Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1078 tentang Doa qunut untuk melaknat orang munafik dalam shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah mendoakan keburukan (melaknat) orang-orang munafik tertentu di dalam shalat Subuh, tepatnya setelah bangkit dari ruku' di rakaat terakhir (saat qunut). Namun, Allah ﷻ segera menurunkan firman-Nya dalam QS. Ali 'Imran [3]: 128 yang menegaskan bahwa urusan (memberi keputusan) atas mereka sepenuhnya milik Allah; apakah Dia akan mengampuni atau mengazab mereka. Ini menunjukkan bahwa doa qunut untuk melaknat orang-orang kafir/munafik yang memerangi Islam adalah boleh, namun keputusan akhir tetap di tangan Allah, dan hal ini juga mengajarkan adab bahwa seorang hamba tidak boleh memastikan kebinasaan seseorang, karena bisa jadi Allah menghendaki hidayah untuknya.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

لَيْسَ لَكَ مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ أَوْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ أَوْ يُعَذِّبَهُمْ فَإِنَّهُمْ ظَالِمُونَ

"Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu, atau Allah menerima tobat mereka, atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim." (QS. Ali 'Imran [3]: 128)

2. Hadits Terkait:

Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1078) dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma. Riwayat senada juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari (no. 4069, 4559) dan Shahih Muslim (no. 6779) dari sahabat yang sama.

3. Kaitan dengan Ulama:

  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan doa Nabi ﷺ terhadap orang-orang musyrik yang memerangi beliau, dan Allah mengajarkan bahwa urusan tersebut adalah hak Allah semata.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir-nya menegaskan bahwa ayat ini menunjukkan larangan memastikan kebinasaan seseorang, karena bisa jadi Allah menghendaki kebaikan untuknya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa peristiwa ini terjadi setelah perang Uhud, ketika Nabi ﷺ mendoakan keburukan bagi beberapa pemimpin kafir Quraisy yang sangat memusuhi Islam, seperti Abu Sufyan, Sufyan bin Harb, dan lainnya. Beliau berdoa dalam qunut shalat Subuh setelah bangkit dari ruku' di rakaat terakhir.

Pemahaman Ulama:

  1. Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ mendoakan keburukan atas mereka, Allah ﷻ menurunkan ayat ini sebagai teguran halus sekaligus pelajaran bahwa urusan memberi keputusan atas hamba-Nya adalah hak prerogatif Allah semata. Beliau menukil perkataan Mujahid bahwa ayat ini turun tentang doa Nabi ﷺ terhadap orang-orang musyrik.
  2. Syaikh As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran adab yang agung: seorang hamba tidak boleh memastikan kebinasaan seseorang, karena bisa jadi Allah menghendaki tobat dan hidayah untuknya. Ini juga menunjukkan bahwa doa qunut untuk melaknat orang-orang kafir yang memerangi Islam adalah disyariatkan, namun dengan tetap tunduk pada ketetapan Allah.
  3. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa qunut untuk mendoakan kebaikan kaum muslimin dan keburukan atas orang-orang kafir yang memerangi adalah sunnah yang pernah dilakukan Nabi ﷺ, dan para sahabat serta tabi'in juga melakukannya.
  4. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath Al-Bari menjelaskan bahwa peristiwa ini menunjukkan bolehnya mendoakan keburukan atas orang-orang kafir yang memerangi Islam di dalam shalat, namun dengan tetap menyadari bahwa hidayah dan azab sepenuhnya di tangan Allah.

Pelajaran Penting:

  • Doa qunut untuk melaknat orang-orang kafir yang memerangi Islam adalah disyariatkan, sebagaimana dilakukan Nabi ﷺ.
  • Namun, seorang muslim tidak boleh memastikan kebinasaan seseorang, karena bisa jadi Allah menghendaki hidayah untuknya.
  • Ayat ini juga mengajarkan adab kepada Nabi ﷺ sekaligus kepada umatnya: jangan terlalu memikirkan urusan yang menjadi hak Allah, fokuslah pada ketaatan dan dakwah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata:

> "Aku mendengar Rasulullah ﷺ ketika mengangkat kepalanya dari ruku' pada rakaat terakhir shalat Subuh, beliau berdoa: 'Ya Allah, laknatlah si fulan dan si fulan.' Beliau mendoakan keburukan atas beberapa orang munafik. Maka Allah menurunkan ayat: 'Tidak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu...'" (HR. An-Nasa'i, no. 1078)

Hikmah dari kisah ini:

Betapa agungnya adab yang Allah ajarkan kepada Nabi-Nya. Meskipun Nabi ﷺ adalah manusia paling mulia dan doanya mustajab, Allah tetap mengajarkan bahwa urusan hidayah dan azab adalah hak Allah semata. Ini mengajarkan kita untuk tidak berputus asa terhadap rahmat Allah bagi siapa pun, sekaligus tidak merasa lebih berhak menentukan nasib orang lain. Sebagaimana sebagian orang yang didoakan keburukan oleh Nabi ﷺ, akhirnya justru masuk Islam dan menjadi muslim yang baik. Ini menunjukkan bahwa hidayah adalah milik Allah, dan kita tidak boleh memastikan kebinasaan seseorang.

Kesimpulan Praktis

  1. Qunut untuk mendoakan kebaikan kaum muslimin dan keburukan atas musuh Islam yang memerangi adalah sunnah yang pernah dilakukan Nabi ﷺ.
  2. Jangan memastikan kebinasaan seseorang, karena hidayah dan azab sepenuhnya di tangan Allah.
  3. Fokus pada dakwah dan doa kebaikan, serahkan urusan hidayah kepada Allah.
  4. Ambil pelajaran dari ayat ini: jangan terlalu sibuk memikirkan urusan yang menjadi hak Allah, tapi perbanyak doa dan usaha.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?