Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits riwayat An-Nasa'i no. 1145 ini mengajarkan kepada kita doa yang dibaca di antara dua sujud, yaitu: "رَبِّ اغْفِرْ لِي" (Ya Rabb-ku, ampunilah aku), yang diucapkan dua kali. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memanjangkan rukuk, sujud, dan berdiri beliau secara seimbang, serta membaca tasbih dan doa pada setiap gerakan shalat. Doa ini adalah bentuk kerendahan hati seorang hamba yang mengakui butuh ampunan Allah di setiap gerakan shalatnya.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar doa istighfar dalam shalat:
QS. Nuh [71]: 10
قَالَ يَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
Terjemahan: "Ia (Nuh) berkata: 'Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabb-mu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun.'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Doa Antara Dua Sujud, dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه. Hadits serupa juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibn Majah dengan lafaz yang berdekatan. At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan shahih.
Keterangan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' Syarh al-Muhadzdzab menjelaskan bahwa disunnahkan membaca doa antara dua sujud, dan yang paling utama adalah "رَبِّ اغْفِرْ لِي".
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa doa ini menunjukkan keutamaan memohon ampunan di antara dua sujud, dan sebagian ulama menambahkan lafaz "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي".
- Syeikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Sifat Shalat Nabi ﷺ menegaskan bahwa doa "رَبِّ اغْفِرْ لِي" adalah yang paling shahih dan utama, boleh diulang dua kali atau lebih.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Doa antara dua sujud.
Nabi ﷺ membaca "رَبِّ اغْفِرْ لِي" (Ya Rabb-ku, ampunilah aku) ketika duduk di antara dua sujud. Ini menunjukkan bahwa seorang hamba hendaknya memohon ampunan Allah di setiap gerakan shalat, karena shalat adalah momen terdekat hamba dengan Rabb-nya.
2. Kesetaraan panjang rukuk, sujud, dan berdiri.
Dalam hadits ini, Hudzaifah menyebutkan bahwa rukuk Nabi ﷺ hampir sama lamanya dengan berdiri beliau setelah membaca Al-Baqarah. Ini menunjukkan sunnahnya memanjangkan rukuk dan sujud secara seimbang, terutama dalam shalat malam. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memanjangkan rukuk dan sujudnya sesuai dengan panjangnya bacaan, sehingga setiap gerakan shalat terasa khusyuk dan tidak terburu-buru.
3. Bacaan tasbih dalam rukuk dan sujud.
Nabi ﷺ membaca "سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ" saat rukuk dan "سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى" saat sujud, masing-masing diulang dua kali. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa minimal tasbih adalah satu kali, dan yang sempurna adalah tiga kali, namun boleh lebih.
4. Doa "لِرَبِّيَ الْحَمْدُ" saat bangkit dari rukuk.
Nabi ﷺ mengucapkan "لِرَبِّيَ الْحَمْدُ" (segala puji bagi Rabb-ku) ketika mengangkat kepala dari rukuk. Ini menunjukkan bahwa pujian kepada Allah adalah inti dari gerakan i'tidal.
5. Perbedaan pendapat ulama tentang lafaz doa antara dua sujud.
- Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa doa yang paling utama adalah "رَبِّ اغْفِرْ لِي", dan boleh menambahkan lafaz lain seperti "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي".
- Imam Abu Hanifah berpendapat cukup dengan "رَبِّ اغْفِرْ لِي" saja, tanpa tambahan.
- Imam Malik berpendapat boleh membaca doa apa saja yang ma'tsur.
Pendapat yang paling kuat adalah pendapat Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad, karena didukung oleh hadits-hadits shahih, termasuk hadits Hudzaifah ini dan hadits Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Hudzaifah bin al-Yaman رضي الله عنه, sahabat yang dikenal sebagai shahib sirr Rasulillah (penyimpan rahasia Rasulullah ﷺ), suatu hari datang kepada Nabi ﷺ ketika beliau sedang shalat malam. Hudzaifah berdiri di samping beliau, lalu beliau memulai shalat dengan takbir dan membaca doa "اللَّهُ أَكْبَرُ ذُو الْمَلَكُوتِ وَالْجَبَرُوتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ". Kemudian beliau membaca surat Al-Baqarah yang panjang, lalu rukuk dengan lama, sujud dengan lama, dan di antara dua sujud beliau berulang kali mengucapkan "رَبِّ اغْفِرْ لِي".
Hudzaifah memperhatikan setiap gerakan dan bacaan Nabi ﷺ dengan penuh kekaguman. Ia melihat bagaimana Nabi ﷺ benar-benar menghadirkan hati dan jiwanya dalam shalat, tidak tergesa-gesa, dan selalu memohon ampunan kepada Allah. Kisah ini kemudian diriwayatkan oleh Hudzaifah kepada para tabi'in, dan sampai kepada kita melalui jalur An-Nasa'i.
Imam an-Nawawi dalam al-Minhaj menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan betapa pentingnya memperhatikan adab-adab shalat dan tidak meninggalkan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ, sekecil apapun itu.
Kesimpulan Praktis
- Bacalah "رَبِّ اغْفِرْ لِي" di antara dua sujud, minimal satu kali, dan yang lebih utama dua kali atau tiga kali.
- Boleh menambahkan doa seperti "اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاجْبُرْنِي وَارْفَعْنِي وَارْزُقْنِي وَاهْدِنِي" sesuai hadits Ibnu Abbas.
- Panjangkan rukuk dan sujud secara seimbang dengan bacaan, terutama dalam shalat malam.
- Bacalah tasbih "سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ" saat rukuk dan "سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى" saat sujud, minimal tiga kali.
- Hadirkan hati dalam setiap gerakan shalat, karena shalat adalah momen munajat kepada Allah.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.