Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa tasyahhud adalah bacaan yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada para sahabat dengan penuh perhatian, sebagaimana beliau mengajarkan Al-Qur'an. Bacaan tasyahhud berisi pujian kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, salam kepada diri sendiri dan hamba-hamba saleh, serta dua kalimat syahadat. Para ulama menjelaskan bahwa tasyahhud wajib dibaca dalam shalat pada duduk tasyahhud, dan hadits ini merupakan salah satu dalil utama dalam bab tersebut.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Tasyahhud, Bab Cara Tasyahhud Pertama, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Ishaq bin Ibrahim → Al-Fadhl bin Dukain → Saif al-Makki → Mujahid → Abu Ma'mar → Abdullah bin Mas'ud.
Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu Mas'ud, serta oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih, dan Imam Al-Bukhari menjadikannya sebagai hadits paling shahih dalam bab tasyahhud.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan perintah mengingat Allah dalam shalat dan duduk:
QS. Al-Baqarah [2]: 238
وَحَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ
Terjemahan: "Peliharalah semua shalat dan shalat wustha, dan berdirilah untuk Allah dengan khusyuk."
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan menjaga shalat dengan sempurna, termasuk rukun, wajib, dan bacaan-bacaannya, di antaranya tasyahhud.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan tasyahhud dalam shalat
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa tasyahhud adalah salah satu bacaan yang sangat ditekankan dalam shalat. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits Ibnu Mas'ud ini adalah riwayat yang paling kuat dan paling banyak dipegang oleh para ulama dalam menentukan lafaz tasyahhud.
2. Makna lafaz tasyahhud
- التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ — Segala penghormatan, keagungan, dan kekekalan hanya milik Allah. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "tahiyyat" mencakup segala bentuk penghormatan yang layak hanya bagi Allah.
- وَالصَّلَوَاتُ — Segala ibadah shalat dan doa hanya untuk Allah.
- وَالطَّيِّبَاتُ — Segala perkataan dan amal yang baik hanya milik Allah. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa "thayyibat" mencakup amal saleh dan kalimat thayyibah.
- السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ — Salam kepada Nabi ﷺ. Para ulama seperti Ibnu Hajar menjelaskan bahwa penggunaan kata "Nabi" bukan "Rasul" di sini menunjukkan penghormatan khusus, dan ini tetap digunakan setelah wafatnya Nabi ﷺ berdasarkan ijma' sahabat.
- السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ — Salam untuk diri sendiri dan seluruh hamba Allah yang saleh, termasuk jin dan manusia yang beriman. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa doa ini mencakup seluruh hamba saleh di langit dan bumi.
- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ — Persaksian tauhid, inti seluruh ajaran Islam.
- وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ — Persaksian kenabian Muhammad ﷺ.
3. Hukum membaca tasyahhud
Menurut Imam Ahmad bin Hanbal, Imam asy-Syafi'i, dan Imam Malik, tasyahhud adalah wajib dalam shalat. Imam Abu Hanifah juga mewajibkannya pada duduk terakhir. Dalilnya adalah perintah Nabi ﷺ dalam hadits Ibnu Mas'ud ini dan hadits-hadits lain, seperti perintah beliau kepada orang yang salah shalat: "Jika engkau duduk, bacalah tasyahhud..."
4. Cara Nabi ﷺ mengajarkan
Perkataan Ibnu Mas'ud "sebagaimana beliau mengajarkan kepada kami sebuah surah dari Al-Qur'an" menunjukkan betapa pentingnya tasyahhud dan betapa seriusnya Nabi ﷺ dalam mengajarkannya. Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa ini menunjukkan tasyahhud harus dibaca dengan lafaz yang diajarkan, tidak boleh diganti dengan lafaz lain.
5. Perbedaan pendapat tentang lafaz tasyahhud
Para ulama berbeda pendapat tentang lafaz tasyahhud yang paling utama. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad memilih lafaz Ibnu Mas'ud ini. Imam Malik memilih lafaz Ibnu 'Umar. Imam Abu Hanifah memilih lafaz Ibnu Mas'ud juga. Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah lafaz Ibnu Mas'ud, karena Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkannya, dan Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih, serta banyak sahabat yang meriwayatkannya.
Story Telling
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau berkata: "Rasulullah ﷺ mengajarkan tasyahhud kepada kami sebagaimana beliau mengajarkan surah dari Al-Qur'an."
Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya meriwayatkan bahwa Ibnu Mas'ud pernah mengajari seseorang tasyahhud dengan sangat teliti, bahkan beliau memegang tangan orang itu dan mengajarkannya kata demi kata. Ini menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga lafaz tasyahhud agar sesuai dengan yang diajarkan Nabi ﷺ.
Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang tasyahhud, beliau menjawab: "Yang paling shahih adalah tasyahhud Ibnu Mas'ud." Beliau juga berkata: "Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang meragukan tasyahhud Ibnu Mas'ud."
Kesimpulan Praktis
- Bacalah tasyahhud dengan lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ — yaitu lafaz Ibnu Mas'ud yang shahih ini, karena ia paling kuat dan paling banyak dipegang ulama.
- Hafalkan dan ajarkan — sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya dengan serius, kita pun hendaknya menghafal dan mengajarkannya kepada keluarga dan anak-anak.
- Bacalah dengan tenang dan penuh penghayatan — karena tasyahhud mengandung tauhid, syahadat, dan doa untuk seluruh hamba saleh.
- Jangan mengubah lafaznya — karena ia bersifat tauqifi (harus sesuai ajaran Nabi ﷺ), bukan doa bebas.
- Perhatikan duduk tasyahhud — duduk dengan tenang, menghadap kiblat, dan membaca dengan tartil.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.