Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ agar kita tidak mengangkat pandangan mata ke langit ketika berdoa di dalam shalat. Larangan ini menunjukkan adab yang sangat penting dalam shalat, yaitu kekhusyukan dan menghadirkan hati di hadapan Allah. Ancaman "kehilangan penglihatan" adalah bentuk peringatan yang sangat tegas agar kita menjauhi perbuatan tersebut sepenuhnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam An-Nasa'i:
Teks hadits yang Anda berikan sudah lengkap dengan sanadnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz yang semakna. Ini menunjukkan bahwa hadits ini shahih dan kuat.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang kekhusyukan dalam shalat:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2)
Ayat ini menunjukkan bahwa kekhusyukan adalah ruh dari shalat, dan mengangkat pandangan ke langit adalah salah satu perusak kekhusyukan tersebut.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in sangat memperhatikan adab ini. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab tentang larangan menengadah ke langit saat shalat. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan ini bersifat tegas (tahrim) berdasarkan konteks hadits yang berisi ancaman. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa larangan ini adalah untuk menjaga kekhusyukan dan adab berdiri di hadapan Allah.
Penjelasan Rinci
Hadits ini datang dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau menyampaikan sabda Nabi ﷺ yang berisi larangan keras: "Orang-orang harus berhenti mengangkat pandangan mereka ke langit ketika mereka berdoa dalam shalat, atau mereka akan kehilangan penglihatan mereka."
Ada beberapa poin penting yang perlu kita pahami dari hadits ini:
- Larangan yang Tegas: Kata "layantahiyanna" (لَيَنْتَهِيَنَّ) adalah bentuk sumpah yang menunjukkan ancaman. Ini bukan sekadar nasihat biasa, melainkan peringatan yang sangat serius. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa larangan ini bersifat haram (terlarang), bukan sekadar makruh (dibenci), karena adanya ancaman yang sangat berat.
- Hikmah Larangan: Mengangkat pandangan ke langit saat shalat adalah perbuatan yang bertentangan dengan esensi shalat itu sendiri. Shalat adalah saat seorang hamba berdiri menghadap Rabb-nya dengan penuh penghambaan. Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa kekhusyukan adalah inti dari shalat, dan salah satu perusaknya adalah pandangan yang liar. Pandangan mata adalah "pintu" bagi hati; jika mata menengadah ke langit, maka hati pun akan kehilangan fokus dan konsentrasinya.
- Ancaman "Kehilangan Penglihatan": Ancaman ini bisa dipahami secara tekstual (bahwa pelakunya bisa benar-benar kehilangan penglihatan) atau sebagai bentuk peringatan keras tentang bahaya besar perbuatan ini. Imam Al-Qurthubi (yang sejalan dengan pemahaman ulama salaf) menegaskan bahwa ancaman ini adalah bentuk tahzir (pemberian peringatan) yang sangat kuat agar seorang muslim tidak bermain-main dengan shalatnya. Ini menunjukkan betapa besarnya perhatian syariat terhadap adab dan kekhusyukan dalam ibadah.
- Pandangan Saat Shalat: Para ulama menjelaskan bahwa tempat pandangan yang disunnahkan saat shalat adalah ke tempat sujud. Ini adalah pendapat yang masyhur dari madzhab Syafi'i dan lainnya. Imam Asy-Syafi'i sendiri dalam kitabnya Al-Umm menjelaskan bahwa seorang yang shalat hendaknya menundukkan pandangannya dan tidak menoleh ke sana ke mari, karena hal itu mengurangi kekhusyukan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang shalat sambil menggerak-gerakkan janggutnya. Beliau menjawab, "Kalau saja aku punya kuasa, pasti akan kucekal tangannya." Ini menunjukkan betapa tegasnya para ulama salaf dalam menjaga kekhusyukan shalat. Mereka sangat memperhatikan setiap gerakan dan pandangan dalam shalat, karena shalat adalah pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Kisah lain, Sa'id bin al-Musayyib - salah seorang tabi'in terkemuka - dikenal sangat khusyuk dalam shalatnya. Beliau tidak pernah menoleh ke kanan atau ke kiri, dan pandangannya selalu tertuju ke tempat sujudnya. Ini adalah buah dari pemahaman beliau terhadap adab-adab shalat yang diajarkan oleh para sahabat.
Kesimpulan Praktis
- Jaga Pandangan: Saat shalat, usahakan pandangan mata kita tertuju ke tempat sujud. Ini adalah sunnah dan membantu menjaga kekhusyukan.
- Hindari Menengadah: Jangan sekali-kali mengangkat pandangan ke langit saat shalat, baik saat membaca doa, rukuk, sujud, maupun saat duduk. Ini adalah perbuatan yang dilarang keras.
- Fokus pada Makna: Cobalah untuk memahami apa yang kita baca dalam shalat. Ini akan membantu hati kita hadir dan khusyuk.
- Perbaiki Shalat Kita: Jadikan shalat sebagai momen terbaik untuk berkomunikasi dengan Allah. Jangan biarkan gangguan-gangguan kecil merusak ibadah kita yang sangat agung ini.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.