Penjelasan Hadits Muslim No. 797 tentang Perumpamaan mukmin dan munafik dalam membaca Al-Qur'an

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah sabda Nabi ﷺ yang menggambarkan empat tipe manusia terkait hubungan mereka dengan Al-Qur'an dan keimanan. Intinya, hadits ini mengajarkan bahwa iman dan amal membaca Al-Qur'an adalah dua hal yang mulia. Sebaik-baik manusia adalah mukmin yang membaca Al-Qur'an, karena ia memiliki iman (manis) dan bacaan Al-Qur'an (wangi). Adapun orang munafik, meskipun ia membaca Al-Qur'an, hal itu tidak bermanfaat baginya karena hatinya kosong dari iman, seperti tanaman yang harum tapi pahit rasanya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Keutamaan Penghafal Al-Qur'an, no. 797, dari sahabat Abu Musa Al-Ash'ari radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang relevan sebagai penguat bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk dan cahaya bagi orang beriman:

QS. Al-Baqarah [2]: 2

ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ

"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa."

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang tabi'in dan ulama tafsir terkemuka) dari Anas bin Malik, dari Abu Musa Al-Ash'ari. Penjelasan tentang perumpamaan dalam hadits ini banyak diulas oleh para ulama, di antaranya:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna setiap perumpamaan ini secara rinci.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani juga menyinggung hadits ini dalam Fathul Bari saat menjelaskan bab-bab keutamaan Al-Qur'an.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung empat perumpamaan yang sangat dalam. Mari kita bedah satu per satu:

1. Mukmin yang membaca Al-Qur'an: seperti buah utrujjah (jeruk)

Buah ini memiliki dua keistimewaan: baunya harum dan rasanya manis. Ini adalah gambaran orang yang memiliki dua kebaikan sekaligus: keimanan yang benar di hatinya (manis) dan amal membaca Al-Qur'an yang keluar dari lisannya (harum). Ia bermanfaat bagi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

2. Mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an: seperti buah tamr (kurma)

Kurma rasanya manis tetapi tidak memiliki aroma. Ini adalah orang beriman yang hatinya dipenuhi keimanan (manis), namun ia tidak membaca Al-Qur'an. Ia tetap memiliki kebaikan iman, tetapi tidak memberikan manfaat bacaan Al-Qur'an kepada orang lain, dan ia kehilangan keutamaan besar membaca Al-Qur'an.

3. Munafik yang membaca Al-Qur'an: seperti ar-rihanah (kemangi/tanaman harum)

Tanaman ini baunya harum tetapi rasanya pahit. Ini adalah orang yang lahirnya membaca Al-Qur'an (harum di mata manusia), tetapi hatinya kosong dari iman (pahit). Bacaan Al-Qur'an-nya tidak bermanfaat baginya di akhirat karena ia tidak beriman.

4. Munafik yang tidak membaca Al-Qur'an: seperti al-hanzhalah (buah pare/colocynth)

Buah ini tidak berbau dan rasanya sangat pahit. Ini adalah seburuk-buruk keadaan: tidak memiliki iman dan tidak memiliki amal bacaan Al-Qur'an. Ia tidak bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain.

Penjelasan ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (6/69) menjelaskan bahwa perumpamaan ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an bagi mukmin, dan bahwa orang munafik yang membaca Al-Qur'an tetap tercela karena kekufurannya, meskipun manusia mungkin terpedaya oleh bacaannya.
  • Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya tentang keutamaan ilmu dan Al-Qur'an menjelaskan bahwa hadits ini mendorong seorang mukmin untuk tidak hanya beriman, tetapi juga membaca dan mengamalkan Al-Qur'an agar ia menjadi seperti utrujjah yang harum dan manis.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya sering menekankan bahwa Al-Qur'an adalah cahaya yang hanya bermanfaat bagi hati yang hidup, sebagaimana iman adalah akar yang harus disiram dengan Al-Qur'an.

Pelajaran penting: Hadits ini tidak sedang merendahkan mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an, tetapi memotivasi agar setiap mukmin berusaha membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur'an. Adapun menyebut munafik dalam hadits ini adalah untuk menunjukkan bahwa bacaan Al-Qur'an tanpa iman tidak akan menyelamatkan seseorang.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Ash'ari radhiyallahu 'anhu, perawi hadits ini, adalah salah satu sahabat yang paling indah suaranya dalam membaca Al-Qur'an. Suatu hari, Nabi ﷺ mendengar beliau membaca Al-Qur'an di malam hari, lalu beliau berhenti dan mendengarkannya. Keesokan harinya, Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Wahai Abu Musa, sesungguhnya engkau telah diberikan salah satu seruling dari seruling-seruling keluarga Daud." (HR. Bukhari dan Muslim).

Abu Musa pun menangis karena terharu. Beliau adalah contoh nyata seorang mukmin yang membaca Al-Qur'an — imannya kokoh, suaranya indah, dan bacaannya menyentuh hati. Ini adalah buah dari keimanan yang dipadukan dengan bacaan Al-Qur'an, sebagaimana perumpamaan utrujjah dalam hadits di atas.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadilah mukmin yang membaca Al-Qur'an — gabungkan iman di hati dengan bacaan Al-Qur'an di lisan, agar hidup kita harum dan bermanfaat.
  2. Jangan berhenti membaca Al-Qur'an meskipun kita merasa belum sempurna iman kita — karena mukmin yang tidak membaca Al-Qur'an tetap baik, tetapi kehilangan keutamaan besar.
  3. Ikhlaslah dalam membaca — jangan sampai bacaan Al-Qur'an hanya untuk pamer atau mencari pujian manusia, karena itu ciri kemunafikan.
  4. Perbaiki hati dan amal — karena Al-Qur'an hanya bermanfaat bagi hati yang beriman.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?