Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1170 tentang Bacaan tashahhud dalam shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits riwayat An-Nasa'i no. 1170 ini adalah dalil utama bacaan tasyahhud dalam shalat, yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ kepada para sahabat. Bacaan ini berisi pujian kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, salam kepada diri sendiri dan hamba-hamba saleh, serta dua kalimat syahadat. Para ulama sepakat bahwa tasyahhud adalah bagian penting dalam shalat, dan bacaan inilah yang paling shahih serta banyak diamalkan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Tashahhud, Bab Cara Tashahhud Pertama, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه. Sanadnya: Bisyr bin Khalid al-'Askari → Gundar (Muhammad bin Ja'far) → Syu'bah → dari Sulaiman, Manshur, Hammad, Mughirah, dan Abu Hasyim → dari Abu Wa'il → dari Abdullah (Ibnu Mas'ud) → dari Nabi ﷺ.

Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud, serta oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi menyatakan hadits ini hasan shahih.

Dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan perintah shalat dan dzikir di dalamnya:

QS. Al-Ahzab [33]: 41

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya."

Dan QS. Al-Baqarah [2]: 238

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk."

Penjelasan Rinci

Makna lafazh tasyahhud:

  1. التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ — At-tahiyyatu lillah: Segala penghormatan, pujian, dan keagungan hanya milik Allah. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "tahiyyat" mencakup segala bentuk penghormatan yang layak hanya bagi Allah, karena Dialah Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri.
  2. وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ — wash-shalawatu wath-thayyibat: Segala doa, ibadah, dan perkataan yang baik hanya untuk Allah. An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa "shalawat" di sini bermakna doa dan ibadah, sedangkan "thayyibat" adalah segala perkataan dan amal yang baik.
  3. السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ — Salam kepada Nabi ﷺ. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini adalah penghormatan kepada Nabi ﷺ yang tetap diucapkan meskipun beliau telah wafat, karena para malaikat menyampaikan salam umat kepadanya.
  4. السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ — Salam kepada diri sendiri dan seluruh hamba Allah yang saleh, baik yang di langit maupun di bumi. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa doa ini mencakup seluruh hamba saleh tanpa kecuali.
  5. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ — Dua kalimat syahadat, pondasi seluruh agama.

Pendapat ulama tentang hukum tasyahhud:

  • Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat tasyahhud adalah rukun shalat, tidak sah shalat tanpanya.
  • Imam asy-Syafi'i juga menganggapnya rukun.
  • Imam Abu Hanifah berpendapat tasyahhud adalah wajib (bukan rukun), jika ditinggalkan harus sujud sahwi.
  • Imam Malik berpendapat tasyahhud adalah sunnah muakkadah.

Pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah rukun, karena Nabi ﷺ selalu membacanya dan memerintahkan "jika salah seorang dari kalian duduk dalam shalat, hendaklah membaca tasyahhud..." (HR. Muslim). Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menegaskan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah meninggalkan tasyahhud dalam shalat.

Catatan sanad: An-Nasa'i menyebut "Abu Hasyim gharib" — artinya jalur ini kurang dikenal, namun hadits tetap shahih karena dikuatkan jalur-jalur lain dari Al-Bukhari dan Muslim.

Story Telling

Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه — sahabat yang mulia, ahli fiqih Kufah, dan salah satu yang paling dekat dengan Nabi ﷺ — meriwayatkan hadits ini. Beliau berkata: "Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadaku tasyahhud, dan beliau menggenggam tanganku di antara kedua telapak tangannya, dan mengajarkannya kepadaku sebagaimana beliau mengajarkan surat dari Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Bayangkan betapa seriusnya Nabi ﷺ mengajarkan bacaan ini — seperti mengajarkan Al-Qur'an. Ini menunjukkan betapa pentingnya tasyahhud dalam shalat. Ibnu Mas'ud juga dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang shalat, dan para ulama seperti Al-A'masy, Ibrahim an-Nakha'i, dan Sufyan ats-Tsauri banyak merujuk pada riwayat-riwayatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Hafalkan dan amalkan bacaan tasyahhud ini dalam shalat, karena ia adalah bacaan yang paling shahih dan diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ.
  2. Bacalah dengan tenang dan tartil, karena tasyahhud adalah momen munajat kepada Allah dan salam kepada Nabi ﷺ.
  3. Jangan terburu-buru saat tasyahhud, beri waktu untuk merenungi maknanya.
  4. Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak sejak dini, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada para sahabat.
  5. Ikuti pendapat yang paling kuat bahwa tasyahhud adalah rukun, sehingga tidak boleh ditinggalkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?