Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1163 tentang Bacaan tasyahud dan doa setelahnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bacaan tasyahud yang dibaca ketika duduk setelah setiap dua rakaat shalat. Sebelumnya para sahabat hanya berdzikir dengan tasbih, takbir, dan tahmid karena belum tahu bacaan khusus. Lalu Nabi ﷺ mengajarkan lafaz "At-Tahiyyat..." yang berisi pujian kepada Allah, salam kepada Nabi, salam kepada diri sendiri dan hamba-hamba saleh, serta dua kalimat syahadat. Setelah tasyahud, kita dianjurkan berdoa dengan doa apa pun yang kita sukai.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, dikeluarkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (Kitab Taqdim, Bab Cara Tasyahud Pertama, no. 1163), dan juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari serta Shahih Muslim dengan lafaz yang semakna. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini sebagai dalil utama bacaan tasyahud.

Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan umum perintah berdzikir dan berdoa:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

QS. Ghafir [40]: 60

"Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu."

Dan firman Allah:

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

QS. Al-Baqarah [2]: 152

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Penjelasan Rinci

Latar belakang hadits. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa pada masa awal, para sahabat belum mengetahui bacaan khusus saat duduk di antara dua rakaat. Mereka hanya mengisi duduk itu dengan tasbih (subhanallah), takbir (Allahu akbar), dan tahmid (alhamdulillah). Lalu Nabi ﷺ — sebagaimana disebutkan dalam hadits — "diajarkan pembuka-pembuka kebaikan dan penutup-penutupnya", maksudnya beliau diberi wahyu berupa lafaz-lafaz dzikir dan doa yang sempurna, termasuk bacaan tasyahud.

Makna lafaz tasyahud. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna kalimatnya:

  • التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ — segala penghormatan, keagungan, dan kekekalan hanya milik Allah.
  • وَالصَّلَوَاتُ — menurut Qatadah bin Di'amah dan Mujahid bin Jabr, maknanya mencakup shalat dan ibadah seluruhnya yang hanya ditujukan kepada Allah.
  • وَالطَّيِّبَاتُ — segala perkataan dan amal yang baik, sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir dalam tafsirnya.
  • السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ — salam penghormatan kepada Nabi ﷺ, dan ini tetap dibaca meski beliau telah wafat, karena para ulama seperti Ibnu Hajar menegaskan bahwa salam itu tetap sampai kepada beliau.
  • السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ — doa keselamatan untuk diri sendiri dan seluruh hamba Allah yang saleh, baik yang di langit maupun di bumi.
  • أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ... — dua kalimat syahadat sebagai inti tauhid.

Hukum dan kedudukan. Imam An-Nawawi menyatakan bahwa tasyahud adalah bagian yang sangat ditekankan dalam shalat. Menurut jumhur ulama dari daftar seperti Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam Malik, tasyahud termasuk wajib atau rukun yang tidak boleh ditinggalkan. Adapun Imam Abu Hanifah berpendapat tasyahud akhir wajib dan tasyahud awal sunnah. Perbedaan ini bersifat furu' (cabang) dan telah dibahas panjang oleh Ibnu Rajab al-Hanbali serta Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitab mereka.

Doa setelah tasyahud. Sabda Nabi ﷺ "وَلْيَتَخَيَّرْ أَحَدُكُمْ مِنَ الدُّعَاءِ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ" menunjukkan bahwa setelah tasyahud, seorang hamba dianjurkan berdoa dengan doa yang ia sukai. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa ini menunjukkan luasnya pintu doa dalam shalat, terutama pada duduk terakhir sebelum salam.

Story Telling

Diceritakan oleh Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu — seorang sahabat yang mulia, ahli qira'at Al-Qur'an, dan salah satu yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau meriwayatkan bahwa para sahabat dahulu duduk dalam shalat tanpa tahu apa yang harus diucapkan. Mereka hanya menyebut nama Allah dengan tasbih, takbir, dan tahmid. Ketika Nabi ﷺ mengajarkan lafaz tasyahud, para sahabat pun menerimanya dengan penuh kepatuhan, karena mereka tahu bahwa setiap lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ adalah pembuka kebaikan dan penutupnya. Sufyan ats-Tsauri dan Abdullah bin al-Mubarak — dua imam besar dalam ilmu dan zuhud — menjadikan hadits ini sebagai landasan dalam mengajarkan tasyahud kepada murid-murid mereka, karena di dalamnya terkandung tauhid, pengagungan kepada Allah, dan kecintaan kepada Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah tasyahud dengan lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ: At-Tahiyyatu lillahi wash-shalawatu wath-thayyibat...
  2. Bacalah tasyahud pada duduk setelah dua rakaat (tasyahud awal) dan pada duduk akhir.
  3. Setelah tasyahud, perbanyaklah berdoa dengan doa yang kita sukai, karena pintu doa dalam shalat sangat luas.
  4. Renungkan makna setiap kalimat tasyahud, agar shalat tidak sekadar gerakan, tetapi penuh penghadiran hati kepada Allah.
  5. Ikutilah pemahaman para ulama Ahlus Sunnah dalam masalah ini, dan hindari perdebatan yang tidak bermanfaat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?