwa dzikir yang paling utama adalah yang mengandung tauhid, pujian kepada Allah, dan ikhlas dalam beragama, sebagaimana dalam hadits ini.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kalimat "mukhlishina lahud-din" (dengan memurnikan agama untuk-Nya) adalah inti dari tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah dengan ikhlas, tanpa riya' atau kesyirikan. Ini sejalan dengan firman Allah:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
Terjemahan: "Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..." (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung tiga pilar utama: (1) pengakuan keesaan Allah dalam rububiyah dan uluhiyah, (2) pujian dan sanjungan kepada Allah atas nikmat dan karunia-Nya, dan (3) ikhlas dalam beribadah kepada Allah meskipun orang-orang kafir membencinya. Ini menunjukkan bahwa seorang muslim harus teguh dalam tauhidnya dan tidak peduli dengan kebencian orang-orang kafir.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dzikir setelah shalat adalah salah satu cara untuk menyempurnakan shalat dan menutup kekurangan yang mungkin terjadi selama shalat. Beliau juga menyebutkan bahwa dzikir-dzikir ini memiliki keutamaan yang besar di sisi Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Az-Zubair radhiyallahu 'anhu adalah seorang sahabat muda yang tumbuh di lingkungan yang penuh dengan ibadah. Beliau adalah putra dari Asma' binti Abu Bakar dan keponakan dari Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat tekun beribadah dan menjaga sunnah-sunnah Nabi ﷺ.
Suatu ketika, beliau mengajarkan dzikir ini kepada orang-orang, dan beliau berkata: "Rasulullah ﷺ biasa mengucapkan kalimat-kalimat ini setelah shalat." Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian untuk menjaga dan menyebarkan sunnah-sunnah Nabi ﷺ, termasuk dzikir-dzikir yang ringan namun besar pahalanya.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa kita sebagai umat Islam hendaknya bersemangat untuk mempelajari dan mengamalkan dzikir-dzikir yang diajarkan oleh Nabi ﷺ, karena itu adalah warisan terbaik yang ditinggalkan oleh beliau.
Kesimpulan Praktis
- Baca dzikir ini setelah shalat — baik shalat wajib maupun sunnah, sebagai bentuk ibadah dan syukur kepada Allah.
- Pahami maknanya — agar hati kita hadir dan meresapi keagungan kalimat-kalimat ini.
- Jaga keikhlasan — karena inti dari dzikir ini adalah memurnikan ibadah hanya untuk Allah.
- Jangan remehkan dzikir yang ringan — karena pahalanya sangat besar di sisi Allah.
- Ajarkan kepada keluarga dan orang lain — sebagaimana Abdullah bin Az-Zubair mengajarkannya kepada orang-orang.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.