Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 87 tentang Dosa besar terbesar: syirik, durhaka orang tua, saksi palsu

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan tegas dalam menjelaskan sebesar-besar dosa (akbarul kaba'ir). Rasulullah ﷺ menyebutkan tiga perkara yang termasuk dosa paling besar: syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, dan perkataan/saksi palsu. Beratnya masalah ini terlihat dari cara Nabi ﷺ mengulang-ulanginya hingga para sahabat berharap beliau diam karena khawatir akan terjadi sesuatu pada beliau.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' [17]: 23)

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab Bayani Kaba'ir wa Akbaruha, no. 87, dari sahabat Abu Bakrah Nufai' bin Al-Harits radhiyallahu 'anhu.

Imam Al-Bukhari juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih-nya, Kitab Asy-Syahadat, Bab Ma Qila fi Syahadati az-Zur, no. 2654.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keharaman syirik, durhaka kepada orang tua, dan persaksian palsu, serta bahwa ketiganya termasuk dosa-dosa besar yang paling besar.
  • Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menegaskan bahwa syirik adalah dosa terbesar, kemudian durhaka kepada orang tua, kemudian dusta dan saksi palsu.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Makna "Akbarul Kaba'ir" (Dosa Paling Besar)

Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "akbarul kaba'ir" adalah dosa-dosa yang paling besar di antara dosa-dosa besar. Beliau menegaskan bahwa syirik adalah dosa yang paling besar secara mutlak, karena ia menodai tauhid yang merupakan hak Allah yang paling agung.

2. Urutan Dosa Besar dalam Hadits

  • Syirik kepada Allah: Ini adalah dosa yang paling besar. Allah ﷻ berfirman: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya." (QS. An-Nisa' [4]: 48). Syirik adalah menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah, seperti ibadah, doa, dan ketundukan mutlak.
  • Durhaka kepada kedua orang tua: Setelah syirik, dosa terbesar adalah durhaka kepada kedua orang tua. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah selalu menggandengkan perintah berbuat baik kepada orang tua dengan perintah tauhid, karena kedudukan orang tua sangat agung dalam Islam.
  • Saksi palsu atau ucapan palsu: Rasulullah ﷺ menyebutkan ini dengan redaksi ragu ("atau") karena beliau menyebutkan dua hal yang saling berkaitan. Saksi palsu adalah memberikan kesaksian yang tidak benar di hadapan hakim, sedangkan ucapan palsu (qauluz zur) mencakup segala bentuk kebohongan dan perkataan dusta. Ibnu Hajar Al-Asqalani menjelaskan bahwa saksi palsu termasuk dosa besar karena ia dapat menzalimi orang lain, menghilangkan hak, dan merusak keadilan.

3. Sikap Rasulullah ﷺ yang Serius

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ awalnya bersandar, kemudian duduk dan terus mengulang-ulang perkataan tersebut hingga para sahabat berharap beliau diam. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan bahwa ini menunjukkan betapa besar dan seriusnya masalah ini. Para sahabat khawatir jika Rasulullah ﷺ terus mengulanginya, beliau akan kelelahan atau terjadi sesuatu, karena mereka sangat mencintai beliau.

4. Hikmah Pengulangan

Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa pengulangan ini bertujuan untuk menekankan dan memperingatkan umat agar menjauhi dosa-dosa tersebut. Ini adalah metode pengajaran yang efektif, karena pengulangan dengan penekanan akan lebih membekas di hati pendengar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang masuk Islam pada masa penaklukan Tha'if. Beliau meriwayatkan hadits ini dengan penuh kesungguhan, dan para ulama menyebutkan bahwa hadits ini termasuk hadits yang sangat diperhatikan oleh beliau karena mengandung peringatan yang sangat keras.

Ada kisah lain yang berkaitan dengan durhaka kepada orang tua. Diriwayatkan bahwa Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah berkata: "Durhaka kepada kedua orang tua adalah dosa yang balasannya disegerakan di dunia sebelum di akhirat." Beliau juga berkata: "Barangsiapa yang ingin Allah mudahkan sakaratul mautnya, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya."

Kisah ini menunjukkan bahwa para salaf sangat memperhatikan masalah berbakti kepada orang tua dan sangat takut terhadap dosa durhaka kepada mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Jauhi syirik dalam segala bentuknya — murnikan tauhid dan ibadah hanya kepada Allah ﷻ.
  2. Berbaktilah kepada kedua orang tua — selama tidak bertentangan dengan syariat, taatilah mereka, jaga perasaan mereka, dan doakan mereka.
  3. Jauhi dusta dan saksi palsu — jangan pernah memberikan kesaksian yang tidak benar, karena ini dapat merusak keadilan dan menzalimi orang lain.
  4. Ambil pelajaran dari kesungguhan Nabi ﷺ — ketika beliau menekankan suatu perkara, maka perkara tersebut sangat penting dan harus diperhatikan dengan serius.
  5. Perbanyak istighfar — karena kita tidak pernah luput dari dosa, dan memohon ampunan kepada Allah adalah jalan keselamatan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.