Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa tingginya sikap zuhud (tidak cinta dunia) dan kehati-hatian Nabi ﷺ terhadap harta. Beliau tidak ingin memiliki kekayaan duniawi yang melimpah, karena khawatir hal itu akan melalaikan beliau dari urusan akhirat. Satu-satunya hal yang membuat beliau rela menyimpan harta hanyalah untuk melunasi utang, karena menunaikan hak orang lain adalah kewajiban yang tidak boleh ditunda.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Zakat, Bab "Penegasan Hukuman Bagi Yang Tidak Membayar Zakat" (no. 991), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Lafadz haditsnya:
مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي أُحُدًا ذَهَبًا تَأْتِي عَلَيَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِي مِنْهُ دِينَارٌ إِلاَّ دِينَارٌ أُرْصِدُهُ لِدَيْنٍ عَلَيَّ
Artinya: "Tidak ada yang menyenangkan bagiku bahwa aku memiliki gunung Uhud yang terbuat dari emas, lalu datang kepadaku malam ketiga sementara aku masih memiliki satu dinar darinya, kecuali satu dinar yang aku sisihkan untuk membayar utang yang ada padaku."
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
QS. Al-Kahfi [18]: 46
الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا
Artinya: "Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan."
Kaitan dengan Ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan meninggalkan kelebihan harta dan tidak menyimpannya, serta anjuran untuk segera membayar utang. Beliau juga menjelaskan bahwa yang dimaksud Nabi ﷺ adalah sikap zuhud terhadap dunia dan tidak merasa tenang dengan menumpuk harta.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Sikap Zuhud Nabi ﷺ Terhadap Dunia
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa zuhud bukan berarti mengharamkan harta atau tidak boleh memilikinya sama sekali. Zuhud adalah menjadikan harta di tangan, bukan di hati. Nabi ﷺ menggambarkan bahwa beliau tidak ingin memiliki gunung Uhud yang terbuat dari emas, karena hal itu akan menjadi ujian dan cobaan baginya.
Syaikhul Islam Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa sikap Nabi ﷺ ini adalah bentuk pengajaran kepada umatnya agar tidak terlalu mencintai dunia dan tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama kehidupan.
2. Utang Adalah Tanggung Jawab yang Harus Ditunaikan
Yang sangat menarik dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengecualikan satu dinar yang disisihkan untuk membayar utang. Ini menunjukkan bahwa utang adalah hak orang lain yang wajib ditunaikan. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa seorang muslim harus bersegera melunasi utangnya dan tidak menunda-nundanya tanpa alasan yang dibenarkan.
3. Harta Dunia Bisa Menjadi Fitnah
Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa harta dan anak adalah perhiasan dunia yang bisa melalaikan manusia dari mengingat Allah. Karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak menjadikan harta sebagai tujuan utama, tetapi menjadikannya sebagai sarana untuk beribadah dan membantu sesama.
4. Boleh Menyimpan Harta untuk Kebutuhan yang Penting
Hadits ini tidak berarti mengharamkan menyimpan harta sama sekali. Yang dilarang adalah menumpuk harta tanpa manfaat dan melalaikan hak Allah serta hak orang lain. Imam asy-Syafi'i dan para ulama lainnya membolehkan menyimpan harta untuk kebutuhan keluarga dan persiapan masa depan, selama zakat dan hak-hak lainnya ditunaikan.
5. Pelajaran tentang Zakat
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini diletakkan oleh Imam Muslim dalam bab zakat karena berkaitan dengan semangat mengeluarkan harta dan tidak menahannya. Orang yang enggan membayar zakat berarti terlalu mencintai harta dan tidak memahami hakikat kehidupan dunia yang fana.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling zuhud. Beliau sering kelaparan karena tidak memiliki makanan, namun tetap teguh bersama Nabi ﷺ di Shuffah (serambi Masjid Nabawi). Suatu hari beliau melihat orang-orang kaya datang membawa harta mereka untuk disedekahkan, sementara beliau tidak memiliki apa-apa. Maka beliau menemui Nabi ﷺ dan bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah orang-orang kaya itu akan mengungguli kami di akhirat?"
Nabi ﷺ menjawab dengan sabda yang menenangkan bahwa siapa yang bersabar dan ikhlas, Allah akan memberikan balasan yang berlipat ganda. Kisah ini menunjukkan bahwa kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari banyaknya harta, tetapi dari ketakwaan dan keikhlasan hati.
Kesimpulan Praktis
- Jangan menjadikan harta sebagai tujuan utama hidup — jadikan ia sarana untuk beribadah dan berbuat kebaikan.
- Segera lunasi utang jika memiliki kemampuan, karena menunda pembayaran utang bagi orang yang mampu adalah kezaliman.
- Tunaikan zakat dan sedekah dengan ikhlas, karena harta yang dikeluarkan di jalan Allah akan diganti dengan yang lebih baik.
- Belajar zuhud dengan tidak terlalu bergembira saat mendapat dunia dan tidak terlalu bersedih saat kehilangannya.
- Sisihkan harta untuk kebutuhan penting seperti melunasi utang dan memenuhi hak keluarga, selama tidak berlebihan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.