Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan besar Al-Qur'an: Allah ﷻ mengangkat derajat seseorang di dunia dan akhirat karena Al-Qur'an, dan bisa juga merendahkan seseorang yang tidak mengamalkannya. Hadits ini juga mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah bukanlah keturunan atau status sosial, melainkan ilmu dan amalnya terhadap Kitabullah. Bahkan seorang budak yang dibebaskan bisa diangkat menjadi pemimpin karena keahliannya dalam Al-Qur'an dan ilmu faraidh (warisan).
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Keutamaan Orang yang Berdiri dengan Al-Qur'an dan Mengajarkannya, nomor 817. Teks haditsnya sebagaimana yang telah disebutkan di atas.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman:
وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ
"Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (namamu)." (QS. Al-Insyirah [94]: 4)
Ayat ini meskipun secara khusus berbicara tentang Nabi ﷺ, namun menunjukkan prinsip bahwa Allah ﷻ mengangkat derajat orang-orang yang dekat dengan-Nya.
Juga firman Allah ﷻ:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat." (QS. Al-Mujadilah [58]: 11)
Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menghafal Al-Qur'an dan mempelajarinya. Beliau berkata: "Dalam hadits ini terdapat keutamaan yang agung bagi para qari' (pembaca Al-Qur'an) dan para ulama yang mengamalkan ilmunya."
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa makna "Allah mengangkat dengan kitab ini suatu kaum" adalah meninggikan kedudukan mereka di dunia dengan ilmu dan amal, serta di akhirat dengan derajat yang tinggi di surga. Adapun "merendahkan yang lain" adalah mereka yang membaca Al-Qur'an namun tidak mengamalkannya, atau mereka yang berpaling darinya.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
Pertama: Kisah di Balik Hadits
Nafi' bin Abdul Harits adalah gubernur Mekkah yang diangkat oleh Umar bin Khaththab. Ketika Umar bertemu dengannya di Usfan (suatu tempat antara Mekkah dan Madinah), beliau bertanya: "Siapa yang engkau angkat sebagai penggantimu untuk mengurus penduduk lembah (Mekkah)?"
Nafi' menjawab: "Ibnu Abza." Umar bertanya lagi: "Siapa Ibnu Abza?" Nafi' menjawab: "Dia adalah salah seorang budak yang telah dimerdekakan." Umar merasa heran: "Engkau mengangkat seorang budak yang dimerdekakan untuk memimpin mereka?"
Nafi' menjawab dengan alasan yang sangat indah: "Sesungguhnya dia adalah seorang qari' (ahli baca) Kitabullah dan dia alim tentang ilmu faraidh (warisan)."
Maka Umar pun tersenyum dan berkata: "Sesungguhnya Nabi kalian ﷺ telah bersabda: 'Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab ini suatu kaum dan merendahkan dengan kitab ini kaum yang lain.'"
Kedua: Makna Hadits
Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya Al-Fawa'id menjelaskan bahwa Al-Qur'an itu ibarat rahmat dan obat. Ia bisa menjadi kebaikan bagi yang menyambutnya dengan iman dan amal, namun bisa menjadi petaka bagi yang berpaling darinya. Beliau berkata: "Al-Qur'an adalah syifa' (penyembuh) bagi orang-orang beriman, tetapi tidak menambah bagi orang-orang zalim melainkan kerugian."
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa Allah ﷻ mengangkat derajat orang-orang yang berpegang dengan Al-Qur'an, baik di dunia dengan kemuliaan dan kehormatan, maupun di akhirat dengan kedudukan yang tinggi. Sebaliknya, orang yang meninggalkan Al-Qur'an atau tidak mengamalkannya akan direndahkan derajatnya.
Ketiga: Pelajaran Tentang Kepemimpinan
Hadits ini menunjukkan bahwa standar kepemimpinan dalam Islam adalah ilmu dan ketakwaan, bukan keturunan atau status sosial. Umar bin Khaththab yang dikenal sangat tegas dalam masalah kepemimpinan, justru menerima dan bahkan membenarkan pengangkatan seorang budak yang dimerdekakan sebagai pemimpin, karena ilmunya terhadap Al-Qur'an dan faraidh.
Imam Ibnul Qayyim dalam I'lamul Muwaqqi'in menyebutkan bahwa Umar bin Khaththab adalah orang yang sangat memperhatikan kualitas pemimpin, dan beliau tidak pernah ragu mengangkat orang yang memiliki ilmu agama meskipun dari kalangan budak.
Keempat: Keutamaan Menghafal dan Mengajarkan Al-Qur'an
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam bab keutamaan orang yang membaca Al-Qur'an dan mengajarkannya. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang keutamaan menghafal Al-Qur'an dan mengajarkannya kepada orang lain.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Salim maula Abi Hudzaifah adalah seorang budak yang dimerdekakan, namun beliau menjadi imam bagi kaum Muhajirin di Masjid Quba' karena keahliannya dalam Al-Qur'an. Di antara yang bermakmum di belakangnya adalah Umar bin Khaththab, Abu Hudzaifah, dan para sahabat senior lainnya.
Ketika perang Yamamah terjadi, Salim ikut berperang. Sebelum gugur, beliau berkata kepada pasukan Muslimin: "Apa yang kalian lakukan dengan mushaf ini?" Mereka menjawab: "Kami akan menjaganya." Maka Salim berkata: "Kalau begitu, aku akan berperang sampai aku gugur." Dan benar, beliau gugur sebagai syuhada' dalam keadaan memegang Al-Qur'an.
Kisah ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ mengangkat derajat Salim karena Al-Qur'an, dari seorang budak menjadi imam dan pemimpin bagi orang-orang yang lebih mulia nasabnya darinya. Ini adalah bukti nyata dari sabda Nabi ﷺ dalam hadits di atas.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguhlah mempelajari Al-Qur'an, baik membaca, menghafal, memahami, maupun mengamalkannya. Karena Allah ﷻ mengangkat derajat orang-orang yang dekat dengan Al-Qur'an.
- Jadikan ilmu sebagai standar kemuliaan, bukan keturunan, harta, atau jabatan. Dalam Islam, orang yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.
- Jangan meremehkan orang lain karena status sosialnya. Bisa jadi orang yang kita anggap rendah justru mulia di sisi Allah karena ilmunya.
- Jika memiliki kemampuan, ajarkan Al-Qur'an kepada orang lain. Karena Nabi ﷺ bersabda: "Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)
- Berhati-hatilah agar Al-Qur'an tidak menjadi hujjah yang memberatkan kita di akhirat. Karena Al-Qur'an bisa menjadi saksi yang membela atau justru menuntut kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.