Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1213 tentang Adab memberi salam kepada Nabi saat sahur

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i (wafat 303 H) dalam Sunan-nya, dan ia menceritakan kebiasaan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang memiliki kedekatan khusus dengan Nabi ﷺ. Ali biasa mendatangi Nabi ﷺ di waktu sahur (akhir malam) untuk mengucapkan salam; jika beliau berdehem (tanda sudah bangun), Ali masuk, jika tidak, ia pulang. Hadits ini menunjukkan adab dalam mendatangi Nabi ﷺ dan keutamaan menjaga waktu-waktu mulia untuk beribadah dan menuntut ilmu.

Perlu dicatat: sanad hadits ini mengandung kelemahan menurut para ulama hadits, karena di dalamnya ada perawi yang diperbincangkan. Namun maknanya tetap mengandung pelajaran adab yang baik.

---

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan

QS. Al-Hujurat [49]: 2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari."

QS. Al-Hujurat [49]: 4

إِنَّ الَّذِينَ يُنَادُونَكَ مِنْ وَرَاءِ الْحُجُرَاتِ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad) dari luar kamar(mu), kebanyakan mereka tidak mengerti."

QS. Al-A'raf [7]: 205

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغَدَاةِ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ

"Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah."

Hadits terkait

Hadits ini sendiri dari Sunan An-Nasa'i no. 1213, dari jalur Abdullah bin Nujayy dari ayahnya (Nujayy bin Salamah).

Imam An-Nasa'i meriwayatkannya dalam bab yang berkaitan dengan adab dalam shalat dan mendatangi Nabi ﷺ.

Kaitan dengan ulama

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa adab mendatangi Nabi ﷺ di waktu-waktu tertentu menunjukkan penghormatan tinggi kepada beliau.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menekankan pentingnya adab terhadap Nabi ﷺ dan ulama.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan QS. Al-Hujurat [49]: 2 sebagai larangan mengeraskan suara di hadapan Nabi ﷺ, yang menunjukkan betapa besar adab yang dituntut.

---

Penjelasan Rinci

1. Kedudukan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

Ali bin Abi Thalib adalah sepupu sekaligus menantu Nabi ﷺ, dan termasuk sahabat yang paling dekat. Ia tumbuh dalam asuhan Nabi ﷺ sejak kecil. Kedekatan ini bukan hanya hubungan keluarga, tetapi juga kedekatan iman dan ilmu.

Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa Ali termasuk khulafa' ar-rasyidin dan salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits serta paling dalam ilmunya.

2. Makna "kedudukan yang tidak dimiliki seorang pun"

Ucapan Ali ini bukanlah bentuk kesombongan, melainkan penjelasan tentang keutamaan yang Allah berikan kepadanya berupa kedekatan khusus dengan Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan Nabi ﷺ adalah nikmat besar yang harus disyukuri.

3. Kebiasaan datang di waktu sahur

Waktu sahur (akhir malam) adalah waktu yang penuh berkah. Allah memuji orang-orang yang beristighfar di waktu sahur:

QS. Ali 'Imran [3]: 17

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنْفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

"(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur."

Ibn Katsir menjelaskan bahwa waktu sahur adalah waktu mustajab untuk berdoa dan beristighfar.

4. Adab mengucapkan salam dan menunggu izin

Ali mengucapkan salam, lalu jika Nabi ﷺ berdehem (tanda bangun), ia masuk; jika tidak, ia pulang. Ini menunjukkan:

  • Adab tidak memaksa masuk ke tempat Nabi ﷺ tanpa izin.
  • Menghormati waktu istirahat Nabi ﷺ.
  • Kesabaran Ali yang rela datang setiap hari meski kadang tidak bertemu.

Imam an-Nawawi dalam Al-Adzkar menekankan bahwa mengucapkan salam sebelum masuk rumah atau menemui seseorang adalah sunnah yang sangat dianjurkan.

5. Catatan tentang sanad

Para ulama hadits seperti Abu Hatim ar-Razi dan Abu Zur'ah ar-Razi menilai bahwa Abdullah bin Nujayy dan ayahnya (Nujayy bin Salamah) adalah perawi yang majhul (tidak dikenal) atau dha'if (lemah). Karena itu, hadits ini tidak mencapai derajat shahih.

Namun, An-Nasa'i tetap meriwayatkannya karena maknanya mengandung adab yang baik dan tidak bertentangan dengan prinsip syariat. Ini adalah metode sebagian ulama hadits yang meriwayatkan hadits dha'if dalam bab fadha'il al-a'mal (keutamaan amal) atau adab, dengan catatan tidak untuk menetapkan hukum.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa hadits-hadits tentang adab dan keutamaan boleh diriwayatkan meski sanadnya lemah, selama tidak mengandung kebohongan.

6. Perbedaan pendapat

Sebagian ulama seperti Ibn Hibban memasukkan hadits ini dalam kitabnya Shahih-nya, yang menunjukkan bahwa ia menilai sanadnya dapat diterima. Namun mayoritas ulama hadits menilai sanadnya lemah.

Kesimpulan sanad: Hadits ini dha'if (lemah) dari sisi sanad, tetapi maknanya shahih secara umum karena didukung oleh ayat-ayat dan hadits-hadits lain tentang adab terhadap Nabi ﷺ.

---

Story Telling

Dikisahkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, meskipun beliau adalah orang yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ, tetap menjaga adab yang luar biasa. Beliau tidak pernah merasa berhak masuk begitu saja ke rumah Nabi ﷺ tanpa izin.

Suatu ketika, Ali datang di waktu sahur seperti biasa. Ia mengucapkan salam dengan lembut. Namun tidak ada jawaban. Ali tidak marah, tidak membangunkan Nabi ﷺ dengan paksa, dan tidak merasa kecewa. Ia hanya pulang dengan hati yang tenang, karena tujuannya bukanlah memuaskan dirinya, tetapi berkhidmat kepada Nabi ﷺ.

Fudail bin 'Iyadh pernah berkata: "Barangsiapa yang ingin melihat bagaimana adab kepada guru dan pemimpin, maka lihatlah adab Ali kepada Nabi ﷺ."

Hikmahnya: Kedekatan tidak menghapus adab. Justru semakin dekat seseorang dengan orang mulia, semakin besar adab yang harus dijaga.

---

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga adab terhadap Nabi ﷺ dan para ulama, meskipun kita merasa dekat atau sering berinteraksi dengan mereka.
  2. Manfaatkan waktu sahur untuk berdoa, beristighfar, dan mendekatkan diri kepada Allah.
  3. Ucapkan salam sebelum masuk atau menemui seseorang, dan tunggu jawaban dengan sabar.
  4. Jangan memaksa ketika orang lain sedang istirahat atau tidak dalam keadaan siap menerima tamu.
  5. Ketahuilah bahwa hadits ini lemah sanadnya, namun maknanya tetap baik untuk diamalkan sebagai adab, bukan sebagai dalil hukum.
  6. Rujuklah kepada ulama terpercaya untuk memahami derajat hadits dan cara mengamalkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?