Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bagaimana Nabi ﷺ menghabiskan malam dengan mengulang-ulang satu ayat Al-Qur'an, yaitu QS. Al-Ma'idah [5]: 118, sebagai bentuk ibadah, tadabbur (perenungan), dan doa. Ini mengajarkan kepada kita bahwa membaca Al-Qur'an bukan sekadar melafalkan, tetapi juga merenungkan maknanya dan menjadikannya sarana bermunajat kepada Allah. Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini dalil tentang keutamaan mengulang ayat untuk merenungi maknanya.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang diulang Nabi ﷺ:
QS. Al-Ma'idah [5]: 118
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Jika Engkau menghukum mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau, hanya Engkau, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana."
Hadits terkait:
Diriwayatkan oleh An-Nasa'i dalam Sunan-nya (Kitab Pembukaan, Bab Pengulangan Ayat, no. 1010), dari sahabat Abu Dzarr al-Ghifari رضي الله عنه, melalui Jasrah binti Dijajah. Hadits ini juga memiliki riwayat serupa dalam kitab-kitab hadits lainnya.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mengulang-ulang ayat Al-Qur'an adalah bentuk tadabbur dan tafakkur yang disyariatkan.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa mengulang ayat untuk merenungi maknanya termasuk amalan salaf.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan makna ayat ini sebagai doa Nabi Isa عليه السلام, dan ia menyebutkan bahwa ayat ini mengandung tawassul dengan nama Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Penjelasan Rinci
Hadits ini menggambarkan sebuah pemandangan yang sangat agung: Nabi ﷺ berdiri shalat malam hingga waktu Subuh tiba, sambil mengulang-ulang satu ayat saja. Ayat yang beliau ulang adalah bagian dari doa Nabi Isa عليه السلام kepada Allah sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 118, yaitu:
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Makna ayat:
Ayat ini mengandung dua sisi penghambaan yang sangat dalam:
- Pengakuan hamba: Jika Allah menghukum, itu adalah hak Allah karena mereka hamba-Nya.
- Harapan ampunan: Jika Allah mengampuni, itu karena keagungan sifat Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Bagaimana para ulama memahami hadits ini:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya mengulang-ulang ayat Al-Qur'an untuk merenungi maknanya, dan bahwa hal itu bukanlah perbuatan yang sia-sia. Beliau menyebutkan bahwa ini adalah amalan para salaf, di mana mereka terkadang menghabiskan malam dengan satu ayat untuk merenungi kandungannya.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa mengulang ayat adalah bentuk tadabbur yang paling dalam, karena seseorang tidak hanya membaca, tetapi juga merenungi makna dan menjadikannya sebagai doa serta munajat.
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah doa Nabi Isa عليه السلام, dan ia menyebutkan bahwa ayat ini mengandung pelajaran tentang tawassul dengan nama-nama Allah yang agung. Beliau juga menyebutkan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa hukuman dan ampunan adalah hak Allah sepenuhnya.
Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam Zaadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ sering mengulang-ulang ayat untuk merenungi maknanya, dan bahwa ini adalah cara terbaik untuk menghidupkan malam. Beliau menyebutkan bahwa mengulang ayat dapat menumbuhkan rasa takut, harap, dan cinta kepada Allah.
Pelajaran penting:
- Tadabbur lebih utama dari sekadar banyak membaca: Meskipun membaca banyak ayat itu baik, namun merenungi satu ayat dengan mendalam juga merupakan amalan yang sangat mulia.
- Al-Qur'an sebagai doa: Ayat ini adalah doa, dan Nabi ﷺ mengulanginya sebagai bentuk munajat kepada Allah.
- Menghidupkan malam: Nabi ﷺ menghabiskan malam dengan ibadah, bukan dengan tidur atau hal yang sia-sia.
- Tawassul dengan nama Allah: Ayat ini mengandung tawassul dengan nama Allah "Al-'Aziz" (Yang Maha Perkasa) dan "Al-Hakim" (Yang Maha Bijaksana).
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama berpendapat bahwa mengulang-ulang ayat dalam shalat boleh dilakukan selama tidak mengganggu kekhusyukan. Sebagian lagi berpendapat bahwa itu adalah amalan yang khusus dilakukan di luar shalat. Namun, pendapat yang paling kuat — sebagaimana disebutkan oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — adalah bahwa mengulang ayat dalam shalat maupun di luar shalat adalah amalan yang disyariatkan, karena Nabi ﷺ sendiri melakukannya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Dzarr al-Ghifari رضي الله عنه — seorang sahabat yang terkenal dengan kezuhudannya dan kedekatannya dengan Nabi ﷺ — menceritakan apa yang ia saksikan sendiri. Ia melihat Nabi ﷺ berdiri shalat malam, dan beliau terus mengulang-ulang satu ayat hingga waktu Subuh. Bayangkan, sepanjang malam itu, lisan Nabi ﷺ tidak berhenti melafalkan:
إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ ۖ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Abu Dzarr yang menyaksikan pemandangan itu tentu merasakan betapa dalamnya munajat Nabi ﷺ. Beliau tidak mengulang ayat itu karena lupa, tetapi karena hati beliau tenggelam dalam maknanya. Ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam tadabbur Al-Qur'an.
Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri juga dikenal sering mengulang-ulang ayat untuk merenungi maknanya. Mereka menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber kekhusyukan dan kelembutan hati.
Kesimpulan Praktis
- Hidupkan malam dengan tadabbur: Tidak perlu banyak ayat, yang penting adalah merenungi maknanya dengan hati yang hadir.
- Jadikan Al-Qur'an sebagai doa: Ayat-ayat yang mengandung doa bisa kita ulang-ulang untuk bermunajat kepada Allah.
- Teladani Nabi ﷺ: Beliau mengulang ayat hingga Subuh, menunjukkan bahwa ibadah malam adalah waktu terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah.
- Jangan remehkan satu ayat: Satu ayat yang direnungkan dengan dalam bisa lebih bermanfaat daripada banyak ayat yang dibaca tanpa tadabbur.
- Bertaubat dan berharap ampunan: Ayat ini mengajarkan kita untuk selalu memohon ampunan kepada Allah, karena Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.