Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membaca firman Allah "فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ" dengan huruf dal (د) yang ditasydid, bukan dengan huruf dzal (ذ). Ini adalah salah satu contoh bahwa bacaan Al-Qur'an yang diajarkan Nabi ﷺ kepada para sahabat adalah dengan huruf dal yang bertasydid, yang maknanya adalah orang yang mengambil pelajaran dan nasihat. Hadits ini menunjukkan betapa telitinya para sahabat dalam menjaga setiap huruf Al-Qur'an sebagaimana diajarkan Rasulullah ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang terkait:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Al-Qamar [54]: 15:
وَلَقَدْ تَرَكْنَاهُ آيَةً فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ
"Dan sungguh, telah Kami tinggalkan (kapal itu) sebagai pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?"
Hadits terkait:
Hadits yang Anda sebutkan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qasharnya, Bab "Apa yang Berkaitan dengan Bacaan", no. 823. Perawinya adalah Abu Ishaq (Amr bin Abdullah as-Sabi'i) yang melihat langsung seorang laki-laki bertanya kepada Aswad bin Yazid.
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa bacaan yang benar adalah dengan huruf dal (مُدَّكِرٍ), bukan dengan dzal (مُذَّكِرٍ). Beliau menukil bahwa inilah bacaan yang masyhur dan disepakati oleh para qurra' (ahli qira'at).
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan pelajaran penting tentang ketelitian para sahabat dalam menjaga bacaan Al-Qur'an. Mari kita pahami beberapa poin:
1. Konteks Pertanyaan
Dalam hadits ini, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Aswad bin Yazid—seorang tabi'in yang mengajarkan Al-Qur'an di masjid—tentang cara membaca ayat "فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ". Apakah huruf tengahnya dibaca dal (د) atau dzal (ذ)?
Aswad bin Yazid menjawab dengan tegas: "Bahkan dengan dal." Beliau kemudian bersaksi bahwa ia mendengar langsung dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ membaca "مُدَّكِرٍ" dengan huruf dal.
2. Makna Perbedaan Huruf
Perbedaan ini penting karena mempengaruhi makna:
- Jika dibaca مُدَّكِرٍ (dengan dal), maka asalnya adalah مُذْتَكِرٌ (mudztakir) yang berarti orang yang mengambil pelajaran. Huruf ta (ت) diidghamkan ke dalam dal (د) sehingga menjadi muddakir.
- Jika dibaca مُذَّكِرٍ (dengan dzal), maka asalnya adalah مُتَذَكِّرٌ (mutadzakkir) yang juga berarti orang yang mengingat atau mengambil pelajaran.
Kedua bacaan ini sebenarnya memiliki akar makna yang dekat, namun yang diajarkan Nabi ﷺ dan disepakati para ulama qira'at adalah dengan huruf dal yang bertasydid.
3. Penjelasan Ulama
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata "مُدَّكِرٍ" berasal dari kata ad-dzikr (peringatan/pelajaran), dan maknanya adalah "adakah orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat dari peristiwa-peristiwa yang Allah ceritakan?"
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah seruan kepada seluruh umat manusia agar mengambil pelajaran dari kisah kaum-kaum terdahulu yang dibinasakan karena kedurhakaan mereka. Kata "مُدَّكِرٍ" menunjukkan orang yang mau merenung, mengingat, dan mengambil ibrah dari setiap peristiwa.
4. Hikmah Ketelitian Sahabat
Yang menarik dari hadits ini adalah bagaimana seorang tabi'in (Aswad bin Yazid) yang mengajar Al-Qur'an di masjid ditanya oleh seseorang, dan beliau menjawab dengan sangat teliti berdasarkan apa yang ia dengar dari sahabat Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa ilmu Al-Qur'an itu harus diambil dengan sanad yang bersambung hingga kepada Rasulullah ﷺ.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam kitab-kitabnya sering menekankan pentingnya sanad dalam mengambil ilmu, terutama ilmu Al-Qur'an. Para ulama salaf sangat menjaga ketelitian huruf demi huruf karena Al-Qur'an adalah Kalamullah yang harus dijaga keasliannya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling teliti dalam bacaan Al-Qur'an. Beliau pernah berkata: "Sungguh aku telah mengambil (mempelajari) dari mulut Rasulullah ﷺ tujuh puluh surat, dan tidak ada seorang pun yang lebih mengetahui Kitabullah daripada aku."
Karena ketelitian inilah, para sahabat dan tabi'in sangat berhati-hati dalam membaca Al-Qur'an. Mereka tidak mau salah satu huruf saja berubah, karena mereka paham bahwa Al-Qur'an adalah wahyu yang dijaga Allah ﷻ. Perhatian mereka terhadap detail bacaan ini adalah wujud kecintaan mereka kepada Kalamullah.
Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Masruq berkata: "Mereka (para sahabat) sangat teliti dalam bacaan Al-Qur'an, hingga mereka mengajarkan huruf demi huruf sebagaimana mereka mengajarkan anak-anak mereka menulis."
Kesimpulan Praktis
- Menjaga ketelitian bacaan Al-Qur'an adalah bagian dari adab terhadap Kalamullah. Kita harus berusaha membaca dengan tajwid dan makhraj yang benar.
- Belajar Al-Qur'an dari guru yang bersanad adalah cara yang ditempuh para sahabat dan tabi'in. Kita tidak boleh membaca Al-Qur'an dengan asal-asalan tanpa bimbingan.
- Ayat "فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ" mengajak kita untuk senantiasa mengambil pelajaran dari Al-Qur'an dan peristiwa-peristiwa yang Allah ceritakan di dalamnya.
- Keteladanan para ulama dalam menjaga huruf-huruf Al-Qur'an hendaknya memotivasi kita untuk lebih serius mempelajari dan mengamalkan Al-Qur'an.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.