Penjelasan Hadits Muslim No. 910 tentang Panggilan shalat berjamaah saat gerhana matahari

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ketika terjadi gerhana matahari pada zaman Nabi ﷺ, kaum Muslimin dipanggil dengan seruan "ash-shalatu jami'ah" (shalat berjamaah), lalu Nabi ﷺ shalat dua rakaat dengan dua kali ruku' dan dua kali sujud pada setiap rakaatnya. Shalat gerhana ini dikerjakan berjamaah, dan ruku' serta sujudnya sangat panjang, sebagaimana disebutkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan gerhana dan tanda kekuasaan Allah:

QS. Fushshilat [41]: 37

وَمِنْ آيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ ۚ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Terjemahan: "Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Kusuf (Gerhana), Bab Penyebutan Adzan untuk Shalat Gerhana 'Shalat Jama'ah', nomor 910. Perawi sahabat: Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma. Jalur periwayatan melalui Abu Salamah bin Abdurrahman, dari Yahya bin Abi Katsir, dan Abu Mu'awiyah (Syaiban An-Nahwi).

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya seruan "ash-shalatu jami'ah" untuk shalat gerhana, dan bahwa shalat gerhana dikerjakan secara berjamaah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa shalat gerhana memiliki keutamaan tersendiri dan disunnahkan berjamaah di masjid.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan hikmah gerhana sebagai peringatan dari Allah agar hamba kembali kepada-Nya.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Hadits ini menggambarkan peristiwa gerhana matahari yang terjadi pada masa Rasulullah ﷺ. Ketika itu, kaum Muslimin dipanggil dengan seruan "ash-shalatu jami'ah" — yang berarti "shalat berjamaah" — bukan adzan seperti shalat lima waktu, melainkan seruan khusus untuk mengumpulkan orang-orang agar shalat bersama.

Tata cara shalat gerhana menurut hadits ini:

Nabi ﷺ mengerjakan shalat dua rakaat. Pada setiap rakaat, beliau melakukan dua kali ruku' dan dua kali sujud. Ini adalah bentuk shalat gerhana yang paling utama, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Beliau menyebutkan bahwa shalat gerhana memiliki tata cara khusus yang berbeda dari shalat biasa, yaitu dengan dua ruku' dalam setiap rakaat.

Pemahaman ulama:

  • Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya shalat gerhana secara berjamaah, dan seruan "ash-shalatu jami'ah" adalah pengganti adzan dalam shalat gerhana. Beliau juga menyebutkan bahwa panjangnya ruku' dan sujud menunjukkan betapa pentingnya shalat ini sebagai bentuk taqarrub kepada Allah saat terjadi tanda kekuasaan-Nya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyatakan bahwa shalat gerhana disunnahkan dikerjakan di masjid secara berjamaah, dan jika tidak memungkinkan, boleh dikerjakan sendiri-sendiri. Beliau juga menegaskan bahwa tata cara dua ruku' dalam satu rakaat adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan hadits-hadits shahih.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa gerhana adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang mengingatkan hamba akan kebesaran-Nya. Ketika terjadi gerhana, disyariatkan untuk shalat, berdoa, berdzikir, dan bertaubat kepada Allah.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa gerhana matahari dan bulan adalah fenomena alam yang Allah jadikan sebagai peringatan bagi hamba-Nya. Beliau menekankan pentingnya kembali kepada Allah dengan shalat dan doa saat terjadi gerhana.

Perbedaan pendapat di kalangan ulama:

Para ulama dari daftar yang disebutkan sepakat bahwa shalat gerhana disyariatkan dan dikerjakan secara berjamaah. Namun, mereka berbeda pendapat dalam beberapa hal teknis, seperti jumlah ruku' dalam setiap rakaat. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana ditegaskan oleh Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar — adalah dua ruku' dalam setiap rakaat, berdasarkan hadits shahih ini dan hadits-hadits lainnya.

Hikmah shalat gerhana:

  1. Mengingatkan akan kekuasaan Allah — gerhana adalah tanda kekuasaan Allah yang menunjukkan bahwa alam ini tunduk kepada-Nya.
  2. Mengajak bertaubat — Nabi ﷺ menganjurkan umatnya untuk bertaubat, berdoa, dan berdzikir saat terjadi gerhana.
  3. Menghidupkan sunnah — shalat gerhana adalah sunnah yang ditekankan (sunnah muakkadah) dan sebaiknya dikerjakan secara berjamaah.
  4. Menumbuhkan rasa takut kepada Allah — sebagaimana disebutkan dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda bahwa gerhana terjadi sebagai peringatan dari Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada suatu hari di masa Rasulullah ﷺ, matahari mengalami gerhana. Orang-orang pun panik dan segera menuju masjid. Rasulullah ﷺ berdiri shalat bersama mereka dengan shalat yang sangat panjang. Beliau melakukan dua kali ruku' dalam satu rakaat, dan sujud yang sangat lama.

Aisyah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ — menyaksikan shalat tersebut dan berkata: "Tidak pernah aku melihat ruku' dan sujud yang lebih lama dari ini." Beliau melihat betapa khusyuknya Nabi ﷺ dalam shalat tersebut, seakan-akan beliau sedang bermunajat dengan penuh harap dan takut kepada Allah.

Setelah shalat, Nabi ﷺ berkhutbah di hadapan kaum Muslimin, mengingatkan mereka akan kekuasaan Allah dan mengajak mereka untuk bertaubat, berdoa, dan berdzikir. Beliau juga menjelaskan bahwa gerhana bukanlah tanda kematian atau kelahiran seseorang, melainkan tanda kekuasaan Allah yang mengingatkan hamba-Nya.

Hikmah dari kisah ini adalah bahwa ketika terjadi tanda-tanda kekuasaan Allah, kita hendaknya segera kembali kepada-Nya dengan shalat, doa, dan taubat, bukan sibuk dengan hal-hal yang tidak bermanfaat.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat gerhana disyariatkan dan sebaiknya dikerjakan secara berjamaah di masjid.
  2. Seruan "ash-shalatu jami'ah" digunakan sebagai panggilan untuk shalat gerhana, bukan adzan.
  3. Tata cara shalat gerhana adalah dua rakaat, dengan dua kali ruku' dan dua kali sujud pada setiap rakaat.
  4. Panjangkan ruku' dan sujud saat shalat gerhana, sebagaimana dicontohkan Nabi ﷺ.
  5. Perbanyak doa, dzikir, dan taubat saat terjadi gerhana, karena itu adalah tanda kekuasaan Allah.
  6. Jangan mengaitkan gerhana dengan kematian atau kelahiran seseorang, karena itu adalah keyakinan jahiliyah yang dilarang.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?