Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 84 tentang Amal terbaik adalah iman dan jihad di jalan Allah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah jawaban Nabi ﷺ ketika ditanya tentang amal yang paling utama. Jawaban beliau berjenjang: pertama, iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya; kemudian memerdekakan budak yang paling berharga; lalu membantu orang yang bekerja atau membuatkan sesuatu untuk orang yang tidak terampil; dan yang terakhir, jika tidak mampu melakukan semua itu, maka menahan diri dari menyakiti orang lain. Ini adalah pelajaran indah bahwa amal utama itu bertingkat-tingkat sesuai kemampuan, dan yang terpenting adalah iman sebagai akar segala amal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dari Shahih Muslim no. 84):

حَدَّثَنِي أَبُو الرَّبِيعِ الزَّهْرَانِيُّ، حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ، ح وَحَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ هِشَامٍ، - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي مُرَاوِحٍ اللَّيْثِيِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ " الإِيمَانُ بِاللَّهِ وَالْجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ " . قَالَ قُلْتُ أَىُّ الرِّقَابِ أَفْضَلُ قَالَ " أَنْفَسُهَا عِنْدَ أَهْلِهَا وَأَكْثَرُهَا ثَمَنًا " . قَالَ قُلْتُ فَإِنْ لَمْ أَفْعَلْ قَالَ " تُعِينُ صَانِعًا أَوْ تَصْنَعُ لأَخْرَقَ " . قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ ضَعُفْتُ عَنْ بَعْضِ الْعَمَلِ قَالَ " تَكُفُّ شَرَّكَ عَنِ النَّاسِ فَإِنَّهَا صَدَقَةٌ مِنْكَ عَلَى نَفْسِكَ " .

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Al-Baqarah [2]: 177

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ

"Bukanlah kebajikan itu hanya menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi; dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang miskin, orang yang dalam perjalanan, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya..."

Kaitan dengan Ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan iman sebagai amal yang paling utama, dan bahwa jihad serta amal-amal lainnya berada di bawahnya. Beliau juga menjelaskan makna "أَنْفَسُهَا" (yang paling berharga) dan "الأَخْرَق" (orang yang tidak terampil) berdasarkan pemahaman para ulama.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu, salah seorang sahabat yang terkenal dengan kejujuran dan kezuhudannya. Beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal yang paling utama, dan Nabi ﷺ memberikan jawaban yang berjenjang:

1. Iman kepada Allah dan Jihad di Jalan-Nya

Nabi ﷺ menjawab bahwa amal yang paling utama adalah iman kepada Allah dan jihad di jalan-Nya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa iman disebut sebagai amal karena iman itu sendiri adalah amal hati yang paling agung. Ini menunjukkan bahwa keyakinan yang benar dalam hati adalah fondasi dari segala amal. Tanpa iman, amal lain tidak akan diterima. Adapun jihad disebutkan bersama iman karena jihad adalah puncak pengorbanan fisik dan harta dalam membela agama Allah.

2. Memerdekakan Budak yang Paling Berharga

Ketika Abu Dzar bertanya tentang budak yang paling baik untuk dimerdekakan, Nabi ﷺ menjawab: "Yang paling berharga bagi pemiliknya dan yang paling mahal harganya." Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan mengorbankan harta yang paling dicintai. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pahala. Ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Ali 'Imran [3]: 92:

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai."

3. Membantu Pengrajin atau Membuatkan Sesuatu untuk Orang yang Tidak Terampil

Ketika Abu Dzar berkata, "Jika aku tidak mampu melakukannya?" Nabi ﷺ menjawab: "Bantulah seorang pengrajin (dengan tenaga atau pikiranmu) atau buatkanlah sesuatu untuk orang yang tidak terampil (الأَخْرَق)." Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "الأَخْرَق" adalah orang yang tidak pandai bekerja. Ini menunjukkan bahwa membantu orang lain dalam pekerjaan mereka, baik dengan tenaga maupun keahlian, adalah amal yang sangat mulia. Ini juga mengajarkan bahwa sedekah tidak selalu dengan harta, tetapi bisa dengan tenaga dan keahlian.

4. Menahan Diri dari Menyakiti Orang Lain

Akhirnya, ketika Abu Dzar berkata bahwa ia tidak mampu melakukan sebagian amal tersebut, Nabi ﷺ bersabda: "Jauhkanlah keburukanmu dari manusia, karena itu adalah sedekah darimu untuk dirimu sendiri." Ini adalah jawaban yang sangat dalam. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa menahan diri dari menyakiti orang lain adalah sedekah untuk diri sendiri karena dengan itu seseorang selamat dari dosa dan mendapatkan pahala. Ini juga menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan keselamatan orang lain dari gangguan kita.

Pelajaran dari Para Ulama:

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan tingkatan amal yang paling utama. Beliau menekankan bahwa iman adalah akar dari segalanya, dan amal-amal lain adalah cabang yang tumbuh darinya. Semakin kuat iman, semakin baik amal yang lahir darinya.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarahnya atas hadits-hadits pilihan menjelaskan bahwa jawaban Nabi ﷺ yang berjenjang ini adalah bentuk pengajaran yang bijaksana. Beliau tidak langsung memberikan satu jawaban, tetapi memberikan beberapa pilihan sesuai dengan kemampuan orang yang bertanya. Ini menunjukkan bahwa syariat Islam memperhatikan kondisi setiap individu.

Story Telling

Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang terkenal dengan kejujurannya. Sebelum masuk Islam, beliau adalah seorang yang berani dan tidak takut pada siapa pun. Ketika mendengar tentang datangnya seorang nabi di Makkah, beliau langsung pergi mencarinya. Beliau masuk Islam dan menjadi salah satu sahabat yang paling zuhud.

Suatu hari, beliau bertanya kepada Nabi ﷺ tentang amal yang paling utama. Nabi ﷺ menjawab dengan jawaban yang berjenjang, dan Abu Dzar menerima dengan penuh semangat. Namun, ketika Nabi ﷺ menyebutkan amal-amal yang membutuhkan harta dan kemampuan fisik, Abu Dzar berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak mampu melakukan semua itu." Maka Nabi ﷺ memberikan jawaban yang sangat menghibur: "Cukup tahanlah keburukanmu dari manusia, itu sudah menjadi sedekah bagimu."

Dari kisah ini, kita belajar bahwa Allah tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuannya. Setiap orang memiliki amal yang bisa dilakukan sesuai dengan kondisinya. Yang penting adalah niat yang ikhlas dan usaha yang maksimal.

Kesimpulan Praktis

  1. Iman adalah fondasi segalanya — Perkuat iman kepada Allah dengan mempelajari ilmu yang benar, karena iman adalah amal yang paling utama.
  2. Bersedekahlah dengan yang paling berharga — Jika mampu, berkorbanlah dengan harta yang paling kita cintai, karena itu lebih besar pahalanya.
  3. Bantulah orang lain dengan tenaga dan keahlian — Jika tidak punya harta, bantulah orang lain dengan tenaga atau keahlian kita.
  4. Jangan menyakiti orang lain — Jika tidak mampu melakukan amal-amal besar, minimal jangan menyakiti orang lain. Itu sudah menjadi sedekah bagi diri kita.
  5. Amal itu bertingkat-tingkat — Jangan merasa rendah diri jika tidak mampu melakukan amal besar. Lakukan yang terbaik sesuai kemampuan, dan Allah Maha Mengetahui niat kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.