Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa ucapan salam dalam shalat tidak boleh ditujukan kepada makhluk seperti Jibril dan Mika'il, karena Allah sendiri adalah As-Salam (Mahasumber keselamatan). Rasulullah ﷺ kemudian mengajarkan lafaz tasyahhud yang benar, yaitu At-Tahiyyatu lillahi... yang berisi tauhid, pengagungan kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, salam kepada hamba-hamba saleh, dan dua kalimat syahadat. Tasyahhud ini wajib dibaca pada setiap shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Al-Qur'an:
Allah berfirman:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
QS. Al-Fatihah [1]: 2
"Segala pujian hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam."
Ayat ini menjadi dasar bahwa segala bentuk pujian, doa, dan pengagungan hanya layak ditujukan kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab As-Sahu, Bab Wujub At-Tasyahhud, dari Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, melalui jalur Sufyan (ats-Tsauri) dari Al-A'masy dan Manshur, dari Syaqiq bin Salamah, dari Ibnu Mas'ud.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih keduanya, serta Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa tasyahhud adalah bagian yang sangat ditekankan dalam shalat.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa lafaz tasyahhud Ibnu Mas'ud ini adalah yang paling shahih dan paling banyak dipilih oleh para ulama.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan tasyahhud ini secara konsisten dan tidak pernah meninggalkannya.
Penjelasan Rinci
Latar belakang hadits:
Sebelum tasyahhud diwajibkan, para sahabat biasa mengucapkan salam kepada Allah, Jibril, dan Mika'il dalam shalat mereka. Mereka mengira bahwa menyebut nama malaikat mulia dalam salam adalah bentuk penghormatan. Namun Rasulullah ﷺ melarangnya dengan alasan yang sangat mendalam: Allah sendiri adalah As-Salam — sumber segala keselamatan dan kedamaian. Maka tidak pantas kita mengucapkan "salam kepada Allah" seolah-olah kita memberi salam kepada-Nya, karena justru dari-Nya segala salam berasal.
Makna lafaz tasyahhud:
- التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ — Segala penghormatan, pujian, dan pengagungan hanya milik Allah.
- وَالصَّلَوَاتُ — Segala doa dan ibadah hanya untuk Allah.
- وَالطَّيِّبَاتُ — Segala perkataan dan amal yang baik hanya milik Allah.
- السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ — Salam sejahtera atasmu wahai Nabi. Ini menunjukkan kecintaan dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.
- السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ — Salam untuk diri kita dan seluruh hamba Allah yang saleh, baik yang di langit maupun di bumi.
- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ — Persaksian tauhid.
- وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ — Persaksian kenabian Muhammad ﷺ.
Pemahaman ulama:
- Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa larangan "jangan ucapkan seperti ini" menunjukkan bahwa ibadah harus berdasarkan tuntunan (taufiqiyyah), tidak boleh dibuat-buat sendiri meskipun niatnya baik.
- Ibnu Hajar al-Asqalani menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan wajibnya tasyahhud dalam shalat, dan lafaz Ibnu Mas'ud adalah yang paling utama karena paling shahih sanadnya.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan tasyahhud ini kepada para sahabat seperti mengajarkan surat Al-Qur'an, menunjukkan betapa pentingnya.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Mumti' menjelaskan bahwa tasyahhud mengandung tauhid, pengagungan kepada Allah, dan doa, sehingga wajib dibaca dengan tenang dan penuh penghayatan.
Perbedaan pendapat:
Para ulama berbeda pendapat tentang lafaz tasyahhud mana yang paling utama. Sebagian memilih lafaz Ibnu Mas'ud (yang paling shahih), sebagian memilih lafaz Ibnu Abbas. Namun Ibnu Hajar dan An-Nawawi menyatakan bahwa lafaz Ibnu Mas'ud adalah yang paling kuat dan paling banyak dipilih oleh para ulama karena sanadnya paling shahih dan maknanya paling lengkap.
Story Telling
Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Rasulullah ﷺ dan paling banyak meriwayatkan hadits. Ia pernah berkata: "Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang tasyahhud, karena aku mendengarnya langsung dari Rasulullah ﷺ."
Suatu hari, ketika para sahabat sedang shalat, mereka mengucapkan salam kepada Allah, Jibril, dan Mika'il. Rasulullah ﷺ mendengar dan melarang mereka. Beliau kemudian mengajarkan lafaz tasyahhud yang benar, dan para sahabat pun menerimanya dengan penuh ketaatan.
Hikmah: Ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan logika atau kebiasaan. Meskipun niatnya baik, jika tidak sesuai sunnah, maka tidak diterima.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah tasyahhud dengan lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ, yaitu At-Tahiyyatu lillahi... hingga syahadat.
- Jangan mengucapkan salam kepada makhluk dalam shalat, karena salam hanya milik Allah.
- Hayati makna tasyahhud: tauhid, pengagungan kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, dan doa untuk hamba-hamba saleh.
- Tasyahhud adalah wajib dalam shalat menurut jumhur ulama, maka jangan meninggalkannya.
- Ikutilah sunnah Nabi ﷺ dalam ibadah, jangan menambah atau mengurangi.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.