Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ memperbanyak bacaan "سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي" ketika ruku' dan sujud. Bacaan ini merupakan pengamalan langsung dari perintah Allah dalam QS. An-Nashr [110]: 3, yaitu memuji Allah sambil memohon ampunan. Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penggabungan antara tasbih (menyucikan Allah), tahmid (memuji-Nya), dan istighfar (memohon ampun) dalam satu doa.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Al-Qur'an — QS. An-Nashr [110]: 3
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
"Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima tobat."
Hadits terkait:
- Hadits ini diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, dikeluarkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya (no. 1047), kitab Taqrib, bab Jenis Lain dari Dzikir dalam Ruku'. Hadits semakna juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari jalur Aisyah.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya membaca tasbih yang mengandung pujian dan istighfar dalam ruku' dan sujud.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Aisyah memahami bacaan ini sebagai bentuk pengamalan ayat An-Nashr, karena Nabi ﷺ mengamalkannya setelah turunnya ayat tersebut.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat An-Nashr [110]: 3 memerintahkan tasbih, tahmid, dan istighfar sekaligus — dan inilah yang dipraktikkan Nabi ﷺ dalam shalat.
Penjelasan Rinci
Makna lafazh doa:
- سُبْحَانَكَ (Subhanaka) — "Maha Suci Engkau", yaitu menyucikan Allah dari segala kekurangan.
- رَبَّنَا (Rabbana) — "Tuhan kami", pengakuan bahwa Allah adalah Rabb yang mengurus dan memelihara.
- وَبِحَمْدِكَ (wa bihamdika) — "dan dengan memuji-Mu", yaitu memuji Allah dengan segala sifat kesempurnaan-Nya.
- اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي (Allahummaghfir li) — "Ya Allah, ampunilah aku", permohonan ampunan kepada Allah.
Pemahaman ulama:
Imam an-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Syarh Muslim menyatakan bahwa bacaan ini termasuk dzikir yang disunnahkan dalam ruku' dan sujud, dan boleh dibaca bersamaan dengan bacaan "سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ" (saat ruku') dan "سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى" (saat sujud). Beliau menegaskan bahwa Nabi ﷺ mengamalkan keduanya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hikmah penggabungan ini: ketika Allah memerintahkan Nabi ﷺ bertasbih, tahmid, dan istighfar (QS. An-Nashr: 3), Nabi ﷺ langsung mengamalkannya dalam shalat — sehingga shalat menjadi sarana utama pengamalan ayat tersebut.
Ibn Katsir dalam tafsirnya menukil bahwa Umar dan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma juga memahami ayat An-Nashr sebagai isyarat dekatnya ajal Nabi ﷺ, dan Nabi ﷺ memperbanyak bacaan ini sebagai bentuk kesiapan menghadap Allah.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa bacaan ini termasuk dzikir yang Nabi ﷺ perbanyak (يُكْثِرُ), menunjukkan bahwa beliau tidak hanya membacanya sekali-sekali, tetapi menjadikannya kebiasaan dalam ruku' dan sujud.
Perbedaan pendapat ulama:
- Sebagian ulama (seperti dalam madzhab Syafi'i dan Hanbali) berpendapat bacaan tasbih ruku' dan sujud yang utama adalah "سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ" dan "سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى", sedangkan bacaan dalam hadits ini boleh dibaca sebagai tambahan atau variasi.
- Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah membolehkan membaca bacaan ini dalam ruku' dan sujud, dan tidak menganggapnya menyelisihi bacaan utama.
- Pendapat yang paling kuat: keduanya boleh dibaca, dan menggabungkan keduanya adalah lebih utama, karena Nabi ﷺ mengamalkan keduanya dalam waktu yang berbeda atau bersamaan.
Story Telling
Aisyah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ yang paling dekat dan paling mengetahui kebiasaan beliau di rumah — memperhatikan bahwa Nabi ﷺ sering (يُكْثِرُ) membaca doa ini dalam ruku' dan sujud. Ini menunjukkan bahwa Aisyah benar-benar mengamati shalat Nabi ﷺ dengan teliti, sehingga beliau bisa menceritakan detail bacaan yang mungkin tidak diketahui banyak orang.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menyebutkan bahwa Aisyah adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang sifat shalat Nabi ﷺ, termasuk bacaan-bacaan dalam ruku' dan sujud. Dari beliau pula kita mengetahui bahwa Nabi ﷺ mengamalkan ayat An-Nashr dalam shalatnya.
Ibnu Hajar menukil bahwa ketika ayat An-Nashr turun, Nabi ﷺ memahami bahwa itu adalah isyarat dekatnya ajal beliau, sehingga beliau memperbanyak tasbih, tahmid, dan istighfar — dan Aisyah menyaksikan langsung pengamalan itu dalam shalat beliau.
Kesimpulan Praktis
- Bacaan ini disunnahkan dalam ruku' dan sujud, dan boleh dibaca bersamaan dengan tasbih ruku' dan sujud yang biasa.
- Menggabungkan tasbih, tahmid, dan istighfar dalam satu doa adalah bentuk pengamalan QS. An-Nashr [110]: 3.
- Perbanyaklah istighfar dalam shalat, karena Nabi ﷺ mencontohkannya.
- Ikuti pemahaman ulama seperti Imam an-Nawawi, Ibnu Hajar, Ibn Katsir, dan Ibnul Qayyim dalam mengamalkan hadits ini.
- Jangan menyelisihi sunnah dengan meninggalkan bacaan ini hanya karena terbiasa dengan satu bacaan saja.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.