Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan lafaz shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ ketika seorang sahabat bertanya bagaimana cara bershalawat kepada beliau. Lafaz yang diajarkan adalah: "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama shallaita 'ala Ibrahim, innaka hamidun majid, wa barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama barakta 'ala Ibrahim, innaka hamidun majid." Intinya: shalawat itu tauqifiyah (mengikuti ajaran Nabi), bukan dibuat-buat sendiri, dan mencakup Nabi ﷺ beserta keluarganya (ali), dengan meneladani shalawat kepada Nabi Ibrahim عليه السلام.
Rujukan Ulama & Dalil
Al-Qur'an — perintah bershalawat:
QS. Al-Ahzab [33]: 56
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."
Hadits terkait (shahih):
- Hadits Ka'b bin 'Ujrah رضي الله عنه tentang cara shalawat — diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim (dalam Shahih keduanya), dengan lafaz yang semakna: "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad..."
- Hadits riwayat An-Nasa'i ini (Sunan An-Nasa'i no. 1291) melalui jalur Musa bin Thalhah dari ayahnya (Thalhah bin 'Ubaidillah رضي الله عنه).
Kaitan ulama & kitab:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas panjang tentang lafaz-lafaz shalawat dan menyimpulkan bahwa lafaz yang paling utama adalah yang diajarkan Nabi ﷺ sendiri, sebagaimana dalam hadits Ka'b bin 'Ujrah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (dan Al-Adzkar) menjelaskan bahwa shalawat yang paling afdhal adalah lafaz "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad..." karena itulah yang diajarkan Nabi ﷺ saat ditanya.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Jala' al-Afham fi Fadhl ash-Shalati 'ala Muhammadin Khairil Anam merinci keutamaan dan adab shalawat, serta menegaskan shalawat bersifat tauqifiyah.
Penjelasan Rinci
1. Sebab munculnya hadits (asbabul wurud).
Seorang lelaki datang kepada Nabi ﷺ dan bertanya: "Bagaimana kami bershalawat atasmu?" Pertanyaan ini muncul karena Al-Qur'an memerintahkan bershalawat (QS. Al-Ahzab: 56), tetapi sahabat belum tahu lafaznya. Maka Nabi ﷺ mengajarkan lafaznya secara langsung. Ini menunjukkan shalawat adalah ibadah tauqifiyah — harus mengikuti tuntunan, bukan dikarang sendiri.
2. Makna lafaz shalawat.
- "Allahumma shalli 'ala Muhammad" — ya Allah, berilah shalawat (pujian, rahmat, dan pengagungan) kepada Muhammad ﷺ.
- "wa 'ala ali Muhammad" — dan kepada keluarga beliau (menurut Imam asy-Syafi'i dan jumhur: ali mencakup keluarga dekat dan keturunan beliau yang beriman; sebagian ulama memasukkan pula istri-istri beliau).
- "kama shallaita 'ala Ibrahim" — sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim عليه السلام, yakni menjadikan shalawat kepada beliau sebagai teladan yang sudah dikenal dan diterima.
- "innaka hamidun majid" — sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ini pujian kepada Allah sebagai penutup doa.
- Bagian "wa barik 'ala Muhammad..." — memohon keberkahan (barakah), yaitu tambahan kebaikan dan kemuliaan yang terus mengalir.
3. Pandangan ulama dalam daftar.
- Imam an-Nawawi (Al-Adzkar, Syarh Muslim): lafaz ini adalah shalawat yang paling utama karena diajarkan Nabi ﷺ saat ditanya; beliau juga menyebutkan bahwa shalawat Ibrahimiyah ini mencakup shalawat dan barakah sekaligus.
- Ibnu Hajar al-Asqalani (Fathul Bari): menjelaskan perbedaan lafaz-lafaz shalawat yang diriwayatkan, dan bahwa semuanya boleh diamalkan, namun yang paling afdhal adalah yang lengkap dengan "kama shallaita 'ala Ibrahim" dan "wa barik".
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah (Jala' al-Afham): menegaskan keutamaan shalawat dan bahwa lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ lebih utama daripada lafaz buatan sendiri.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam syarah kitab-kitab hadits dan fatwa beliau): menegaskan wajibnya mengikuti lafaz yang diajarkan dan tidak membuat lafaz baru yang tidak ada tuntunannya.
4. Perbedaan pendapat ringkas.
Para ulama berbeda tentang hukum bershalawat dalam shalat (dalam tasyahud): Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad mewajibkan shalawat dalam tasyahud akhir; Imam Abu Hanifah dan Imam Malik tidak mewajibkan (hanya sunnah). Yang paling kuat menurut dalil — sebagaimana dikuatkan Ibn Qayyim dan asy-Syafi'i — adalah wajibnya shalawat dalam tasyahud akhir, berdasarkan perintah Nabi ﷺ dalam hadits Ka'b bin 'Ujrah: "Katakanlah: Allahumma shalli 'ala Muhammad..." ketika ditanya tentang cara bershalawat dalam shalat.
Story Telling
Dikisahkan bahwa para sahabat pernah bertanya kepada Nabi ﷺ: "Wahai Rasulullah, bagaimana kami bershalawat atasmu?" Maka beliau mengajarkan lafaz shalawat Ibrahimiyah ini (sebagaimana dalam hadits Thalhah bin 'Ubaidillah رضي الله عنه riwayat An-Nasa'i, dan hadits Ka'b bin 'Ujrah riwayat Al-Bukhari–Muslim). Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa para sahabat begitu bersemangat mengetahui lafaz shalawat karena mereka sadar shalawat adalah ibadah agung yang menghubungkan hamba dengan Nabinya. Hikmahnya: bertanya kepada ahli ilmu adalah jalan mendapatkan ilmu yang benar, dan mengikuti tuntunan Nabi lebih selamat daripada berijtihad sendiri dalam ibadah.
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan dan amalkan lafaz shalawat Ibrahimiyah ini, terutama dalam tasyahud akhir shalat dan saat berdoa.
- Jangan mengarang lafaz shalawat yang tidak ada tuntunannya; ikuti yang diajarkan Nabi ﷺ.
- Sertakan keluarga Nabi (ali Muhammad) dalam shalawat, sebagaimana dalam lafaz ini.
- Perbanyak shalawat di hari Jumat dan malam Jumat, serta saat berdoa, sesuai anjuran hadits-hadits shahih.
- Bertanyalah kepada ulama ketika belum tahu tata cara ibadah, seperti sahabat yang bertanya kepada Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.