Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Nasa'i No. 1014 tentang Memanjangkan bacaan Al-Qur'an saat membacanya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur'an dengan suara yang dipanjangkan, yaitu bacaan yang pelan, tartil, dan tidak terburu-buru. Beliau memanjangkan bacaan pada tempat-tempat yang semestinya dipanjangkan (mad), sehingga bacaannya jelas, tenang, dan penuh penghayatan. Ini adalah petunjuk penting bagi kita untuk membaca Al-Qur'an dengan tartil dan tidak tergesa-gesa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat An-Nasa'i:

أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ، قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ، عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ سَأَلْتُ أَنَسًا كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَةُ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ كَانَ يَمُدُّ صَوْتَهَ مَدًّا

"Telah mengabarkan kepada kami 'Amr bin 'Ali, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrahman, dia berkata: telah menceritakan kepada kami Jarir bin Hazim, dari Qatadah, dia berkata: Aku bertanya kepada Anas: 'Bagaimana cara Rasulullah ﷺ membaca Al-Qur'an?' Dia menjawab: 'Beliau biasa memanjangkan suaranya dengan panjang.'" (HR. An-Nasa'i, Kitab Pembukaan, Bab Memanjangkan Suara dalam Bacaan, no. 1014)

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah ﷻ berfirman:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil)." (QS. Al-Muzzammil [73]: 4)

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna tartil adalah membaca dengan perlahan dan tidak tergesa-gesa, serta memperhatikan hukum-hukum bacaan. Beliau menukil perkataan Mujahid dan Qatadah yang menyatakan bahwa tartil berarti membaca dengan tenang dan pelan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan oleh Qatadah bin Di'amah as-Sadusi, seorang tabi'in yang terkenal kuat hafalannya dan termasuk ulama tafsir dari kalangan tabi'in. Beliau bertanya langsung kepada Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, sahabat yang menjadi pelayan Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun dan paling banyak meriwayatkan hadits tentang sifat-sifat ibadah beliau.

Jawaban Anas bin Malik: "كَانَ يَمُدُّ صَوْتَهَ مَدًّا" (Beliau biasa memanjangkan suaranya dengan panjang) menunjukkan bahwa bacaan Nabi ﷺ tidaklah terburu-buru. Beliau membaca dengan memperpanjang bacaan pada huruf-huruf mad (panjang), seperti pada bacaan bismillah, ar-rahman, ar-rahim, dan seterusnya.

Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa bacaan Nabi ﷺ adalah bacaan yang paling sempurna, paling pelan, dan paling tartil. Beliau tidak membaca terlalu cepat sehingga huruf-hurufnya tidak jelas, dan tidak pula terlalu lambat sehingga keluar dari batas tartil.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa memanjangkan bacaan ini mencakup dua hal:

  1. Memanjangkan suara pada tempat-tempat mad (panjang) sesuai kaidah tajwid.
  2. Memanjangkan bacaan secara umum, yaitu membaca dengan pelan dan tidak tergesa-gesa, sehingga setiap huruf keluar dari makhrajnya dengan jelas.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menyebutkan bahwa bacaan Nabi ﷺ adalah bacaan yang paling indah dan paling jelas, tidak seperti bacaan orang yang terburu-buru. Beliau membaca ayat demi ayat dengan tenang, bahkan kadang membaca satu surat dengan waktu yang cukup lama karena keindahan dan ketelitian bacaannya.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ummu Salamah radhiyallahu 'anha pernah ditanya tentang bacaan Rasulullah ﷺ. Beliau menjawab: "Beliau membaca dengan memutus-mutus bacaannya, ayat demi ayat. Beliau membaca: 'Bismillahir-rahmanir-rahim' lalu berhenti, kemudian 'Alhamdulillahi rabbil-'alamin' lalu berhenti, kemudian 'Ar-rahmanir-rahim' lalu berhenti." (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Ini menunjukkan bahwa bacaan Nabi ﷺ sangat pelan dan jelas, tidak terburu-buru. Beliau memberikan hak setiap ayat untuk dibaca dengan tenang dan penuh penghayatan.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang bacaan Al-Qur'an yang baik. Beliau menjawab: "Bacaan yang paling baik adalah yang paling pelan dan paling tartil, karena Allah ﷻ memuji orang yang membaca dengan tartil dalam firman-Nya: 'Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan (tartil).'"

Kesimpulan Praktis

  1. Membaca Al-Qur'an dengan tartil — jangan terburu-buru, bacalah dengan tenang dan jelas.
  2. Memanjangkan bacaan pada tempat mad — perhatikan hukum tajwid, terutama bacaan mad (panjang) yang menjadi ciri khas bacaan Nabi ﷺ.
  3. Menghayati makna — bacaan yang pelan membantu kita untuk merenungkan dan memahami ayat-ayat yang dibaca.
  4. Menjadikan bacaan Nabi ﷺ sebagai contoh — beliau adalah teladan terbaik dalam segala hal, termasuk cara membaca Al-Qur'an.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.