Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah riwayat Imam An-Nasa'i dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, yang menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan dua bentuk tashahhud: satu untuk shalat dan satu untuk hajat (keperluan penting). Tashahhud dalam shalat berisi pujian kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, salam kepada diri sendiri dan hamba-hamba saleh, serta dua kalimat syahadat. Bacaan ini dibaca pada duduk tasyahud, baik yang pertama maupun yang kedua.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Tashahhud, Bab Bagaimana Tashahhud Pertama, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim, sehingga termasuk hadits yang disepakati keshahihannya.
Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan perintah shalat dan dzikir di dalamnya:
QS. Al-Ahzab [33]: 41
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak."
Imam Ibn Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ayat ini memerintahkan kaum mukminin untuk memperbanyak dzikir kepada Allah dalam segala keadaan, dan salah satu bentuk dzikir paling utama dalam shalat adalah bacaan tashahhud yang diajarkan Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Kedudukan hadits ini
Hadits ini merupakan salah satu riwayat pokok tentang bacaan tashahhud. Imam An-Nasa'i menempatkannya dalam kitab khusus tentang tashahhud, menunjukkan perhatian beliau terhadap rincian bacaan shalat. Hadits ini juga menjadi dalil bahwa tashahhud bukanlah bacaan yang dibuat-buat oleh sahabat, melainkan pengajaran langsung dari Rasulullah ﷺ.
Makna kalimat tashahhud
- التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ — "Segala penghormatan hanya milik Allah." Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "tahiyyat" mencakup segala bentuk penghormatan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, dan semuanya hanya layak ditujukan kepada Allah.
- وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ — "Dan shalat serta perkataan-perkataan yang baik." Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa "shalawat" di sini bermakna shalat itu sendiri dipersembahkan kepada Allah, sedangkan "thayyibat" adalah segala ucapan dan amal yang baik.
- السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ — "Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah Allah tercurah kepadamu, wahai Nabi." Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penghormatan kepada Nabi ﷺ yang tetap dibaca meskipun beliau telah wafat, karena para malaikat menyampaikan salam umat kepada beliau.
- السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ — "Semoga keselamatan tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh." Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa doa ini mencakup seluruh hamba Allah yang saleh di langit dan di bumi, sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa jika seseorang mengucapkannya, maka salam itu mengenai setiap hamba saleh di langit dan bumi.
- أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ — Dua kalimat syahadat, yang merupakan inti dari keislaman. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa syahadat ini mengandung tauhid dan pengakuan kenabian, dua pondasi utama agama.
Tashahhud pertama dan kedua
Hadits ini menyebut "tashahhud pertama" dalam judul bab. Para ulama seperti Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar menjelaskan bahwa tashahhud dibaca pada setiap duduk tasyahud, baik yang pertama (setelah rakaat kedua) maupun yang kedua (sebelum salam). Perbedaan pendapat di antara ulama daftar hanya pada hukum membaca shalawat pada tashahhud pertama; jumhur ulama dari kalangan Syafi'i dan Hanbali berpendapat shalawat dibaca pada tashahhud kedua, sedangkan sebagian berpendapat dibaca pada keduanya. Yang paling kuat menurut dalil adalah membaca shalawat pada tashahhud kedua, sebagaimana hadits-hadits shahih tentang perintah bershalawat kepada Nabi ﷺ dalam shalat.
Tashahhud dalam hajat
Hadits ini juga menyebut "tashahhud dalam hajat," yaitu bacaan yang dibaca sebelum menyampaikan keperluan penting, seperti khutbah nikah atau menyampaikan hajat. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan tashahhud hajat ini sebagai pembuka doa dan permohonan.
Story Telling
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling dekat dengan Nabi ﷺ dan paling banyak meriwayatkan hadits. Beliau pernah berkata: "Aku adalah orang yang paling mengetahui bacaan Al-Qur'an di antara kalian, dan aku tidak mengatakan yang paling baik di antara kalian." Beliau juga termasuk sahabat yang pertama masuk Islam dan selalu menyertai Nabi ﷺ dalam berbagai keadaan.
Suatu ketika, Abdullah bin Mas'ud mengajarkan tashahhud ini kepada murid-muridnya dengan penuh perhatian, sebagaimana beliau menerimanya langsung dari Rasulullah ﷺ. Imam An-Nasa'i meriwayatkan hadits ini dengan sanad yang shahih, menunjukkan betapa pentingnya menjaga bacaan shalat sesuai tuntunan Nabi ﷺ. Hikmahnya adalah bahwa shalat adalah ibadah yang harus ditunaikan sesuai contoh Nabi ﷺ, bukan menurut kehendak sendiri.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah tashahhud dengan benar sesuai yang diajarkan Nabi ﷺ, karena ia adalah bagian penting dari shalat.
- Pahami makna setiap kalimat tashahhud agar shalat lebih khusyuk dan bermakna.
- Bacalah tashahhud pada setiap duduk tasyahud, baik yang pertama maupun yang kedua.
- Gunakan tashahhud hajat saat menyampaikan keperluan penting, seperti khutbah nikah atau menyampaikan hajat kepada orang lain.
- Jaga adab dalam shalat dengan mengikuti tuntunan Nabi ﷺ dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.