Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1173 tentang Tuntunan lafaz tashahhud saat duduk dalam shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah dalil utama tentang lafazh tasyahhud awal yang diajarkan Nabi ﷺ kepada para sahabat. Intinya, ketika seorang muslim duduk di tengah atau akhir shalat, bacaan pertama yang dianjurkan adalah kalimat at-tahiyyat yang berisi pujian kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, salam untuk hamba-hamba yang shalih, dan syahadat. Hadits ini menunjukkan bahwa tasyahhud adalah bagian dari shalat yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, dan para ulama menjadikannya sebagai salah satu bentuk tasyahhud yang shahih.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1173), dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang Anda sertakan sudah lengkap dengan sanadnya, dan ini adalah lafazh yang shahih. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 404) dengan redaksi yang hampir sama, dari jalur Qatadah dari Yunus bin Jubair dari Hittan bin Abdullah.

Ayat Al-Qur'an yang relevan — meskipun tidak secara langsung membahas tasyahhud, Allah berfirman tentang perintah shalat dan kewajiban mengikuti Nabi ﷺ:

QS. Al-Baqarah [2]: 43

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk."

Ayat ini menunjukkan perintah shalat secara umum, dan hadits-hadits Nabi ﷺ menjelaskan tata caranya, termasuk bacaan tasyahhud.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nasa'i (w. 303 H) memuat hadits ini dalam kitabnya sebagai bab tentang jenis tasyahhud, menunjukkan bahwa beliau menganggapnya sebagai salah satu bentuk tasyahhud yang diajarkan Nabi ﷺ.
  • Imam Al-Bukhari (w. 256 H) dan Imam Muslim (w. 261 H) juga meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahih mereka, menegaskan keshahihannya.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya tasyahhud dan bahwa lafazh ini adalah salah satu yang shahih dari Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Kedudukan Tasyahhud dalam Shalat

Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa tasyahhud adalah bagian dari shalat yang disepakati kewajibannya oleh jumhur ulama. Beliau menukil ijma' bahwa tasyahhud akhir adalah rukun shalat, sementara tasyahhud awal adalah wajib menurut madzhab Syafi'i dan Hanbali, dan sunnah menurut madzhab Hanafi dan Maliki.

2. Kandungan Lafazh Tasyahhud

Lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini mengandung:

  • Pujian kepada Allah: At-tahiyyatu lillahi was-salawatu wat-tayyibat — segala penghormatan, shalat (doa), dan kebaikan adalah milik Allah.
  • Salam kepada Nabi ﷺ: As-salamu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh — ini adalah bentuk penghormatan kepada Nabi ﷺ.
  • Salam untuk hamba shalih: As-salamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahis-shalihin — mendoakan keselamatan untuk diri sendiri dan seluruh hamba Allah yang shalih.
  • Syahadat: Asyhadu an la ilaha illallah wahdahu la syarika lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluh — kesaksian tauhid dan kerasulan.

3. Makna "Pertama Kali Diucapkan"

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa maksud sabda Nabi ﷺ "maka hendaklah dari awal perkataan salah seorang kalian" adalah bahwa tasyahhud ini adalah bacaan pertama yang diucapkan ketika duduk, bukan setelah membaca shalawat atau doa lainnya. Ini menunjukkan bahwa tasyahhud memiliki urutan tersendiri dalam shalat.

4. Hikmah Salam kepada Nabi ﷺ

Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ masih hidup, para sahabat mengucapkan salam langsung kepada beliau. Setelah beliau wafat, salam ini tetap disyariatkan karena Nabi ﷺ hidup di kuburnya dan menjawab salam orang yang mengucapkannya. Ini adalah bentuk penghormatan yang tidak terputus.

5. Perbedaan Pendapat Ulama tentang Lafazh Tasyahhud

Para ulama berbeda pendapat tentang lafazh tasyahhud mana yang paling utama:

  • Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H) memilih lafazh tasyahhud Ibnu Abbas yang diriwayatkan dalam Shahih Muslim, karena dianggap paling lengkap.
  • Imam Abu Hanifah (w. 150 H) memilih lafazh tasyahhud Ibnu Mas'ud.
  • Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) membolehkan semua lafazh yang shahih dari Nabi ﷺ, dan tidak mengkhususkan satu lafazh saja.

Syaikh Al-Albani (w. 1420 H) dalam Sifat Shalat Nabi menjelaskan bahwa semua lafazh tasyahhud yang shahih dari Nabi ﷺ boleh digunakan, dan yang terbaik adalah bergantian menggunakan beberapa lafazh tersebut agar menghidupkan semua sunnah.

6. Hikmah Kandungan Tasyahhud

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tasyahhud mengandung pelajaran tauhid, penghormatan kepada Nabi ﷺ, dan doa untuk kebaikan sesama muslim. Ini menunjukkan bahwa shalat bukan hanya gerakan fisik, tetapi juga sarana pendidikan iman dan akhlak.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Hittan bin Abdullah — perawi hadits ini — menceritakan bahwa suatu hari mereka shalat bersama Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Setelah selesai shalat, Abu Musa berkata kepada mereka: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Ketika kalian duduk (dalam shalat), maka hendaklah dari awal perkataan salah seorang kalian adalah at-tahiyyat...'"

Yang menarik, Abu Musa Al-Asy'ari adalah sahabat yang diutus Rasulullah ﷺ ke Yaman bersama Mu'adz bin Jabal. Beliau dikenal dengan suaranya yang merdu dalam membaca Al-Qur'an, dan Rasulullah ﷺ pernah memujinya. Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian untuk menyampaikan ajaran Nabi ﷺ secara persis, termasuk lafazh tasyahhud yang mungkin dianggap detail, namun mereka menjaganya dengan teliti.

Hikmahnya: kita harus menjaga detail ibadah sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ, karena kesempurnaan shalat tidak hanya pada gerakan, tetapi juga pada bacaan-bacaannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan lafazh tasyahhud ini dan gunakan dalam shalat, karena ini adalah salah satu lafazh yang shahih dari Nabi ﷺ.
  2. Dahulukan tasyahhud ketika duduk dalam shalat, sebelum membaca doa-doa lainnya.
  3. Pahami maknanya agar shalat kita lebih khusyuk dan bermakna.
  4. Boleh bergantian menggunakan lafazh tasyahhud yang shahih lainnya (seperti lafazh Ibnu Mas'ud atau Ibnu Abbas) agar semua sunnah teramalkan.
  5. Ajarkan kepada keluarga lafazh tasyahhud ini sebagaimana para sahabat mengajarkannya kepada generasi setelah mereka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id tetap gratis untuk semua

Yuk, bantu penjelasan AI tetap ada

Menjalankan AI membutuhkan biaya. Dukungan donatur sangat membantu agar penjelasan hadits terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi