Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1289 tentang Cara membaca shalawat kepada Nabi dan keluarganya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan lafaz shalawat yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ ketika para sahabat bertanya bagaimana cara bershalawat kepada beliau. Kita diperintahkan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, dengan menyerupakan keberkahan yang Allah berikan kepada beliau sebagaimana yang diberikan kepada keluarga Nabi Ibrahim. Shalawat ini termasuk amalan agung yang diperintahkan dalam Al-Qur'an dan dijelaskan rinci oleh sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an:

QS. Al-Ahzab [33]: 56

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1289), dari jalur Ka'b bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu, melalui Ibnu Abi Laila. Hadits semakna juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim dari Ka'b bin 'Ujrah, dan hal ini menunjukkan kuatnya riwayat ini.

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama tentang tata cara shalawat yang diajarkan Nabi ﷺ, dan bahwa lafaz inilah yang paling utama.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama sepakat bahwa shalawat dengan lafaz "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad" adalah lafaz yang paling sempurna.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Jala' al-Afham menegaskan bahwa shalawat kepada keluarga Nabi termasuk bagian yang diperintahkan, bukan tambahan yang dibuat-buat.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Para sahabat sudah mengetahui cara mengucapkan salam kepada Nabi ﷺ (yaitu "Assalamu 'alaika ya Rasulullah"), tetapi mereka belum mengetahui lafaz shalawat yang tepat. Maka Nabi ﷺ mengajarkan lafaznya secara rinci. Ini menunjukkan bahwa ibadah shalawat bersifat tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil, tidak boleh dikarang sendiri).

Pemahaman ulama:

  1. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dalam lafaz ini terdapat penyebutan "keluarga Muhammad" (ali Muhammad), dan ini menunjukkan keutamaan ahli bait serta kewajiban mencintai mereka. Beliau juga menyebutkan bahwa shalawat ini mengandung makna permohonan agar Allah melimpahkan rahmat, keberkahan, dan pujian kepada Nabi ﷺ sebagaimana yang telah diberikan kepada keluarga Ibrahim.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa lafaz "kama shallaita 'ala ali Ibrahim" menunjukkan bahwa shalawat kepada Nabi tidak boleh mengurangi penyebutan keluarga, karena keluarga Nabi memiliki kedudukan yang mulia. Beliau juga menegaskan bahwa shalawat ini wajib dibaca dalam tasyahud akhir menurut pendapat yang kuat.
  3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Jala' al-Afham menerangkan bahwa shalawat memiliki dua bentuk: (a) shalawat mutlak, yaitu memohon rahmat untuk Nabi ﷺ, dan (b) shalawat muqayyad, yaitu lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini. Beliau menegaskan bahwa lafaz inilah yang paling utama dan paling afdhal.
  4. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa shalawat ini mengandung tiga makna: (1) pujian Allah kepada Nabi di hadapan para malaikat, (2) doa agar Nabi diberi keberkahan, dan (3) pengakuan atas kedudukan Nabi yang mulia. Beliau juga menekankan bahwa shalawat bukan sekadar ucapan, tetapi harus disertai kecintaan dan pengagungan.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama berbeda pendapat tentang apakah lafaz shalawat ini wajib dalam shalat atau hanya sunnah. Namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal — adalah bahwa shalawat dalam tasyahud akhir hukumnya wajib, dan lafaz yang paling utama adalah yang terdapat dalam hadits ini.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ka'b bin 'Ujrah radhiyallahu 'anhu suatu ketika bertemu dengan Ibnu Abi Laila dan berkata, "Maukah aku hadiahkan kepadamu sesuatu?" Lalu beliau menyebutkan hadits ini. Ini menunjukkan bahwa para sahabat saling berwasiat dalam kebaikan, dan mereka menganggap ilmu tentang shalawat sebagai hadiah yang berharga.

Dalam riwayat lain, para sahabat pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang cara bershalawat, dan Nabi ﷺ tidak marah, melainkan menjawab dengan lembut dan rinci. Ini menunjukkan bahwa bertanya tentang agama adalah bagian dari adab yang baik, dan Nabi ﷺ mengajarkan dengan penuh kasih sayang.

Hikmah: Ilmu tentang shalawat adalah warisan berharga dari Nabi ﷺ. Para sahabat tidak hanya menerima, tetapi juga menyampaikannya kepada generasi berikutnya. Kita pun hendaknya mempelajari dan mengamalkannya dengan benar.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan lafaz shalawat ini dan biasakan membacanya, terutama dalam tasyahud akhir shalat.
  2. Sertakan keluarga Nabi dalam shalawat, karena ini bagian dari perintah Nabi ﷺ.
  3. Pahami maknanya, bukan sekadar melafalkan — yaitu memohon rahmat dan keberkahan untuk Nabi dan keluarganya.
  4. Jangan mengarang lafaz shalawat yang tidak diajarkan Nabi ﷺ, karena ibadah ini bersifat tauqifiyyah.
  5. Ajarkan kepada keluarga dan orang lain, sebagaimana Ka'b bin 'Ujrah mengajarkannya sebagai hadiah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?