Penjelasan Hadits Muslim No. 989 tentang Anjuran bersikap baik kepada pemungut zakat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita adab yang mulia ketika berinteraksi dengan para petugas pemungut zakat. Rasulullah ﷺ memerintahkan kita untuk bersikap baik dan memudahkan urusan mereka, bukan malah mempersulit atau mencurigai mereka. Sikap ini akan membawa keberkahan, ketenangan, dan menjauhkan kita dari permusuhan. Bahkan sahabat Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu langsung mengamalkannya dan merasakan buahnya, yaitu para pemungut zakat selalu merasa puas dan senang kepadanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini shahih dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Zakat, Bab Memuaskan Para Pemungut Zakat (no. 989).

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman tentang kewajiban menunaikan zakat dan berinteraksi dengan para pengelolanya:

QS. At-Taubah [9]: 103

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Ayat ini menunjukkan bahwa zakat adalah pensucian harta dan jiwa, dan para pemungut zakat adalah pelaksana perintah Allah ini. Maka sudah sepantasnya kita menyambut mereka dengan baik.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan anjuran untuk bersikap baik kepada para pemungut zakat, memudahkan mereka, dan tidak mempersulit urusan mereka.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga membahas adab-adab terkait zakat dan interaksi dengan para petugasnya, menekankan pentingnya saling menghormati dan menghindari perselisihan.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Perintah untuk Ridha dan Bersikap Baik: Sabda Nabi ﷺ "ارْضُوا مُصَدِّقِيكُمْ" (ridhai/puasakanlah para pemungut zakat kalian) adalah perintah yang menunjukkan anjuran kuat. Maknanya adalah janganlah kalian mempersulit mereka, jangan menyembunyikan harta yang wajib dizakati, dan jangan bersikap kasar. Sebaliknya, berikanlah hak zakat dengan penuh kerelaan dan hati yang lapang.
  2. Memahami Tugas Pemungut Zakat: Para pemungut zakat (al-mushaddiqun) adalah petugas yang diutus oleh pemerintah/Imam untuk mengambil zakat dari orang-orang yang wajib menunaikannya. Mereka menjalankan tugas yang mulia. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa tugas mereka adalah mengambil hak Allah dari harta kaum muslimin, maka sudah seharusnya mereka disambut dengan baik.
  3. Sikap Sahabat yang Ideal: Perkataan Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, "Tidak ada pemungut zakat yang pergi kecuali ia merasa puas denganku," adalah bukti nyata pengamalan hadits ini. Beliau tidak hanya memahami secara teori, tetapi langsung mempraktikkannya. Ini menunjukkan bahwa sikap baik dan transparan akan melahirkan kepuasan dan menghilangkan kecurigaan.
  4. Menghindari Perselisihan: Hadits ini juga mengajarkan kita untuk menghindari pertengkaran dan permusuhan. Jika ada pemungut zakat yang dirasa kurang adil, maka penyelesaiannya bukan dengan cara mempersulit atau melawan, tetapi dengan cara yang baik, misalnya dengan klarifikasi atau mengadu kepada pihak yang berwenang, bukan dengan cara yang merusak hubungan.
  5. Keberkahan dalam Ketaatan: Zakat adalah rukun Islam. Menunaikannya dengan hati yang ikhlas dan memudahkan para petugasnya akan mendatangkan keberkahan dalam harta dan ketenangan dalam jiwa, sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas bahwa zakat itu membersihkan dan mensucikan.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang sikap para salaf dalam berinteraksi dengan pemungut zakat. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang memiliki harta dan datang kepadanya seorang pemungut zakat. Beliau menganjurkan untuk menyambutnya dengan baik, memberikan haknya, dan tidak menunjukkan kebencian. Ini adalah cerminan akhlak Nabi ﷺ yang selalu memudahkan, bukan mempersulit.

Kisah lain yang lebih terkenal adalah tentang Umar bin Abdul Aziz (walaupun beliau bukan dari daftar ulama yang disebutkan, kisah ini diriwayatkan oleh ulama-ulama kita). Beliau sangat memperhatikan keadilan dalam pengumpulan zakat, sehingga para pegawainya pun diperintahkan untuk bersikap lembut kepada rakyat. Ini menunjukkan bahwa keadilan dan kelembutan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dalam urusan zakat.

Hikmah dari kisah-kisah ini adalah bahwa sikap saling menghormati antara pembayar zakat dan pemungut zakat akan menciptakan masyarakat yang harmonis dan penuh keberkahan.

Kesimpulan Praktis

  1. Sambut dengan Baik: Ketika ada petugas zakat datang, sambutlah mereka dengan wajah yang ramah dan hati yang lapang.
  2. Berikan dengan Ikhlas: Keluarkanlah zakat harta Anda dengan penuh keikhlasan dan tanpa rasa berat, karena itu adalah hak Allah yang dititipkan pada harta kita.
  3. Jangan Mempersulit: Hindari sikap menyembunyikan harta atau berdebat yang tidak perlu. Jika ada ketidakjelasan, tanyakan dengan adab yang baik.
  4. Doakan Mereka: Doakan para pemungut zakat dan para pengurusnya, semoga Allah membalas kebaikan mereka dan memberikan kekuatan dalam menjalankan amanah.
  5. Jadikan Teladan: Jadikan sikap Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu sebagai contoh nyata dalam berinteraksi dengan para pemungut zakat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?