Tentu. Berikut penjelasan hadits tersebut sesuai kaidah dan rujukan yang telah ditetapkan.
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah manusia yang tetap memohon ampun kepada Allah, bahkan dalam keadaan sujud di malam hari. Beliau mengajarkan doa yang sangat agung: meminta ampunan atas dosa yang tersembunyi maupun yang tampak. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan sujud sebagai waktu terdekat seorang hamba dengan Rabb-nya, serta keutamaan istighfar yang terus-menerus dilakukan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya, dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha. Sanadnya: Muhammad bin Qudamah → Jarir → Manshur → Hilal bin Yisaf → 'Aisyah.
Adapun dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan makna hadits ini:
QS. Al-Baqarah [2]: 286
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya. Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir."
QS. Ghafir [40]: 55
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ
"Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu benar, dan mohonlah ampunan untuk dosamu, dan bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu pada waktu petang dan pagi."
QS. An-Nasr [110]: 3
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
"Maka bertasbihlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima taubat."
Hadits terkait dari kitab shahih:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
"Keadaan seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia sedang sujud, maka perbanyaklah doa." (HR. Muslim)
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran memperbanyak doa saat sujud, karena itu adalah waktu ijabah (dikabulkannya doa).
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama yang tercantum dalam rujukan:
Pertama: Nabi ﷺ tetap beristighfar meskipun ma'shum (terjaga dari dosa).
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa istighfar Nabi ﷺ bukan karena beliau berdosa, melainkan bentuk kesempurnaan penghambaan, tawadhu', dan pengakuan akan kelemahan di hadapan Allah. Beliau mengajarkan umatnya untuk senantiasa memohon ampunan.
Kedua: Makna "ma asrartu wa ma a'lant".
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "apa yang aku sembunyikan" adalah dosa-dosa yang dilakukan secara tersembunyi, sedangkan "apa yang aku tampakkan" adalah dosa yang dilakukan secara terang-terangan. Ini mencakup seluruh jenis kelalaian dan kekurangan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan bahwa doa ini mengandung permohonan ampunan yang menyeluruh — mencakup dosa lahir dan batin, yang kecil maupun besar, yang disengaja maupun tidak.
Ketiga: Keutamaan sujud.
Imam An-Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin dan Syarh Muslim menegaskan bahwa sujud adalah keadaan paling dekat seorang hamba dengan Allah. Karena itu, Nabi ﷺ memperbanyak doa dan istighfar dalam sujudnya.
Keempat: Kisah 'Aisyah dan kecemburuan yang wajar.
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perasaan 'Aisyah radhiyallahu 'anha dalam riwayat ini menunjukkan kasih sayang dan kecemburuan yang wajar seorang istri. Nabi ﷺ tidak menegurnya, dan ini menunjukkan kelembutan akhlak beliau.
Kelima: Anjuran memperbanyak istighfar.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa istighfar adalah amalan yang paling sering dilakukan Nabi ﷺ, baik di waktu pagi, petang, dalam sujud, maupun dalam keadaan duduk. Beliau mengajarkan bahwa istighfar adalah kunci kelapangan dan ampunan.
Perbedaan pendapat ulama:
Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat bahwa doa ini disyariatkan dan dianjurkan dibaca dalam sujud. Tidak ada perbedaan pendapat yang signifikan dalam masalah ini. Yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan bahwa doa ini boleh dibaca dalam sujud, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits 'Aisyah ini dan hadits Abu Hurairah tentang kedekatan hamba dengan Allah saat sujud.
Story Telling
Dikisahkan oleh 'Aisyah radhiyallahu 'anha — sebagaimana dalam riwayat An-Nasa'i ini — bahwa suatu malam beliau merasa kehilangan Rasulullah ﷺ dari tempat tidurnya. Beliau mulai mencari-cari dengan tangan, dan dalam hatinya sempat terlintas sangkaan bahwa Nabi ﷺ mungkin pergi ke tempat istri yang lain. Namun, ketika tangannya menyentuh sesuatu, ternyata itu adalah Rasulullah ﷺ yang sedang bersujud di malam hari, bermunajat kepada Allah dengan doa:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ
"Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang aku sembunyikan dan apa yang aku tampakkan."
Betapa agungnya akhlak Nabi ﷺ. Di saat orang lain tidur, beliau justru bersujud dan beristighfar. Di saat beliau adalah manusia paling mulia dan terjaga dari dosa, beliau tetap merendahkan diri di hadapan Allah.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa istighfar adalah salah satu amalan yang paling bermanfaat bagi hati, karena ia membersihkan hati dari kotoran dosa dan mendekatkan hamba kepada Rabb-nya.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak istighfar dalam sujud, karena sujud adalah waktu paling dekat dengan Allah.
- Baca doa ini dalam sujud: Allahummaghfirli ma asrartu wa ma a'lant.
- Jangan merasa cukup dengan amal, karena Nabi ﷺ saja terus beristighfar.
- Istighfar mencakup dosa lahir dan batin, maka jangan hanya memohon ampunan untuk dosa yang tampak saja.
- Jaga akhlak lembut dalam keluarga, sebagaimana Nabi ﷺ tidak menegur kecemburuan 'Aisyah.
- Hidupkan malam dengan munajat, meskipun hanya beberapa rakaat atau sujud singkat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.