Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan keutamaan besar menghadiri jenazah: siapa yang ikut shalat jenazah mendapat pahala satu qirat, dan yang ikut sampai penguburan mendapat dua qirat. Qirat digambarkan Nabi ﷺ seperti dua gunung yang besar. Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, ketika mendengar hadits ini, menyesal karena sering pulang setelah shalat jenazah dan tidak menunggu sampai dikuburkan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Jenazah, Bab Keutamaan Shalat Jenazah dan Mengikutinya (no. 945), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Teks hadits yang menjadi inti:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا فَلَهُ قِيرَاطٌ، وَمَنْ شَهِدَهَا حَتَّى تُدْفَنَ فَلَهُ قِيرَاطَانِ». قِيلَ: وَمَا الْقِيرَاطَانِ؟ قَالَ: «مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ»
Terjemah ringkas: "Siapa yang menghadiri jenazah sampai dishalatkan, baginya satu qirat; siapa yang menghadiri sampai dikuburkan, baginya dua qirat. Ditanya: apa itu dua qirat? Beliau menjawab: seperti dua gunung yang besar."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan amal dan pahala yang berlipat:
وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
(QS. Az-Zalzalah [99]: 7)
Terjemah: "Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya."
Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini menunjukkan Allah tidak menyia-nyiakan amal sekecil apa pun, apalagi amal besar seperti mengantar jenazah. As-Sa'di menegaskan bahwa balasan kebaikan itu pasti dan berlipat sesuai keikhlasan serta kesesuaian dengan sunnah.
Penjelasan Rinci
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menghadiri jenazah dan mengantarkannya sampai dikuburkan. Qirat adalah ukuran pahala yang hanya Allah mengetahui hakikatnya, dan Nabi ﷺ menyerupakannya dengan gunung yang besar untuk menggambarkan betapa agungnya pahala tersebut.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna qirat: ada yang mengatakan sebesar gunung Uhud, ada yang mengatakan seperti gunung besar secara umum. Yang jelas, ini adalah pahala yang sangat besar dari Allah.
Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa mengantar jenazah hingga dikuburkan termasuk amal yang menggabungkan antara hak mayit, hak keluarga, dan ibadah kepada Allah. Karena itu pahalanya berlipat.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat bersemangat menghadiri jenazah sampai penguburan karena besarnya pahala yang dijanjikan.
Adapun sikap Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma yang disebutkan dalam hadits: beliau biasa shalat jenazah lalu pulang. Ketika mendengar hadits Abu Hurairah, beliau menyesal dan berkata: "Kami telah kehilangan banyak qirat." Ini menunjukkan bahwa para sahabat pun bisa belum mengetahui sebagian sunnah, dan ketika mengetahuinya mereka langsung menerima dan menyesali kelalaian. Ini adalah adab salaf: tunduk pada dalil, bukan pada kebiasaan.
Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dalam kitab shahihnya, dan Imam an-Nawawi menegaskan bahwa hadits ini shahih dan menjadi dalil utama dalam bab keutamaan mengantar jenazah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang sangat kuat mengikuti sunnah, biasa menghadiri jenazah, shalat, lalu pulang. Suatu hari sampailah kepadanya hadits Abu Hurairah tentang dua qirat bagi yang menunggu sampai penguburan. Beliau pun berkata dengan penuh penyesalan: "Kami telah kehilangan banyak qirat." Kisah ini disebutkan dalam Shahih Muslim dan dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Hikmahnya: seorang mukmin sejati tidak keras kepala dengan kebiasaannya, tetapi langsung kembali kepada sunnah ketika dalil datang.
Kesimpulan Praktis
- Hadirilah shalat jenazah; itu sudah mendapatkan satu qirat.
- Jika mampu, tunggulah sampai jenazah dikuburkan untuk mendapatkan dua qirat.
- Jangan remehkan amal-amal yang tampak kecil; Allah memberi pahala besar.
- Ketika mengetahui sunnah yang belum kita amalkan, terimalah dengan lapang dada seperti Ibnu Umar.
- Niatkan untuk mencari pahala Allah, bukan pujian manusia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.