Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 801 tentang Keutamaan membaca Al-Qur'an dan larangan mendustakannya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan betapa besarnya perhatian para sahabat terhadap Al-Qur'an, baik dari segi lafaz, makna, maupun cara membacanya. Hadits ini juga mengajarkan kita untuk membela kebenaran Al-Qur'an dari segala bentuk pendustaan, serta menegakkan hukum Allah dengan tegas, sebagaimana yang dilakukan oleh sahabat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu terhadap orang yang mengingkari bacaannya namun ternyata meminum khamr.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Keutamaan Mendengarkan Al-Qur'an, nomor 801. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya secara ringkas (nomor 7542) dari jalur yang sama.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya." (QS. Al-Hijr [15]: 9)

Ayat ini menunjukkan jaminan Allah untuk menjaga Al-Qur'an dari segala bentuk perubahan, pengurangan, atau penambahan. Para sahabat adalah generasi pertama yang menjadi saksi dan penjaga kemurnian Al-Qur'an ini.

Kaitan dengan ulama:

Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menghukum orang yang meminum khamr berdasarkan ijtihad, dan bahwa para sahabat menegakkan hukuman had (hukuman yang ditetapkan syariat) dengan penuh semangat membela kebenaran.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Keutamaan Membaca dan Mendengarkan Al-Qur'an

Imam an-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an di hadapan orang lain dan mendengarkannya. Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu membacakan Surah Yusuf kepada sekelompok orang di Hims, dan beliau tidak keberatan karena itu adalah bentuk dakwah dan mengajarkan Al-Qur'an.

2. Sikap Tegas Terhadap Pendustaan Al-Qur'an

Ketika ada seseorang yang berkata, "Demi Allah, ini bukan cara diturunkan," Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu langsung membantahnya dengan tegas. Beliau bersumpah bahwa beliau telah membacanya langsung di hadapan Rasulullah ﷺ dan beliau memujinya dengan mengatakan "أَحْسَنْتَ" (engkau telah membacanya dengan baik).

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa sikap Abdullah bin Mas'ud ini menunjukkan bahwa seorang muslim wajib membela Al-Qur'an dari segala bentuk pengingkaran, karena Al-Qur'an adalah wahyu Allah yang terjaga kemurniannya.

3. Hukuman Bagi Peminum Khamr

Yang menarik dalam hadits ini, ketika Abdullah bin Mas'ud mencium bau khamr dari orang tersebut, beliau langsung menegurnya dan menjatuhkan hukuman had (hukuman dera). Ini menunjukkan bahwa orang yang mengingkari Al-Qur'an dan meminum khamr adalah dua kesalahan besar yang harus ditindak.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan bahwa hukuman bagi peminum khamr pada masa Nabi ﷺ adalah dera, dan para sahabat melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Abdullah bin Mas'ud menjatuhkan hukuman ini berdasarkan otoritasnya sebagai gubernur Kufah saat itu.

4. Adab Membaca Al-Qur'an

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dalam Shahih-nya untuk menunjukkan bahwa membaca Al-Qur'an dengan bacaan yang benar dan sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah perkara yang sangat penting. Abdullah bin Mas'ud adalah salah satu sahabat yang paling bagus bacaannya, dan Rasulullah ﷺ sendiri pernah meminta beliau untuk membacakan Al-Qur'an di hadapan beliau.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang menunjukkan kecintaannya pada Al-Qur'an. Suatu hari, Rasulullah ﷺ berkata kepadanya:

"Bacakanlah Al-Qur'an kepadaku."

Abdullah bin Mas'ud berkata, "Wahai Rasulullah, apakah aku akan membacakan Al-Qur'an kepadamu, sedangkan Al-Qur'an itu diturunkan kepadamu?"

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya aku senang mendengarnya dari orang lain."

Maka Abdullah bin Mas'ud membacakan Surah An-Nisa' hingga sampai pada ayat:

فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِن كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا

"Maka bagaimanakah (halnya) jika Kami mendatangkan seorang saksi dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu?" (QS. An-Nisa' [4]: 41)

Ketika sampai pada ayat ini, Rasulullah ﷺ bersabda, "Cukup." Abdullah bin Mas'ud berkata, "Maka aku menoleh kepada beliau, ternyata kedua mata beliau berlinang air mata." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa dalamnya kecintaan para sahabat dan Rasulullah ﷺ terhadap Al-Qur'an. Mereka benar-benar menghayati setiap ayat yang dibaca.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersemangatlah membaca dan mendengarkan Al-Qur'an, karena itu adalah ibadah yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya.
  2. Jagalah kemurnian Al-Qur'an dari segala bentuk pengingkaran, baik dari segi lafaz, makna, maupun cara membacanya. Jika ada yang mengingkarinya, bantahlah dengan hujjah yang kuat dan adab yang baik.
  3. Tegakkan hukum Allah dengan tegas tanpa pandang bulu, sebagaimana Abdullah bin Mas'ud menegakkan hukuman had bagi peminum khamr.
  4. Jangan pernah meremehkan bacaan Al-Qur'an, karena setiap hurufnya adalah wahyu dari Allah yang harus dijaga dan diamalkan.
  5. Jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup, bukan sekadar bacaan ritual tanpa pemahaman dan pengamalan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.