Penjelasan Hadits Muslim No. 799 tentang Anjuran membaca Al-Qur'an di hadapan ahli ilmu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu, karena Allah ﷻ secara khusus memerintahkan Nabi ﷺ untuk membacakan Al-Qur'an kepadanya. Ini adalah penghormatan dan pujian dari Allah kepada Ubay. Hadits ini juga mengajarkan adab yang mulia: membacakan Al-Qur'an di hadapan orang yang berilmu untuk diambil manfaatnya, serta betapa dalamnya pengaruh Al-Qur'an di hati orang-orang yang beriman hingga membuat mereka menangis karena takut dan haru kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Anjuran Membaca Al-Qur'an di Hadapan Orang yang Berilmu dan Ahli, no. 799. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, no. 3809, dan Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya, no. 2905.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan keutamaan Ubay bin Ka'ab dan para qari' (pembaca Al-Qur'an):

Allah ﷻ berfirman:

> إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَنْ تَبُورَ

"Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepadanya dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi." (QS. Fathir [35]: 29)

Hadits lain yang terkait:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> أَقْرَؤُهُمْ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ

"Yang paling pandai membaca (Al-Qur'an) di antara mereka adalah Ubay bin Ka'ab." (HR. At-Tirmidzi no. 3795, dan ia berkata: hadits hasan shahih)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Ubay bin Ka'ab dan bolehnya membacakan Al-Qur'an di hadapan orang lain, terutama jika orang tersebut lebih utama atau lebih pandai, sebagai bentuk penghormatan dan untuk mengambil manfaat.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini adalah salah satu dalil keutamaan Ubay bin Ka'ab yang sangat masyhur, dan bahwa Allah ﷻ menyebut namanya secara khusus di hadapan para malaikat.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Keutamaan Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu

Para ulama sepakat bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi Ubay bin Ka'ab. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling pandai membaca Al-Qur'an. Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda: "Ubay bin Ka'ab adalah orang yang paling pandai membaca Al-Qur'an di antara umatku." (HR. Ibnu Majah no. 154)

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan bahwa Ubay bin Ka'ab termasuk salah satu dari empat sahabat yang Rasulullah ﷺ perintahkan untuk mengambil Al-Qur'an dari mereka, sebagaimana dalam hadits riwayat Al-Bukhari.

2. Makna "Allah memerintahkanku untuk membacakan Al-Qur'an kepadamu"

Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah bentuk penghormatan tertinggi. Allah ﷻ memerintahkan Nabi-Nya untuk membacakan wahyu-Nya kepada Ubay, padahal biasanya Nabi ﷺ yang menerima wahyu dan membacakannya kepada orang lain. Ini menunjukkan bahwa Allah ﷻ ingin memuliakan Ubay dengan cara yang istimewa.

Imam An-Nawawi berkata: "Dalam hadits ini terdapat dalil bahwa membacakan Al-Qur'an di hadapan orang yang lebih utama atau yang memiliki keutamaan adalah sesuatu yang dianjurkan, karena Nabi ﷺ membacakan kepada Ubay padahal Nabi ﷺ lebih utama darinya."

3. Pertanyaan Ubay: "Apakah Allah menyebut namaku kepadamu?"

Pertanyaan ini menunjukkan kerinduan dan kecintaan Ubay kepada Allah. Beliau tidak bertanya karena ragu, tetapi karena ingin memastikan kabar gembira ini. Ketika Nabi ﷺ menjawab, "Allah menyebut namamu kepadaku," Ubay pun menangis.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa tangisan Ubay adalah tangisan haru, takut, dan cinta kepada Allah. Ini adalah tangisan orang yang merasa tidak layak mendapatkan kehormatan sebesar itu, namun Allah ﷻ memilihnya.

4. Pelajaran tentang adab dan tawadhu'

Hadits ini juga mengajarkan bahwa seorang yang berilmu tidak boleh sombong. Ubay bin Ka'ab adalah sahabat yang sangat pandai, namun ketika mendengar kabar ini, beliau justru menangis karena merasa takut dan haru, bukan karena bangga. Ini menunjukkan bahwa semakin dalam ilmu seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tangisan karena Al-Qur'an adalah tanda hidupnya hati. Beliau berkata: "Orang-orang yang hatinya hidup, ketika mendengar Al-Qur'an, mereka menangis karena takut kepada Allah dan karena cinta kepada-Nya."

5. Bolehnya membacakan Al-Qur'an di hadapan orang lain

Para ulama menggunakan hadits ini sebagai dalil bahwa membacakan Al-Qur'an di hadapan orang lain adalah perbuatan yang baik, terutama jika orang tersebut lebih pandai atau lebih utama, karena hal ini bisa menjadi sarana untuk saling mengingatkan dan mengambil manfaat.

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam Shahih-nya pada bab "Bab Membacakan Al-Qur'an di Hadapan Orang yang Berilmu dan Ahli", menunjukkan bahwa ini adalah bab yang penting dalam adab menuntut ilmu.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling banyak menghafal Al-Qur'an. Beliau termasuk di antara para penulis wahyu dan salah satu dari empat sahabat yang Rasulullah ﷺ perintahkan untuk mengambil Al-Qur'an dari mereka.

Suatu hari, Rasulullah ﷺ memanggil Ubay dan berkata: "Wahai Abul Mundzir, tahukah kamu ayat apa yang paling agung dalam Kitab Allah?"

Ubay menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu."

Rasulullah ﷺ mengulangi pertanyaannya. Ubay berkata: "Ayat Kursi."

Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Selamat bagimu wahai Abul Mundzir, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sesungguhnya ayat ini memiliki lisan dan dua bibir yang mensucikan Allah di sisi kaki 'Arsy." (HR. Muslim no. 810)

Ini menunjukkan bahwa Ubay bin Ka'ab adalah sahabat yang sangat dalam pemahamannya terhadap Al-Qur'an. Ketika Allah ﷻ memerintahkannya untuk dibacakan Al-Qur'an oleh Nabi ﷺ, beliau menangis karena merasa sangat tersentuh dan takut tidak mampu mensyukuri nikmat yang begitu besar ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Membacakan Al-Qur'an di hadapan orang lain adalah perbuatan mulia, terutama jika orang tersebut lebih pandai atau lebih utama, sebagai bentuk penghormatan dan untuk saling mengambil manfaat.
  2. Menangis karena mendengar Al-Qur'an adalah tanda hidupnya hati dan merupakan sifat orang-orang yang beriman. Kita dianjurkan untuk merenungkan makna ayat-ayat Al-Qur'an agar hati kita tersentuh.
  3. Semakin dalam ilmu seseorang, semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Janganlah ilmu membuat kita sombong, tetapi justru membuat kita semakin tawadhu' dan takut kepada Allah.
  4. Keutamaan para sahabat adalah anugerah dari Allah, dan kita bisa meneladani kecintaan mereka kepada Al-Qur'an dengan memperbanyak membaca, menghafal, dan merenungkan maknanya.
  5. Hadits ini juga menunjukkan bahwa Allah ﷻ memuliakan hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beribadah dan mencintai Al-Qur'an.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?