Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 90 tentang Dosa besar menyakiti orang tua dan balasannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita bahwa mencaci orang tua adalah dosa besar, dan salah satu bentuknya yang paling halus namun nyata adalah ketika seseorang mencaci orang tua orang lain, sehingga orang tua kita ikut dicaci sebagai balasannya. Ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ agar kita menjaga lisan dan tidak memicu pertikaian yang berujung pada penghinaan terhadap orang tua, baik orang tua sendiri maupun orang lain.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab Bayani al-Kaba'ir wa Akbaruha (Penjelasan Dosa-Dosa Besar dan Yang Terbesar), nomor 90, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ الْهَادِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ". قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَلْ يَشْتِمُ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: "نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ".

Terjemahan: Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Termasuk dosa besar adalah seseorang mencaci kedua orang tuanya." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang mencaci kedua orang tuanya?" Beliau menjawab: "Ya, dia mencaci ayah orang lain, maka orang itu pun membalas mencaci ayahnya. Dan dia mencaci ibu orang lain, maka orang itu pun membalas mencaci ibunya."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

(QS. Al-Isra' [17]: 23)

Terjemahan: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."

Ayat ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang tua dalam Islam. Bahkan mengucapkan "ah" saja (tanda bosan atau kesal) sudah dilarang, apalagi mencaci mereka.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah bahwa mencaci orang tua termasuk dosa besar, dan bentuknya bisa langsung maupun tidak langsung. Bentuk tidak langsungnya adalah ketika seseorang mencaci orang tua orang lain, sehingga orang lain tersebut membalas dengan mencaci orang tua si pencaci. Maka orang pertama tadi, meskipun tidak secara langsung mencaci orang tuanya sendiri, tetapi dialah penyebabnya. Karena itu, ia dianggap sebagai pencaci orang tuanya sendiri.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa dosa ini termasuk dosa besar karena dua alasan:

  1. Menghina orang tua adalah bentuk durhaka (uquq) yang sangat besar, bertentangan dengan perintah Allah untuk berbuat baik kepada keduanya.
  2. Memicu permusuhan dan pertikaian di antara manusia, yang dilarang dalam Islam.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa Islam sangat menjaga kehormatan orang tua. Bahkan sekadar menjadi penyebab orang tua kita dicaci oleh orang lain, itu sudah dihitung sebagai dosa besar. Ini menunjukkan bahwa kita harus sangat berhati-hati dalam bertutur kata, karena lisan yang tidak terjaga bisa menjerumuskan kita ke dalam dosa besar tanpa kita sadari.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua dalam Al-Qur'an selalu digandengkan dengan perintah tauhid. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah ibadah yang sangat agung, dan durhaka kepada mereka adalah dosa yang sangat besar.

Para ulama juga menegaskan bahwa larangan ini mencakup semua bentuk celaan, hinaan, atau perkataan buruk kepada orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung. Bahkan jika seseorang mencaci orang tua orang lain, lalu orang itu membalas mencaci orang tua si pencaci, maka si pencaci pertama ikut menanggung dosa karena telah menjadi pemicu.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang seorang sahabat yang sangat berbakti kepada ibunya. Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhu (perawi hadits ini) suatu hari kedatangan seorang pemuda yang bertanya tentang berbakti kepada orang tua. Abdullah bin Amr berkata kepadanya, "Demi Allah, aku tidak akan menambahimu kecuali satu hal: bahwa berbakti kepada orang tua adalah sebaik-baik amal setelah shalat." Kemudian ia menasihati pemuda itu untuk selalu menjaga kehormatan orang tuanya, karena kehormatan mereka adalah bagian dari kehormatan dirinya.

Kisah lain yang masyhur adalah tentang Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah, seorang ulama tabi'in yang sangat terkenal dengan kelembutan hatinya. Beliau pernah berkata, "Berbakti kepada orang tua adalah kunci untuk membuka pintu-pintu kebaikan di dunia dan akhirat." Beliau juga sering mengingatkan bahwa durhaka kepada orang tua adalah salah satu penyebab sempitnya rezeki dan sulitnya urusan, sebagaimana berbakti kepada mereka adalah sebab luasnya rezeki dan mudahnya urusan.

Hikmah dari kisah-kisah ini: Menjaga lisan dan kehormatan orang tua adalah bagian dari keimanan. Seseorang yang menjaga lisan dan kehormatan orang tuanya akan mendapatkan keberkahan dalam hidupnya, sementara yang meremehkannya akan menuai akibat buruk di dunia maupun akhirat.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan kita dari mencaci, menghina, atau merendahkan orang tua, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  2. Jangan pernah mencaci orang tua orang lain, karena itu bisa menjadi sebab orang tua kita ikut dicaci sebagai balasannya.
  3. Hindari pertikaian dan permusuhan yang bisa memicu saling menghina, terutama yang melibatkan orang tua.
  4. Perbanyak doa dan kebaikan untuk orang tua, karena berbakti kepada mereka adalah amal yang paling dicintai Allah setelah shalat.
  5. Jika kita pernah menjadi penyebab orang tua kita dicaci, segeralah bertaubat, meminta maaf, dan memperbaiki diri.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.