Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1304 tentang Doa meminta keteguhan, syukur, dan hati yang selamat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat An-Nasa'i dari Syaddad bin Aus ini berisi doa Nabi ﷺ yang mencakup permohonan keteguhan iman, tekad mengikuti kebenaran, syukur nikmat, ibadah yang baik, hati yang bersih, lisan yang jujur, serta perlindungan dari keburukan dan ampunan atas dosa. Doa ini mengajarkan kita untuk meminta kepada Allah hal-hal terpenting dalam agama, bukan sekadar kebutuhan duniawi. Para ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa doa ini menghimpun berbagai kebaikan agama dan dunia.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Sahu, Bab Jenis Doa Lain (no. 1304), dari jalur Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan Ahmad, dan dinilai hasan oleh sebagian ulama.

Adapun ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan tema doa ini:

QS. Ibrahim [14]: 27

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi."

Ayat ini menunjukkan pentingnya memohon keteguhan hati, sebagaimana dalam hadits ini Nabi ﷺ meminta "tsabat" (keteguhan) dan "hati yang selamat".

QS. Al-Baqarah [2]: 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Baginya apa yang diusahakannya dan terhadapnya apa yang diusahakannya. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir."

Ayat ini sejalan dengan permohonan ampunan dan perlindungan dari keburukan dalam hadits.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa permohonan penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Keteguhan dalam urusan (الثَّبَاتَ فِي الأَمْرِ)

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah keteguhan dalam agama Islam dan istiqamah di atasnya hingga akhir hayat. Imam an-Nawawi dalam Syarah Muslim menambahkan bahwa ini mencakup keteguhan dalam menghadapi ujian dan syubhat.

2. Tekad mengikuti jalan yang benar (الْعَزِيمَةِ عَلَى الرُّشْدِ)

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa "rusyd" adalah kebalikan dari "ghayy" (kesesatan), yaitu kemampuan membedakan yang benar dari yang salah dan bertekad kuat untuk mengikuti yang benar.

3. Syukur nikmat dan ibadah yang baik (شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ)

Ibn Katsir menyebutkan bahwa syukur adalah menggunakan nikmat Allah untuk taat kepada-Nya. Sedangkan "husnul ibadah" adalah beribadah dengan ikhlas dan sesuai sunnah, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi.

4. Hati yang selamat dan lisan yang jujur (قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا)

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa hati yang selamat adalah hati yang bersih dari syirik, hasad, dan penyakit hati lainnya. Lisan yang jujur adalah lisan yang selalu berkata benar dan tidak berdusta.

5. Meminta kebaikan dan berlindung dari keburukan yang Allah ketahui

Ini menunjukkan tawakal dan penyerahan total kepada Allah, karena hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi. As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ini adalah bentuk doa yang paling komprehensif.

6. Memohon ampunan atas apa yang Allah ketahui

Ini menunjukkan kesadaran akan kelemahan diri dan kebutuhan akan ampunan Allah, sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang dikenal sangat menjaga doa-doa Nabi ﷺ. Suatu ketika ia berkata: "Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa yang bisa aku baca dalam shalatku." Maka Nabi ﷺ mengajarkan doa ini kepadanya. Syaddad bin Aus kemudian selalu mengamalkan doa ini dan mengajarkannya kepada kaum muslimin setelahnya. Para ulama hadits seperti An-Nasa'i dan At-Tirmidzi meriwayatkan doa ini karena melihat betapa pentingnya kandungannya bagi setiap muslim.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan dan amalkan doa ini dalam shalat, terutama setelah tasyahud sebelum salam, karena Nabi ﷺ biasa membacanya dalam shalat.
  2. Mintalah keteguhan iman setiap hari, karena hati bisa berubah-ubah.
  3. Bersyukurlah atas nikmat Allah dengan menggunakannya untuk ketaatan.
  4. Jagalah hati dan lisan dari penyakit hati dan perkataan dusta.
  5. Selalu memohon ampunan atas dosa yang kita sadari maupun tidak sadari.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?