Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita sebuah dzikir yang ringkas namun agung, yaitu membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), dan takbir (Allahu Akbar) masing-masing sepuluh kali setelah tasyahud akhir sebelum salam. Dzikir ini adalah wasiat Nabi ﷺ kepada Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha sebagai sarana untuk memohon hajat kepada Allah ﷻ. Hadits ini menunjukkan keutamaan dzikir yang ringan di lisan namun besar pahalanya, serta menjadi pintu untuk dikabulkannya doa.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Sihir, Bab Dzikir Setelah Tasyahud, no. 1299. Juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari jalur yang serupa.
Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: جَاءَتْ أُمُّ سُلَيْمٍ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي كَلِمَاتٍ أَدْعُو بِهِنَّ فِي صَلَاتِي. قَالَ: "سَبِّحِي اللَّهَ عَشْرًا، وَاحْمَدِيهِ عَشْرًا، وَكَبِّرِيهِ عَشْرًا، ثُمَّ سَلِيهِ حَاجَتَكِ، يَقُلْ: نَعَمْ نَعَمْ"
Terjemahan: Dari Anas bin Malik, ia berkata: "Ummu Sulaim datang kepada Nabi ﷺ dan berkata: 'Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku kalimat-kalimat yang aku berdoa dengannya di dalam shalatku.' Beliau bersabda: 'Bertasbihlah kepada Allah sepuluh kali, bertahmidlah kepada-Nya sepuluh kali, dan bertakbirlah kepada-Nya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada-Nya hajatmu, niscaya Dia akan menjawab: Ya, ya.'"
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini dijelaskan oleh para ulama sebagai bentuk dzikir yang disyariatkan setelah tasyahud akhir. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa dzikir ini adalah salah satu bentuk dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ kepada umatnya, dan ia termasuk dalam keumuman perintah untuk memperbanyak doa di akhir shalat sebelum salam.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz juga menyebutkan dalam Majmu' Fatawa-nya bahwa dzikir semacam ini (tasbih, tahmid, takbir) adalah dzikir yang disunnahkan, dan seorang muslim boleh menggabungkannya dengan doa-doa lainnya setelah tasyahud akhir.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:
- Keutamaan Dzikir Tasbih, Tahmid, dan Takbir: Dzikir ini adalah kalimat-kalimat yang paling dicintai Allah ﷻ. Dalam hadits lain yang diriwayatkan dari Samurah bin Jundub, Nabi ﷺ bersabda bahwa kalimat yang paling dicintai Allah ada empat: Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar (HR. Muslim). Maka menggabungkan tiga dari empat kalimat ini dalam jumlah sepuluh-sepuluh adalah amalan yang sangat agung.
- Waktu Pelaksanaan: Hadits ini menunjukkan bahwa dzikir ini dilakukan di dalam shalat, dan konteksnya adalah setelah tasyahud akhir sebelum salam. Ini sebagaimana dipahami oleh para ulama dari redaksi "فِي صَلَاتِي" (di dalam shalatku) dan konteks bab yang disebutkan oleh Imam An-Nasa'i.
- Makna "يَقُلْ نَعَمْ نَعَمْ": Ini adalah kabar gembira dari Nabi ﷺ bahwa Allah ﷻ akan mengabulkan doa orang yang berdzikir dan memohon kepada-Nya. Ini adalah bentuk dorongan dan motivasi agar kita bersungguh-sungguh dalam berdoa setelah berdzikir.
- Adab Berdoa: Hadits ini juga mengajarkan adab berdoa, yaitu memulai dengan pujian dan sanjungan kepada Allah ﷻ (dalam hal ini melalui tasbih, tahmid, dan takbir) sebelum menyampaikan hajat. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Fadhalah bin 'Ubaid bahwa Nabi ﷺ mendengar seorang laki-laki berdoa dalam shalatnya tanpa memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda: "Orang ini tergesa-gesa." Kemudian beliau mengajarkannya untuk memulai dengan memuji Allah dan bershalawat, baru kemudian berdoa (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa'i).
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa dzikir sebelum doa adalah wasilah (perantara) yang agung untuk dikabulkannya doa, karena ia menunjukkan ketundukan dan penghambaan diri kepada Allah ﷻ.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang yang berdzikir kepada Allah dengan tasbih, tahmid, dan takbir berarti ia mengakui kesempurnaan Allah, memuji-Nya atas segala nikmat, dan mengagungkan-Nya di atas segala sesuatu. Ini semua adalah sebab dikabulkannya doa.
Story Telling
Dari hadits ini, kita bisa mengambil pelajaran dari sosok Ummu Sulaim radhiyallahu 'anha, ibu dari Anas bin Malik. Beliau adalah seorang wanita yang sangat mencintai ilmu dan ingin beribadah dengan cara yang benar. Ia tidak merasa cukup dengan shalatnya yang biasa, tetapi ia ingin tahu dzikir-dzikir yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ agar shalatnya lebih bermakna dan doanya lebih dekat kepada Allah ﷻ.
Ummu Sulaim adalah wanita yang dikenal cerdas dan teguh imannya. Ketika suaminya meninggal dan Abu Thalhah melamarnya, ia menjadikan keislaman sebagai syarat pernikahan. Ia juga dengan sabar mendidik anaknya, Anas, yang kemudian menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun dan meriwayatkan banyak hadits.
Dari kisah ini, kita belajar bahwa semangat untuk belajar agama tidak mengenal usia, gender, atau status. Ummu Sulaim adalah seorang ibu rumah tangga, namun ia memiliki semangat tinggi untuk bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amalan-amalan yang bisa mendekatkannya kepada Allah ﷻ.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak dzikir tasbih, tahmid, dan takbir di dalam shalat, khususnya setelah tasyahud akhir sebelum salam.
- Mulailah doa dengan pujian kepada Allah ﷻ sebelum menyampaikan hajat, karena ini adalah adab yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Jadikan dzikir ini sebagai kebiasaan harian, tidak hanya di dalam shalat, tetapi juga di luar shalat, karena keutamaannya sangat besar.
- Teladani semangat Ummu Sulaim dalam menuntut ilmu dan bertanya kepada ulama tentang cara beribadah yang benar.
- Yakinlah bahwa Allah ﷻ akan mengabulkan doa orang yang berdzikir dan memohon kepada-Nya dengan sungguh-sungguh.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.