Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa agungnya ibadah Nabi ﷺ di malam hari, sampai-sampai beliau memperpanjang ruku' atau sujudnya dengan dzikir memuji Allah. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan dzikir "Subhanakallahumma wa bihamdika la ilaha illa anta" dalam ruku' atau sujud, serta kelembutan akhlak Aisyah radhiyallahu 'anha yang menyesal setelah menyangka sesuatu tentang Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan bahwa dzikir ini mengandung pujian, pengagungan, dan tauhid kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan An-Nasa'i, Kitab Pelaksanaan Shalat, Bab Jenis Lain, nomor 1131, dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Terkait keutamaan dzikir dalam ruku' dan sujud, terdapat dalil dari Al-Qur'an:
QS. Al-Insan [76]: 26
وَمِنَ اللَّيْلِ فَاسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيلًا
"Dan pada sebagian malam, sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari."
QS. Al-Isra' [17]: 78
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."
Hadits terkait dari Imam Muslim (dari Aisyah radhiyallahu 'anha) bahwa Nabi ﷺ memperbanyak membaca dalam ruku' dan sujud:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
"Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu, tidak ada tuhan selain Engkau."
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa dzikir ini disunnahkan dibaca dalam ruku' dan sujud, dan mengandung pujian yang sempurna.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha mencari Nabi ﷺ karena cemburu, lalu mendapati beliau sedang beribadah, sehingga beliau menyadari bahwa prasangkanya tidak benar.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
Pertama, Nabi ﷺ sangat menjaga shalat malamnya. Beliau memperpanjang ruku' dan sujud hingga Aisyah radhiyallahu 'anha yang mencari beliau mendapati beliau dalam keadaan ruku' atau sujud. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak hanya shalat dengan gerakan cepat, tetapi benar-benar menghayati dan memperpanjang dzikirnya.
Kedua, dzikir yang dibaca Nabi ﷺ adalah:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
"Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu, tidak ada tuhan selain Engkau."
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kalimat ini mengandung tiga makna agung: (1) Subhanaka — menyucikan Allah dari segala kekurangan; (2) wa bihamdika — memuji Allah dengan segala pujian; (3) la ilaha illa anta — mengesakan Allah dalam ketuhanan. Inilah inti tauhid yang dipanjatkan dalam ruku' dan sujud.
Ketiga, sikap Aisyah radhiyallahu 'anha. Beliau menyangka Nabi ﷺ pergi ke istri lain, lalu mencari-cari. Setelah mendapati Nabi ﷺ sedang beribadah, beliau berkata: "Biar ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, aku mengira engkau melakukan satu hal, ternyata engkau melakukan hal yang sama sekali berbeda." Ini menunjukkan kelembutan hati Aisyah dan pengakuannya bahwa prasangkanya tidak benar.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sering menghabiskan malamnya untuk shalat, tilawah, dan dzikir, sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anha.
Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memperpanjang ruku' dan sujudnya, dan dzikir ini termasuk yang beliau ajarkan kepada umatnya. Beliau juga menyebutkan bahwa memperbanyak dzikir dalam ruku' dan sujud adalah sunnah yang dianjurkan.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa malam adalah waktu terbaik untuk beribadah kepada Allah, karena suasana tenang dan jauh dari riya'. Beliau juga menekankan bahwa dzikir dalam ruku' dan sujud adalah bentuk pengagungan dan penghambaan yang paling dalam.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa dzikir ini dibaca dalam ruku' dan sujud, sementara sebagian lain memperbolehkan dzikir apa saja yang mengandung pujian. Namun yang paling kuat adalah mengikuti apa yang dilakukan Nabi ﷺ, yaitu membaca dzikir ini dalam ruku' dan sujud, sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dan Ibnu Hajar.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu malam, Aisyah radhiyallahu 'anha terbangun dan tidak mendapati Nabi ﷺ di sisinya. Beliau menyangka Nabi ﷺ pergi ke kamar istri yang lain. Dengan perasaan cemburu, Aisyah mencari-cari Nabi ﷺ. Namun betapa terkejutnya beliau ketika mendapati Nabi ﷺ sedang ruku' atau sujud, memperpanjang dzikirnya dengan kalimat:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
Aisyah lalu berkata dengan penuh penyesalan: "Biar ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, aku mengira engkau melakukan satu hal, ternyata engkau melakukan hal yang sama sekali berbeda."
Kisah ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dan Imam Muslim. Hikmahnya: jangan berprasangka buruk kepada orang shalih, dan hendaknya kita meneladani Nabi ﷺ dalam memperpanjang ibadah malam dan memperbanyak dzikir.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak dzikir dalam ruku' dan sujud, terutama membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ
- Hidupkan shalat malam (tahajud) meskipun hanya beberapa rakaat, dengan memperpanjang ruku' dan sujud.
- Jangan berprasangka buruk kepada orang shalih, terutama kepada Nabi ﷺ dan keluarganya.
- Teladani akhlak Aisyah radhiyallahu 'anha yang lembut dan mau mengakui kekeliruannya.
- Pahami makna dzikir yang kita baca, agar ibadah kita lebih khusyuk dan bermakna.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.