Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan lafaz tasyahud yang benar dalam shalat, yaitu "At-tahiyyatu lillahi was-salawatu wat-tayyibat..." dan melarang mengucapkan salam kepada Allah karena Allah sendiri adalah As-Salam (Mahasejahtera). Hadits ini juga menunjukkan bahwa tasyahud sudah diajarkan Nabi ﷺ sejak awal, dan di dalamnya terkandung tauhid serta pengagungan kepada Nabi ﷺ dan hamba-hamba Allah yang saleh.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — Sunan An-Nasa'i no. 1169, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dalam Kitab Doa, Bab Cara Tasyahud Pertama. Hadits ini juga diriwayatkan Al-Bukhari (no. 831) dan Muslim (no. 402) dengan lafaz serupa, sehingga derajatnya shahih dan disepakati.
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan — QS. Al-A'raf [7]: 180:
وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Terjemahan: "Dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan."
Ayat ini menjadi dasar bahwa nama-nama Allah bersifat tauqifiyyah (ditetapkan berdasarkan dalil), dan di antaranya adalah "As-Salam" sebagaimana disebut dalam hadits ini.
Kaitan dengan ulama — Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan "Salam atas Allah" karena Allah Mahakaya dan tidak memerlukan salam dari makhluk; justru makhluklah yang memohon keselamatan kepada-Nya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa lafaz tasyahud ini adalah yang paling shahih dan paling banyak dipakai para sahabat. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan tasyahud ini secara konsisten.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara umum. Ibnu Mas'ud menceritakan bahwa pada masa awal, para sahabat mengucapkan salam kepada Allah, Jibril, dan Mika'il dalam shalat. Nabi ﷺ melarangnya dan menggantinya dengan lafaz tasyahud yang berisi pujian, syahadat, dan doa. Larangan ini bukan karena salam itu buruk secara mutlak, tetapi karena tidak pantas bagi makhluk memberi salam kepada Pencipta; sebaliknya, Allah-lah sumber segala keselamatan.
Makna kalimat tasyahud. Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj menjelaskan:
- At-tahiyyatu lillahi — segala penghormatan, keagungan, dan kekekalan hanya milik Allah.
- Was-salawatu — menurut Qatadah bin Di'amah, maknanya adalah ibadah-ibadah (sebagaimana disebutkan dalam tafsir Ibn Katsir).
- Wat-tayyibat — segala perkataan dan amal yang baik hanya untuk Allah.
- As-salamu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu — doa keselamatan untuk Nabi ﷺ, dan ini tetap dibaca meski Nabi ﷺ telah wafat, karena para ulama (seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa) menegaskan bahwa salam kepada Nabi tetap disyariatkan dan sampai kepadanya.
- As-salamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahis-salihin — doa untuk diri sendiri dan seluruh hamba Allah yang saleh, termasuk jin dan manusia yang saleh.
- Dua syahadat — inti tauhid dan pengakuan kerasulan Muhammad ﷺ.
Pandangan ulama tentang lafaz tasyahud. Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik sepakat bahwa tasyahud Ibn Mas'ud ini adalah yang paling shahih dan utama, meski ada riwayat lain dari Ibn Abbas dan Abu Musa al-Asy'ari. Imam Abu Hanifah juga menggunakannya. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarah hadits) menyebutkan bahwa lafaz ini paling lengkap mencakup pujian, syahadat, dan doa.
Hukum membaca tasyahud. Menurut jumhur ulama dari daftar (Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Abu Hanifah), tasyahud adalah wajib dalam shalat, dan meninggalkannya dengan sengaja membatalkan shalat. Dalilnya adalah perintah Nabi ﷺ "quluu" (katakanlah) yang menunjukkan perintah.
Adab dalam tasyahud. Ibn Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ membaca tasyahud dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dan menggerakkan jari telunjuk saat syahadat. Imam an-Nawawi menambahkan bahwa disunnahkan membaca dengan tartil dan merenungi maknanya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling mengetahui bacaan shalat beliau. Suatu ketika, para sahabat berkumpul dan bertanya tentang tasyahud, lalu Ibn Mas'ud mengajarkan lafaz ini kepada mereka dengan penuh amanah, sebagaimana ia menerimanya langsung dari Nabi ﷺ. Imam Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sendiri yang memegang tangan Ibn Mas'ud dan mengajarkan tasyahud ini, sebagaimana beliau mengajarkan surat Al-Qur'an. Hikmahnya: pentingnya menerima ilmu dari sumber yang shahih dan mengamalkannya dengan penuh kesungguhan.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah tasyahud dengan lafaz "At-tahiyyatu lillahi was-salawatu wat-tayyibat..." sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.
- Jangan mengucapkan salam kepada Allah, karena Allah adalah As-Salam.
- Renungkan makna setiap kalimat tasyahud saat membacanya.
- Ajarkan lafaz ini kepada keluarga dan anak-anak sejak dini.
- Amalkan dengan tenang dan tartil, serta gerakkan jari telunjuk saat syahadat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.