Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1168 tentang Larangan ucapan salam untuk Allah dalam tasyahud

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan lafaz tasyahhud yang benar dalam shalat. Rasulullah ﷺ melarang ucapan "Salam untuk Allah" karena Allah sendiri adalah As-Salam (Mahasejahtera), lalu beliau mengajarkan lafaz "At-Tahiyyatu lillahi...". Hadits ini menjadi dasar bacaan tasyahhud yang kita ucapkan di setiap shalat, dan menunjukkan adab besar dalam beribadah: ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan dibuat-buat sendiri.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Tashahhud, Bab Cara Tashahhud Pertama, dari sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits (potongan inti sabda Nabi ﷺ):

لَا تَقُولُوا السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ وَلَكِنْ قُولُوا التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Terjemahan: "Janganlah kalian mengucapkan 'Salam untuk Allah', karena sesungguhnya Allah Dialah As-Salam. Tetapi ucapkanlah: 'Segala penghormatan, shalawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan berkah-Nya tercurah kepadamu wahai Nabi. Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.'"

Ayat yang berkaitan dengan nama Allah "As-Salam":

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

QS. Al-Hasyr [59]: 23 — "Dialah Allah yang tidak ada ilah selain Dia, Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera (As-Salam), Yang Memberi keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan."

Penjelasan Rinci

Latar belakang hadits. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa dahulu para sahabat mengucapkan salam kepada Allah, kepada Jibril, dan kepada Mika'il dalam shalat. Ucapan ini keliru karena dua alasan: (1) Allah tidak butuh disalami oleh makhluk, justru Dialah sumber segala keselamatan; (2) menyejajarkan Jibril dan Mika'il dalam ucapan salam kepada Allah bisa membuka pintu pengagungan berlebihan terhadap makhluk.

Makna "Allah adalah As-Salam". Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa As-Salam berarti Allah Mahabersih dari segala kekurangan dan Dialah sumber keselamatan bagi seluruh makhluk. Karena itu, Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa ucapan "Salam untuk Allah" tidak bermakna, sebab Allah tidak menerima "salam" sebagaimana makhluk saling memberi salam.

Lafaz tasyahhud yang diajarkan. Nabi ﷺ menggantinya dengan lafaz yang lebih agung, yang mencakup:

  • At-Tahiyyatu lillahi — segala penghormatan hanya untuk Allah.
  • wash-shalawatu wath-thayyibat — mencakup shalat dan segala amal baik. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa thayyibat mencakup seluruh ucapan dan amal yang baik.
  • As-salamu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu — salam kepada Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa para ulama sepakat tetap memakai lafaz ayyuhan-Nabiyyu (bukan ayyuhan-Nabi) meski Nabi ﷺ telah wafat, karena ruh beliau tetap hidup dan salam kita sampai kepadanya.
  • As-salamu 'alaina wa 'ala 'ibadillahish-shalihin — salam untuk diri sendiri dan seluruh hamba Allah yang shalih. Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa dengan ucapan ini, seorang hamba mendoakan seluruh hamba shalih di langit dan di bumi.
  • Dua syahadat, dengan tambahan wahdahu la syarika lah.

Perbedaan pendapat ulama. Para ulama berbeda pendapat tentang lafaz tasyahhud yang paling utama. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Abu Hanifah menguatkan tasyahhud Ibnu Mas'ud (hadits ini). Imam Asy-Syafi'i juga meriwayatkan tasyahhud Ibnu Mas'ud dan menggunakannya, meski ada riwayat lain dari Ibnu Abbas. Imam At-Tirmidzi menyatakan hadits Ibnu Mas'ud adalah yang paling shahih dalam bab ini. Syaikh Al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi menegaskan bahwa tasyahhud Ibnu Mas'ud adalah yang paling kuat sanadnya dan dianjurkan diamalkan.

Pelajaran adab. Hadits ini mengajarkan bahwa ibadah itu tauqifiyyah — harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menegaskan bahwa amal ibadah tidak diterima kecuali sesuai sunnah. Karena itu, meski niat sahabat baik, ucapan yang tidak diajarkan Nabi tetap dilarang.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu — salah satu sahabat yang paling dekat dan paling tahu tentang sunnah Nabi ﷺ — memperhatikan dengan cermat bagaimana Nabi ﷺ mengajarkan tasyahhud. Beliau bahkan pernah berkata: "Rasulullah ﷺ mengajarkan kepadaku tasyahhud sebagaimana beliau mengajarkan surah Al-Qur'an." (Riwayat ini disebutkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim). Ini menunjukkan betapa pentingnya lafaz tasyahhud ini — bukan sekadar bacaan biasa, tetapi ilmu yang diwariskan dengan penuh perhatian, seperti mewariskan Al-Qur'an.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang tasyahhud yang paling shahih, dan beliau memilih tasyahhud Ibnu Mas'ud. Syaikh Al-Albani juga menegaskan hal yang sama dalam kitabnya. Hikmahnya: para ulama besar pun kembali kepada dalil, bukan kepada kebiasaan semata.

Kesimpulan Praktis

  1. Gunakan lafaz tasyahhud Ibnu Mas'ud dalam shalat, karena ini yang paling shahih menurut para ulama hadits.
  2. Jangan mengucapkan "Salam untuk Allah" atau ucapan salam yang tidak diajarkan Nabi ﷺ, karena Allah adalah As-Salam.
  3. Pahami makna tasyahhud — bahwa kita sedang menghormati Allah, mendoakan Nabi ﷺ, dan mendoakan seluruh hamba shalih.
  4. Jaga adab dalam ibadah — ibadah harus sesuai sunnah, bukan menurut perasaan atau kebiasaan.
  5. Ajarkan kepada keluarga lafaz tasyahhud ini dengan benar, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada para sahabat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?