Penjelasan Hadits Muslim No. 919 tentang Doa kebaikan saat menjenguk orang sakit atau mayit

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab penting saat mengunjungi orang sakit atau menghadapi orang yang meninggal: ucapkanlah doa dan perkataan yang baik, karena para malaikat mengaminkan apa yang kita ucapkan. Umm Salamah radhiyallahu 'anha mengamalkan hal ini saat suaminya, Abu Salamah, wafat, dan Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Intinya: lisan kita saat menghadapi sakit dan kematian hendaknya dipenuhi doa kebaikan, bukan keluhan atau ucapan yang sia-sia.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Baqarah [2]: 156

وَالَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

"Dan orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: 'Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami kembali.'"

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Jenazah, dari Umm Salamah radhiyallahu 'anha. Perawi jalur: Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib → Abu Mu'awiyah → Al-A'masy → Syaqiq → Umm Salamah.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung anjuran mengucapkan perkataan baik di hadapan orang sakit dan mayit, karena malaikat mengaminkan ucapan tersebut.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa doa di sisi orang sakit dan mayit lebih dekat untuk dikabulkan karena kehadiran malaikat.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa termasuk petunjuk Nabi ﷺ adalah mengajarkan doa dan ucapan baik saat menghadapi musibah kematian.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Nabi ﷺ mengajarkan kepada umatnya bahwa ketika seseorang mengunjungi orang sakit atau berada di sisi orang yang sedang menghadapi kematian (atau telah meninggal), hendaknya ia mengucapkan perkataan yang baik — berupa doa, permohonan ampun, dan harapan kebaikan. Alasannya, para malaikat yang hadir mengaminkan ucapan tersebut, sehingga doa itu sangat besar kemungkinan dikabulkan.

Pemahaman para ulama:

  1. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "malaikat mengaminkan" berarti malaikat mengucapkan "Amin" atas doa yang dipanjatkan, sehingga doa tersebut menjadi lebih mustajab. Beliau juga menyebutkan bahwa ini berlaku baik di sisi orang sakit maupun mayit.
  2. Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa hikmahnya adalah agar orang yang hadir tidak mengucapkan perkataan buruk atau putus asa di hadapan orang sakit, karena hal itu bisa mempengaruhi keadaan spiritual orang sakit dan juga diaminkan oleh malaikat.
  3. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa doa yang diajarkan Nabi ﷺ dalam hadits ini — "Allahummaghfir li wa lahu wa a'qibni minhu 'uqba hasanah" — mengandung tiga permintaan: ampunan untuk diri sendiri, ampunan untuk mayit, dan penggantian yang baik bagi yang ditinggalkan.
  4. Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam asy-Syafi'i menyebutkan bahwa disunnahkan bagi yang mengunjungi orang sakit untuk mendoakan kesembuhan dan kebaikan, dan bagi yang menghadapi mayit untuk mendoakan ampunan.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama membahas apakah perintah "qulu khairan" (ucapkanlah kebaikan) bersifat wajib atau sunnah. Jumhur ulama — termasuk an-Nawawi dan Ibnu Hajar — menyatakan bahwa ini adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), bukan wajib, karena konteksnya adalah bimbingan adab. Namun meninggalkannya berarti kehilangan keutamaan besar.

Pelajaran dari kisah Umm Salamah:

Umm Salamah radhiyallahu 'anha mengamalkan doa yang diajarkan Nabi ﷺ dengan penuh keyakinan, meskipun saat itu ia sedang dalam kesedihan mendalam. Allah pun mengabulkan doanya dengan menggantinya dengan suami yang lebih baik, yaitu Rasulullah ﷺ sendiri. Ini menunjukkan bahwa doa yang diucapkan dengan iman dan tawakkal akan Allah jawab, bahkan dengan sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang kita bayangkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umm Salamah radhiyallahu 'anha pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' dan berdoa 'Allahumma ajurni fi musibati wa akhlif li khairan minha' (Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku dan gantikanlah untukku dengan yang lebih baik), kecuali Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik." (HR. Muslim)

Umm Salamah berkata dalam hatinya: "Siapa yang lebih baik dari Abu Salamah?" Namun ketika Abu Salamah benar-benar wafat, ia mengucapkan doa tersebut sebagaimana yang diajarkan Nabi ﷺ. Dan benar saja, Allah menggantinya dengan Rasulullah ﷺ — manusia terbaik yang pernah ada. Ini adalah bukti nyata bahwa ucapan baik di saat musibah membawa kebaikan yang tidak terduga.

Imam Muslim meriwayatkan kisah ini dalam Shahih-nya, dan Imam an-Nawawi menyebutkan dalam syarahnya bahwa kisah ini menunjukkan keutamaan Umm Salamah dan kebenaran janji Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Saat mengunjungi orang sakit: Ucapkanlah doa kebaikan, seperti "Syafakallah" (semoga Allah menyembuhkanmu), dan doa-doa yang diajarkan Nabi ﷺ. Hindari ucapan yang menakutkan atau membuat putus asa.
  2. Saat menghadapi orang yang meninggal: Ucapkanlah "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" dan doakan ampunan untuk mayit. Jangan mengucapkan keluhan atau kata-kata yang tidak bermanfaat.
  3. Doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "Allahummaghfir li wa lahu wa a'qibni minhu 'uqba hasanah" — Ya Allah, ampunilah aku dan dia, dan berikanlah aku pengganti yang lebih baik darinya.
  4. Yakinlah bahwa malaikat mengaminkan doa kita, sehingga doa di saat-saat tersebut sangat mustajab.
  5. Bersabarlah dan berhusnuzan kepada Allah — sebagaimana Umm Salamah, yang bersabar dan berdoa, lalu Allah menggantinya dengan yang lebih baik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?