Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1292 tentang Perintah bershalawat kepada Nabi dan keluarganya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab berdoa, khususnya saat bershalawat kepada Nabi ﷺ: kita diperintahkan bersungguh-sungguh dalam berdoa dan mengucapkan shalawat dengan lafaz yang diajarkan, yaitu "Allahumma salli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad." Ini menunjukkan shalawat kepada Nabi dan keluarganya adalah ibadah yang disyariatkan dengan lafaz tertentu, bukan dengan mengarang-ngarang redaksi sendiri.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya (Kitab Kesalahan, bab jenis lain), dari jalur Musa bin Talha dari Zaid bin Kharijah radhiyallahu 'anhu. Sanadnya dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits; maknanya didukung hadits-hadits shahih tentang lafaz shalawat, seperti hadits Ka'b bin 'Ujrah dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang "Allahumma salli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad."

Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan shalawat:

QS. Al-Ahzab [33]: 56

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini menunjukkan kemuliaan Nabi ﷺ dan perintah kepada kaum mukmin untuk bershalawat dan bersalam kepadanya. As-Sa'di juga menjelaskan bahwa shalawat dari Allah berarti pujian dan rahmat, sedangkan dari hamba berarti doa dan permohonan rahmat bagi Nabi.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Perintah bershalawat dan bersungguh-sungguh dalam doa. Nabi ﷺ bersabda "صَلُّوا عَلَيَّ وَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ" — bershalawatlah kepadaku dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. Imam An-Nawawi dalam kitab-kitabnya tentang adab doa menjelaskan bahwa bersungguh-sungguh (ijtihad) dalam doa mencakup: memilih waktu-waktu mustajab, menghadirkan hati, merendahkan diri, dan tidak tergesa-gesa. Ini adab yang beliau tekankan saat menjelaskan doa-doa dalam hadits.

Kedua: Lafaz shalawat yang diajarkan. Nabi ﷺ mengajarkan lafaz "اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ". Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas hadits Ka'b bin 'Ujrah menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang lafaz shalawat yang paling afdhal; namun yang disepakati adalah shalawat yang mengandung penyebutan Nabi dan keluarganya (ali), sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ sendiri. Ini menunjukkan bahwa "ali Muhammad" adalah bagian yang dianjurkan dalam shalawat, bukan tambahan yang terlarang.

Ketiga: Makna "ali Muhammad". Para ulama seperti Ibn Katsir dan An-Nawawi menjelaskan bahwa "ali Muhammad" dalam konteks shalawat mencakup keluarga beliau yang beriman, yaitu keturunan beliau dan para pengikut beliau yang beriman. Ini bukan pengkultusan terhadap individu tertentu, melainkan doa agar Allah memberi rahmat kepada keluarga Nabi dan orang-orang beriman yang mengikuti beliau.

Keempat: Shalawat adalah ibadah tauqifiyyah. Lafaz shalawat diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, sehingga tidak boleh dikarang-karang. Ibn Taymiyyah dalam kitab-kitabnya tentang doa dan dzikir menegaskan bahwa dzikir dan doa yang disyariatkan harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, tidak boleh membuat lafaz baru yang tidak ada dasarnya. Ini penting untuk menghindari ghuluw (berlebihan) dalam beragama.

Kelima: Hadits ini juga menunjukkan adab bertanya kepada Nabi ﷺ. Zaid bin Kharijah bertanya langsung kepada Nabi ﷺ, dan beliau menjawab dengan tuntunan yang jelas. Ini menunjukkan bahwa umat Islam harus merujuk kepada sunnah Nabi ﷺ dalam beribadah, bukan kepada tradisi atau kebiasaan yang tidak berdasar.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika para sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ tentang bagaimana cara bershalawat kepada beliau, karena Allah telah memerintahkan dalam QS. Al-Ahzab: 56. Nabi ﷺ kemudian mengajarkan lafaz shalawat yang kita kenal dalam hadits Ka'b bin 'Ujrah: "Allahumma salli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad, kama sallaita 'ala Ibrahim wa 'ala ali Ibrahim..." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Hadits Zaid bin Kharijah ini menegaskan hal yang sama: shalawat diajarkan dengan lafaz tertentu, dan kita diperintahkan bersungguh-sungguh dalam berdoa. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri dikenal sangat bersungguh-sungguh dalam berdoa dan bershalawat, menghadirkan hati, dan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ tanpa menambah-nambah. Hikmahnya: ibadah yang benar adalah yang sesuai tuntunan, bukan yang banyak tetapi tanpa dasar.

Kesimpulan Praktis

  1. Bershalawatlah dengan lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ, seperti "Allahumma salli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad."
  2. Bersungguh-sungguhlah dalam berdoa: hadirkan hati, pilih waktu mustajab, dan jangan tergesa-gesa.
  3. Sertakan keluarga Nabi (ali) dalam shalawat sesuai tuntunan, tanpa berlebihan (ghuluw) terhadap individu tertentu.
  4. Ikuti sunnah dalam berdoa dan berdzikir; jangan mengarang lafaz yang tidak ada dasarnya, sebagaimana ditegaskan Ibn Taymiyyah dan Ibn Qayyim.
  5. Bertanyalah kepada ahlinya untuk memahami tuntunan Nabi ﷺ dengan benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?