Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang membaca surat Qaf (surat ke-50) ketika berkhutbah di hari Jumat. Ini adalah salah satu contoh bahwa khutbah Jumat tidak harus panjang dan berat, tetapi bisa diselingi dengan bacaan Al-Qur'an yang mudah dihafal dan dipahami jamaah. Hadits ini juga mengisyaratkan kedekatan fisik dan sosial antara Nabi ﷺ dengan para sahabatnya, sampai-sampai tetangga beliau bisa mendengar langsung bacaan beliau dari mimbar.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Jumu'ah, Bab "Takhfif ash-Shalat wa al-Khutbah" (Bab Ringannya Shalat dan Khutbah), nomor 873. Teks hadits yang Anda cantumkan adalah riwayat dari Umm Hisyam binti Haritsah bin an-Nu'man radhiyallahu 'anha.
Tidak ada ayat Al-Qur'an khusus yang menjadi dalil langsung dalam hadits ini, tetapi surat Qaf sendiri adalah surat yang dibaca Nabi ﷺ. Namun, ada prinsip umum dalam Al-Qur'an tentang kemudahan dan tidak memberatkan, sebagaimana firman Allah:
QS. Al-Baqarah [2]: 286
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
Juga firman Allah tentang tujuan syariat yang mudah:
QS. Al-Hajj [22]: 78
وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ
"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan."
Adapun hadits ini, para ulama menjelaskan bahwa membaca surat dalam khutbah adalah boleh dan pernah dilakukan Nabi ﷺ. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa di antara sunnah khutbah adalah membaca ayat Al-Qur'an, dan Nabi ﷺ terkadang membaca surat Qaf secara penuh atau sebagiannya.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa faedah dari hadits ini:
Pertama: Disunnahkannya membaca Al-Qur'an dalam khutbah.
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim mengatakan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya khatib membaca ayat Al-Qur'an di dalam khutbahnya. Bahkan ini termasuk sunnah, karena Nabi ﷺ melakukannya. Membaca surat Qaf di khutbah Jumat bukanlah kewajiban, tetapi merupakan contoh bahwa khutbah bisa diselingi dengan tilawah agar jamaah mendengar Kalamullah.
Kedua: Khutbah yang ringkas dan tidak memberatkan.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menyebutkan bahwa para ulama salaf menganjurkan khutbah yang tidak terlalu panjang. Beliau menukil perkataan sebagian ulama bahwa khutbah yang baik adalah yang ringkas namun padat makna. Membaca surat Qaf yang panjangnya sekitar 45 ayat ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak memperpanjang khutbah sampai membuat jamaah bosan.
Ketiga: Kedekatan Nabi ﷺ dengan tetangganya.
Umm Hisyam radhiyallahu 'anha berkata, "Oven kami dan oven Rasulullah ﷺ adalah satu." Ini menunjukkan bahwa beliau adalah tetangga dekat Nabi ﷺ. Para ulama menggunakan ini sebagai dalil tentang keutamaan bertetangga dengan orang shalih dan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adab al-Mufrad bahwa Nabi ﷺ bersabda:
> "Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku mengira tetangga akan mewarisi." (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dan Muslim)
Keempat: Perhatian sahabat terhadap hafalan Al-Qur'an.
Umm Hisyam berkata, "Aku tidak menghafal surat Qaf kecuali dari mulut Rasulullah ﷺ yang membacanya setiap Jumat." Ini menunjukkan semangat para sahabat dalam menghafal Al-Qur'an, bahkan dari mendengar khutbah. Ini juga menjadi dalil bahwa mendengarkan khutbah dengan seksama bisa menjadi sarana menghafal Al-Qur'an.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh al-Mumti' menjelaskan bahwa khatib hendaknya memilih bacaan atau materi khutbah yang mudah dipahami jamaah, tidak terlalu panjang, dan mengandung nasihat yang menyentuh hati. Membaca surat Qaf yang berisi peringatan tentang hari kebangkitan dan kisah umat-umat terdahulu adalah pilihan yang tepat karena mengandung pelajaran besar.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Umm Hisyam binti Haritsah bin an-Nu'man radhiyallahu 'anha adalah seorang sahabat wanita yang tinggal berdekatan dengan masjid Nabawi. Beliau bercerita bahwa rumahnya sangat dekat dengan rumah Nabi ﷺ, bahkan dapur dan oven mereka digunakan bersama-sama. Karena kedekatan inilah, beliau bisa mendengar langsung suara Nabi ﷺ ketika berkhutbah dari mimbar.
Setiap hari Jumat, beliau mendengar Nabi ﷺ membaca surat Qaf. Karena seringnya mendengar, surat itu melekat kuat di hafalannya, sampai-sampai beliau berkata, "Aku tidak menghafal Qaf kecuali dari mulut Rasulullah ﷺ." Ini menunjukkan bahwa mendengar dengan penuh perhatian adalah cara menghafal yang efektif. Para ulama menyebutkan bahwa Umm Hisyam termasuk wanita yang banyak meriwayatkan hadits dan dikenal keutamaannya.
Hikmah dari kisah ini: Kita bisa memanfaatkan momen khutbah Jumat untuk mengambil manfaat, baik dengan mendengarkan nasihat, maupun dengan memperhatikan ayat-ayat yang dibaca khatib. Jangan sia-siakan waktu khutbah dengan berbicara atau bermain ponsel, karena khutbah adalah momen berharga untuk menyerap ilmu.
Kesimpulan Praktis
- Khatib disunnahkan membaca ayat Al-Qur'an dalam khutbahnya, dan boleh membaca surat secara penuh seperti yang dilakukan Nabi ﷺ dengan surat Qaf.
- Khutbah Jumat hendaknya tidak terlalu panjang sehingga memberatkan jamaah, tetapi cukup ringkas dan padat.
- Jamaah hendaknya mendengarkan khutbah dengan seksama, karena bisa menjadi sarana menghafal Al-Qur'an dan mengambil pelajaran.
- Kita dianjurkan menjaga hubungan baik dengan tetangga, sebagaimana Nabi ﷺ hidup berdampingan dengan para sahabatnya.
- Bagi yang ingin menghafal Al-Qur'an, salah satu caranya adalah dengan sering mendengar bacaan yang benar dari para qari' atau khatib yang baik.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.