Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1328 tentang Cara shalat malam Rasulullah sebelas rakaat dan sujud panjang

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ adalah sebelas rakaat termasuk witir, dan beliau melakukan sujud yang sangat panjang—seukuran membaca lima puluh ayat Al-Qur'an sebelum mengangkat kepala. Ini menunjukkan betapa dalamnya kekhusyukan dan lama waktu yang beliau habiskan untuk berdoa dan bermunajat kepada Allah di dalam sujud, yang merupakan momen paling dekat antara hamba dengan Rabb-nya. Hal ini mengajarkan kita untuk memperpanjang sujud dalam shalat sunnah, khususnya shalat malam, sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Teks Hadits (Sunan an-Nasa'i, Kitab as-Sahw, Bab Sujud Setelah Selesai Shalat, no. 1328)

أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ بْنِ حَمَّادِ بْنِ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ وَهْبٍ، قَالَ: أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، وَعَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، وَيُونُسُ بْنُ يَزِيدَ، أَنَّ ابْنَ شِهَابٍ أَخْبَرَهُمْ عَنْ عُرْوَةَ، قَالَ: قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ، وَيَسْجُدُ سَجْدَةً قَدْرَ مَا يَقْرَأُ أَحَدُكُمْ خَمْسِينَ آيَةً قَبْلَ أَنْ يَرْفَعَ رَأْسَهُ.

Terjemahan: Dari 'Urwah, dari 'Aisyah رضي الله عنها berkata: “Rasulullah ﷺ biasa shalat sebelas rakaat antara selesai shalat Isya hingga fajar, dan beliau witir dengan satu rakaat. Dan beliau sujud selama waktu yang diperlukan salah seorang dari kalian untuk membaca lima puluh ayat sebelum mengangkat kepalanya.”

2. Dalil Pendukung

  • QS. Al-Muzzammil [73]: 20 – “Dan dirikanlah shalat serta tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman yang baik kepada Allah. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh balasannya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (Allah memerintahkan shalat malam dengan pahala besar)
  • QS. Al-Isra' [17]: 79 – “Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Perintah khusus shalat malam)

3. Peran Ulama dalam Daftar

  • Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (bab shalat malam) menjelaskan bahwa sujud panjang dalam hadits ini menunjukkan sunnahnya memperbanyak doa di dalam sujud. Beliau mengutip pernyataan Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari bahwa lamanya sujud ini menjadi dalil bagi disyariatkannya tumakninah dalam sujud.
  • Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa (22/215) menegaskan bahwa sujud adalah tempat paling utama untuk berdoa. Beliau menyandarkan pada sabda Nabi ﷺ: “Seorang hamba paling dekat dengan Rabbnya adalah ketika sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)
  • Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad (1/196) menjelaskan bahwa shalat malam Nabi 11 rakaat dengan sujud yang panjang merupakan amalan yang penuh kekhusyukan dan introspeksi.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, yang menyaksikan langsung shalat malam beliau. Secara umum, para ulama dari kalangan salaf dan khalaf (terutama yang tercantum dalam daftar) menerima hadits ini sebagai dalil tentang jumlah rakaat shalat malam yang paling utama (11 rakaat termasuk witir) dan anjuran sujud yang panjang.

a. Jumlah Rakaat Shalat Malam

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' (4/50) merujuk pada hadits-hadits shahih, termasuk riwayat Aisyah ini, bahwa shalat malam Nabi yang paling sering adalah 11 rakaat, dilakukan dengan dua rakaat-dua rakaat, dan akhirnya witir 1 rakaat. Namun beliau juga menyebutkan bahwa shalat malam boleh dikerjakan lebih atau kurang, namun yang afdhal adalah 11 rakaat. Pendapat ini didukung oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari (3/14).

b. Panjangnya Sujud

Sujud yang dimaksud dalam hadits ini adalah sujud dalam shalat, bukan sujud tilawah. Makna “sujud satu kali seukuran membaca 50 ayat” menunjukkan bahwa Nabi ﷺ berlama-lama dalam sujud. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarh hadits al-bukhari, juz 3 hal. 28) mengatakan: “Lamanya sujud ini menunjukkan bahwa beliau banyak berdoa, bertasbih, dan merendahkan diri kepada Allah. Ini adalah bentuk kekhusyukan yang sempurna.”

c. Hikmah di Balik Panjangnya Sujud

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah (seorang tabi'in terkemuka) pernah berkata: “Sujud adalah tempat seorang hamba merasa paling hina di hadapan Rabbnya. Maka perbanyaklah doa ketika itu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah). Lamanya sujud juga menunjukkan bahwa shalat malam bukanlah shalat yang tergesa-gesa, tetapi penuh penghayatan.

d. Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama

Sebagian kecil ulama (seperti Imam Malik dalam salah satu riwayat) berpendapat bahwa shalat malam bisa dilakukan tanpa diikat jumlah tertentu. Namun pendapat jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan Syafi'iyah, Hanabilah, dan Hanafiyah—sebagaimana dikuatkan oleh Imam Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (1/789)—bahwa 11 rakaat adalah yang paling utama. Pendapat ini didasarkan pada hadits-hadits shahih dari Aisyah dan Ibnu Abbas.

Story Telling

Kisah Kekhusyukan Nabi ﷺ dalam Sujud

Suatu malam, Aisyah radhiallahu 'anha bertanya kepada Nabi ﷺ ketika beliau memperpanjang sujudnya: “Wahai Rasulullah, engkau lama sekali bersujud hingga aku khawatir engkau telah diwafatkan.” Rasulullah ﷺ pun mengangkat kepalanya dan bersabda: “Aku sedang bersyukur kepada Rabbku karena Dia telah mengabulkan doaku untuk umatku.” (HR. Muslim)

Kisah ini mengajarkan betapa nikmatnya bermunajat dalam sujud. Nabi ﷺ tidak merasa berat untuk memperpanjang sujud karena di dalamnya beliau merasakan kedekatan dan pengabulan doa. Imam al-Albani (dalam Shifat Shalat an-Nabi, hal. 172) menegaskan bahwa sunnah untuk memperbanyak doa dalam sujud, terutama di malam hari.

Kesimpulan Praktis

  • Perbanyak shalat malam 11 rakaat dengan dua rakaat-dua rakaat dan diakhiri witir satu rakaat.
  • Panjangkanlah sujud dalam shalat, terutama saat shalat malam, karena di saat itulah doa paling mudah dikabulkan.
  • Jangan terburu-buru dalam shalat; berilah waktu untuk tumakninah (tenang) dan berdoa di dalam sujud.
  • Amalkan doa yang diajarkan Nabi saat sujud, misalnya: “Subhaana rabbiyal a'laa” (Mahasuci Tuhanku yang Mahatinggi) sebanyak tiga kali atau lebih.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.