Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ memiliki bacaan tasbih khusus dalam rukuk, yaitu: "سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ" (Subbuhun Quddusun Rabbul-mala'ikati war-ruh). Bacaan ini mengandung pujian yang agung kepada Allah, bahwa Dia Maha Suci dari segala kekurangan, dan Dia adalah Tuhan yang mengatur para malaikat dan Ruh (Jibril). Ini adalah salah satu bentuk kesempurnaan ibadah Nabi ﷺ yang menunjukkan kekhusyukan dan pengagungan beliau kepada Allah dalam shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
يُسَبِّحُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ ۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
"Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya milik Allah lah kerajaan dan pujian; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At-Taghabun [64]: 1)
Ayat ini menunjukkan bahwa seluruh makhluk bertasbih kepada Allah, termasuk para malaikat, dan Allah adalah Pemilik kerajaan dan segala pujian.
Hadits terkait:
Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 487) dan Imam Abu Dawud (no. 761) dengan lafaz yang serupa.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nasa'i (w. 303 H) memuat hadits ini dalam Sunan-nya sebagai bagian dari bab doa-doa dalam shalat.
- Imam Muslim (w. 261 H) meriwayatkannya dalam Shahih-nya pada Kitab Shalat, Bab Bacaan dalam Rukuk dan Sujud.
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul-Bari menjelaskan makna "Subbuh" dan "Quddus" serta keutamaannya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa bacaan ini adalah salah satu dari beberapa bacaan yang diajarkan Nabi ﷺ dalam rukuk dan sujud. Berikut penjelasan rincinya:
1. Makna "سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ" (Subbuhun Quddusun)
- "Subbuh" (سُبُّوحٌ): Bentuk mubalaghah (penekanan) dari kata tasbih, yang berarti Maha Suci dari segala kekurangan, keburukan, dan sifat-sifat yang tidak layak bagi keagungan Allah. Ini adalah pujian yang menunjukkan kesempurnaan Allah dari segala aib.
- "Quddus" (قُدُّوسٌ): Berarti Maha Suci lagi Maha Bersih dari segala sifat yang tidak sempurna. Ia juga bermakna Yang Maha Memberkahi dan Maha Mensucikan hamba-hamba-Nya.
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) menjelaskan dalam Fathul-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) bahwa "Subbuh" dan "Quddus" adalah dua sifat yang menunjukkan kesucian Allah dari segala kekurangan, dan keduanya termasuk asmaul-husna yang agung.
2. Makna "رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ" (Rabbul-mala'ikati war-ruh)
- "Rabbul-mala'ikah": Tuhan yang mengatur, memelihara, dan menguasai seluruh malaikat.
- "Ar-Ruh": Sebagian besar ulama tafsir, seperti Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir-nya, menjelaskan bahwa "ar-Ruh" di sini adalah Jibril 'alaihis-salam, karena ia adalah pemimpin para malaikat dan yang menyampaikan wahyu. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa "ar-Ruh" adalah malaikat yang khusus, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Naba' [78]: 38.
Imam As-Sa'di (w. 1376 H) dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa penyebutan "ar-Ruh" secara khusus setelah "malaikat" menunjukkan kemuliaan dan keutamaan Jibril di sisi Allah.
3. Hikmah bacaan ini dalam rukuk
- Rukuk adalah posisi ketundukan yang paling dalam, dan Nabi ﷺ mengajarkan untuk memperbanyak tasbih dan pujian kepada Allah di dalamnya.
- Bacaan ini menunjukkan bahwa Allah adalah Tuhan yang mengatur seluruh alam, termasuk makhluk-makhluk yang paling mulia seperti malaikat dan Jibril. Ini menumbuhkan rasa tawadhu (rendah hati) bahwa kita hanyalah hamba yang lemah di hadapan-Nya.
- Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa bacaan ini termasuk mustahab (disunnahkan) dalam rukuk dan sujud, dan boleh dibaca secara bergantian dengan bacaan tasbih lainnya seperti "Subhana Rabbiyal-'Azhim".
4. Perbedaan pendapat ulama tentang bacaan rukuk
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah sepakat bahwa bacaan tasbih dalam rukuk adalah sunnah, namun mereka berbeda pendapat tentang yang paling utama:
- Imam Abu Hanifah (w. 150 H) dan Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) berpendapat bahwa membaca "Subhana Rabbiyal-'Azhim" (Maha Suci Tuhanku yang Maha Agung) adalah yang paling utama, karena perintah langsung dalam QS. Al-Waqi'ah [56]: 74.
- Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H) dan Imam Malik (w. 179 H) berpendapat bahwa boleh membaca bacaan apa saja yang sah dari Nabi ﷺ, termasuk "Subbuhun Quddusun Rabbul-mala'ikati war-ruh", karena semua bacaan tersebut diajarkan oleh Nabi ﷺ.
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H) dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa semua bacaan yang sah dari Nabi ﷺ dalam rukuk dan sujud adalah baik, dan seorang muslim boleh memilih di antara bacaan-bacaan tersebut sesuai dengan kondisi dan kekhusyukannya. Yang terpenting adalah tidak meninggalkan dzikir sama sekali.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Imam Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) — seorang tabi'in yang terkenal zuhud dan takut kepada Allah — ketika ditanya tentang rahasia kekhusyukan dalam shalat, beliau berkata:
> "Wahai anakku, sesungguhnya orang-orang dahulu (para sahabat) ketika mereka berdiri untuk shalat, mereka seakan-akan melihat Allah di hadapan mereka. Maka bagaimana mungkin hati mereka lalai dari mengagungkan-Nya?"
Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memperhatikan kualitas ibadah mereka, termasuk dalam bacaan-bacaan rukuk dan sujud. Mereka tidak hanya membaca secara lisan, tetapi menghayati makna setiap kalimat yang diucapkan. Bacaan "Subbuhun Quddusun Rabbul-mala'ikati war-ruh" adalah salah satu cara Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk merasakan keagungan Allah dalam setiap gerakan shalat.
Kesimpulan Praktis
- Hafalkan dan amalkan bacaan "Subbuhun Quddusun Rabbul-mala'ikati war-ruh" dalam rukuk, karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ yang sah.
- Boleh bergantian dengan bacaan tasbih lainnya seperti "Subhana Rabbiyal-'Azhim" (dalam rukuk) dan "Subhana Rabbiyal-A'la" (dalam sujud), sesuai dengan yang dicontohkan Nabi ﷺ.
- Hayati maknanya — bahwa Allah Maha Suci dari segala kekurangan dan Dia adalah Tuhan yang mengatur seluruh alam, termasuk para malaikat dan Jibril. Ini akan menambah kekhusyukan shalat kita.
- Perbanyak doa dan dzikir dalam rukuk dan sujud, karena Nabi ﷺ bersabda: "Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Allah; dan ketika sujud, maka bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena doa di sana mustajab (dikabulkan)." (HR. Muslim no. 479)
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.