Tentu, saya akan menjelaskan hadits ini sesuai dengan format dan aturan yang telah ditetapkan, dengan merujuk hanya kepada ulama-ulama yang tercantum dalam daftar.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bacaan tasyahud yang diajarkan langsung oleh Rasulullah ﷺ kepada para sahabatnya, yaitu ketika duduk setelah dua rakaat (tasyahud awal). Bacaan ini berisi pujian kepada Allah, salam kepada Nabi ﷺ, salam kepada diri sendiri dan hamba-hamba Allah yang saleh, serta dua kalimat syahadat. Para ulama Ahlus Sunnah sepakat bahwa membaca tasyahud ini adalah bagian penting dari shalat, dan mereka memiliki penjelasan rinci tentang makna dan tata caranya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Beliau berkata:
عَلَّمَنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ نَقُولَ إِذَا جَلَسْنَا فِي الرَّكْعَتَيْنِ: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
"Rasulullah ﷺ mengajarkan kami untuk mengucapkan ketika kami duduk setelah dua rakaat: 'At-tahiyyatu lillahi was-salawatu wat-tayyibat, as-salamu 'alaika ayyuhan-Nabiyyu wa rahmatAllahi wa barakatuhu. As-salamu 'alaina wa 'ala 'ibad illahis-salihin, ashhadu an la ilaha ill-Allah wa ashhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuluhu.'"
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih mereka dengan redaksi yang serupa, dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu. Imam An-Nasa'i meriwayatkannya dalam Kitab Tatbiq, Bab Cara Tasyahud Pertama.
Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar bacaan tasyahud ini, di antaranya adalah perintah untuk berdzikir dan bershalawat kepada Nabi ﷺ, sebagaimana firman Allah:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab [33]: 56)
Penjelasan Rinci
Hadits ini merupakan salah satu hadits pokok dalam bab tata cara shalat, khususnya bacaan tasyahud. Para ulama dari daftar yang disebutkan memiliki penjelasan yang mendalam tentang hadits ini.
Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya menempatkan hadits ini dalam Kitab Tatbiq, Bab Cara Tasyahud Pertama. Ini menunjukkan bahwa beliau memandang hadits ini sebagai dalil tentang bacaan yang dibaca pada duduk setelah dua rakaat, yang dikenal dengan tasyahud awal.
Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa tasyahud awal hukumnya wajib, dan jika seseorang meninggalkannya maka shalatnya tidak sah menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Syafi'i, sedangkan dalam madzhab Hanbali, meninggalkannya dengan sengaja membatalkan shalat. Dalilnya adalah perintah Nabi ﷺ dalam hadits ini: "Rasulullah ﷺ mengajarkan kami..." yang menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari shalat yang diajarkan langsung.
Imam Malik bin Anas berpendapat bahwa tasyahud awal hukumnya sunnah, bukan wajib. Namun beliau tetap berpendapat bahwa membacanya adalah bagian dari kesempurnaan shalat.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa tasyahud dibaca pada duduk setelah dua rakaat, dan bahwa bacaan ini mengandung tauhid, pujian kepada Allah, dan salam kepada Nabi ﷺ serta hamba-hamba Allah yang saleh.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa lafazh "At-tahiyyatu lillahi" maknanya adalah segala bentuk penghormatan, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, hanya milik Allah. "Was-salawatu" berarti doa-doa, dan "wat-tayyibat" berarti perkataan-perkataan yang baik. Beliau juga menjelaskan bahwa salam kepada Nabi ﷺ dalam tasyahud adalah bentuk penghormatan yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ, dan ini menunjukkan kedudukan beliau yang mulia.
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa tasyahud ini mengandung makna yang sangat dalam: pengakuan bahwa segala penghormatan hanya untuk Allah, pengakuan atas kenabian Muhammad ﷺ, dan doa untuk keselamatan bagi diri sendiri dan semua hamba Allah yang saleh. Beliau juga menekankan bahwa membaca tasyahud dengan penuh kekhusyukan adalah tanda keimanan yang benar.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Mumti' menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa tasyahud awal dibaca dengan lafazh yang telah diajarkan oleh Nabi ﷺ, dan tidak boleh diganti dengan lafazh lain. Beliau juga menjelaskan bahwa duduk tasyahud awal adalah duduk iftirasy (duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan), sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits lain.
Syeikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa bacaan tasyahud ini adalah bagian dari shalat yang harus dibaca dengan benar dan tartil, dan bahwa maknanya harus dipahami oleh setiap muslim agar shalatnya lebih khusyuk.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama tentang hukum tasyahud awal, maka yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa tasyahud awal hukumnya wajib, berdasarkan perintah Nabi ﷺ dalam hadits ini dan hadits-hadits lain yang serupa. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Imam asy-Syafi'i, dan banyak ulama lainnya. Dalilnya adalah bahwa Nabi ﷺ mengajarkan bacaan ini secara langsung dan memerintahkan untuk membacanya, dan meninggalkan perintah tanpa udzur adalah dosa.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang mulia dan salah satu ahli fiqih di kalangan sahabat, berkata: "Rasulullah ﷺ mengajarkan kami tasyahud sebagaimana beliau mengajarkan kami surat Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Ini menunjukkan betapa pentingnya bacaan tasyahud ini, karena Nabi ﷺ mengajarkannya dengan penuh perhatian, sebagaimana beliau mengajarkan Al-Qur'an.
Dalam riwayat lain, Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ mengajarkan tasyahud, beliau memegang tangan Ibnu Mas'ud dan mengajarkannya langsung, menunjukkan betapa besar perhatian beliau terhadap detail ibadah ini. Para sahabat kemudian mengajarkan bacaan ini kepada generasi berikutnya, dan para tabi'in seperti Al-Hasan al-Bashri, Muhammad bin Sirin, dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi meriwayatkan dan mengajarkan bacaan ini kepada murid-murid mereka.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah tasyahud dengan lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ — yaitu "At-tahiyyatu lillahi was-salawatu wat-tayyibat..." hingga akhir, tanpa menambah atau mengurangi.
- Pahami maknanya — bahwa segala penghormatan hanya untuk Allah, salam kepada Nabi ﷺ, dan doa untuk keselamatan diri sendiri dan semua hamba Allah yang saleh.
- Bacalah dengan tartil dan khusyuk — karena ini adalah bagian dari shalat yang mengandung tauhid dan pujian kepada Allah.
- Duduk iftirasy — duduk tasyahud awal dilakukan dengan duduk di atas kaki kiri dan menegakkan kaki kanan, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.
- Jangan tinggalkan tasyahud awal — menurut pendapat yang kuat, hukumnya wajib, dan meninggalkannya dengan sengaja dapat membatalkan shalat.
- Ajarkan kepada keluarga dan anak-anak — sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkan kepada para sahabat, kita juga hendaknya mengajarkan bacaan ini kepada keluarga kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.